Jan 8, 2015

Kisah Rakyat Kecil dan Beban Hidup yang Mencekik

Alhamdulillah kedatangan mertua. Walau cuma 3 hari namun sudah mampu melepaskan dahaga rindu dari orang tua ke anaknya yakni istri saya. Hari ini sore-sore habis cari tiket KA untuk mudik dan mengantar mertua pulang kampung, kelas bisnis ternyata harganya selangit. Kemudian memutuskan membeli 7 tiket KA Ekonomi yang sebelumnya @35.000 naik menjadi @125.000 X 7 = 800 ribuan. Ada yang lebih murah dikit sih, tetapi katanya sudah habis. Saya jadi geleng-geleng kepala, 7 tiket yang sebelumnya terbeli dengan Rp. 150.000an, kemudian meroket menjadi 800.000an..

Ternyata setelah mencari tahu tiket KA Ekonomi sudah tidak disubsidi lagi per 1 Januari 2015 sehingga menyebabkan harganya meroket tajam. Buat kami Insya Allah masih kebeli, namun bagaimana dengan rakyat kecil? Perasaan belum sembuh luka lama akibat BBM, Gas, Listrik, Sembako dll, namun sudah harus terkoyak lagi. Perasaan belum kering air mata, tetapi harus menetes lagi.

Bicara listrik Alhamdulillah bagi kami sudah tidak ada masalah, karena dengan join bisnis Paytren maka masalah listri dll masih aman. Selama ini listrik (Token) kami tidak pernah membeli. Namun saya trenyuh juga mendengar keluhan tetangga sebelah yang membeli token 100.000 tidak cukup untuk seminggu. Sampai-sampai tetangga saya tersebut berkata, "Ya Allah", dimana menggambarkan betapa beratnya beban yang harus ditanggung.

Ada lagi tetangga kami yang terpaksa harus gulung tikar dari bisnis pecel lelenya karena sudah tidak mampu lagi membayar sewa tempat. Katanya harga cabe selangit, plus lain-lain sementara keuntungan sudah tidak masuk akal. Walau BBM sudah turun namun harga kebutuhan pokok nyatanya enggan sekali untuk turun barang seperak. Bukan pamer, namun ini kenyataan bahwasanya kami harus menanggung sebagian beban hidup beliau. Boro-boro beli HP baru, orang buat makan besok saja tidak tahu.. Lalu ketika benar-benar sudah tidak ada yang dimakan, datanglah beliau ke rumah saya dengan senyum kaku dan getir tersungging dari bibirnya. Sebelum beliau bicara saya sudah memotong duluan,

"Udah Mas, nggak usah ngomong, saya tahu kok. Hari ini puasa khan? Ayuk berbuka sama saya". Miris ngelihatnya.. Karena tidak ada nasi yang dimakan lalu puasa. Dan tahukah anda ini bukan sinetron, tetapi kisah yang nyata adanya.

"Anak saya belum bayar sekolah Mas, sudah telat dan saya dipanggil. Saya malu.." Kata tetangga saya..

Saya hampir-hampir tidak percaya, seorang laki-laki setengah baya umur 45 tahun matanya berkaca-kaca. Serasa ada kesedihan, kemarahan, dendam dsb dalam dadanya. Atau sebagaimana hati yang hancur sebab cinta tak terbalas.

Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam dada kami, sudah tidak bisa dilukiskan lagi. Nano-nano kayak permen. Namun ada satu perasaan syukur kepada Ilahi. Paling tidak segala beban hidup yang semakin mencekik mulai menyadarkan kita bahwa, hanya kepada Tuhan lah kita berharap. Bukan kepada pemerintah, presiden, subsidi, bantuan dan segala macam lainnya yang kenyataannya jauh dari harapan. Paling tidak mata yang selama ini merem sudah mulai terbuka bahwa berharap kepada manusia pasti kecewa, namun berharap kepada Tuhan hati menjadi tenang.

Ini hanya secuil contoh gambaran masyarakat yang sedang sekarat. Mudah-mudahan hanya dilingkungan kami saja, tidak ditempat anda. Paling tidak secuil kisah ini, sedikit banyak bisa mengikis karang dalam hatimu. Bahwa hidup tidak sekedar isi dompetmu yang selalu tebal, namun jauh disana masih banyak yang 3 hari kosong. Bukan kosong dompetnya namun kosong perutnya. Mengapa selalu saja memberi penilaian dari sudut pandang diri sendiri? Mengapa kita tidak mencoba untuk mengerti dan berempati?

Begitulah kisah kami, syukur-syukur memberi arti. Bahwa kita ini banyak sekali yang masih memikirkan diri sendiri. Merasa benar sendiri, padahal tidak selamanya begitu. Bisa jadi anda salah dengan paradigma anda selama ini namun tidak sadar. Lalu hati anda yang keras semakin membuat kebenaran menurut hawa nafsu anda sendiri dipegang dengan kuat2. Memegang kebenaran yang disandarkan dari logika dan pikiran anda sendiri. Padahal kebenaran menuruti logika adalah semu. Hanya kebenaran Tuhan lah yang bersifat mutlak.



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment