Jan 8, 2015

Bagaimana Etika Diskusi dalam Islam?

Dialog, diskusi, meeting dan aktifitas semacamnya sudah tiap hari kita lakukan. Beragam sifat, beragam kharakter membuat suasana diskusi menjadi berwarna. Ada yang berakhir manis dengan sebuah solusi yang baik, ada pula yang berakhir dengan percekcokan. Memang ada? Ada dong...

Khan tadi dibilang beda-beda sifat beda kharakter. Menemukan solusi dari berbagai orang dengan sifat yang berlainan tidak mudah lho? Perlu seorang figur pemimpin/ leader yang dewasa dan bijaksana, didalam mengerem dan mengendalikan suasan diskusi yang kadangkala mulai panas.

Ada yang didalam diskusi tersebut mau terlihat sok cerdas, sok jago, sok berpendidikan dan lain sebagainya, banyak juga yang baik dan tetap low profile. Ada yang nyinyir singgung sana singgung sini dan merasa pendapat peserta lainnya tidak berbobot, sehingga merendahkan yang lain. Tentu saja hal ini bisa memicu suasana menjadi semakin panas.

Semua sebenarnya tergantung niat awal dari peserta diskusi. Kalau niatnya biar terlihat jago menjadi tidak bener. Seyogyanya niatnya adalah mencari tambahan ilmu, mencari solusi, sehingga diskusi bisa berjalan lancar.

Ada twitt dari Ustadz Yusuf Mansur yang menkritik mereka yang diskusi dengan niat yang tidak baik.



Sebagai seorang pendakwah memang memerlukan kuping yang tebal agar kata-kata nyinyir jamaah tidak membuat kupingnya merah. Perlu pengendalian diri yang luar biasa. demikian pula seorang pemimpin organisasi dan kemasyarakatan yang mana tidak dibayar namun harus menanggung komplain serta cacimaki anggotanya.

Bagaimana etika diskusi dalam Islam?

Pertama bicaralah yang baik-baik saja. Kalau dirasa tidak bisa bicara baik maka lebih baik diam.

Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam (HR. Bukhari Muslim)

Sampaikan dengan bijaksana.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS an-Nahl: 125)

Hindari perkataan buruk dan nyinyir.

Bukanlah seorang mukmin jika suka mencela, melaknat dan berkata-kata keji (HR. Tirmidzi)

Hindari tujuan berdebat dan membantah tanpa jelas solusinya

“Tidak ada satu kaum yang tersesat setelah mendapat petunjuk, melainkan karena mereka suka berdebat” Kemudian Rasulullah saw membaca ayat: “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. [QS Az-Zukhruf: 58]” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Dan tahukah anda bahwa jawaban atau hujjah terbaik adalah Al Qur'an. Oleh karena itu sudah saatnya mulai saat ini kita belajar dan mentadabburi Al Qur'an, agar hujjah kita memiliki sandaran yang kuat.

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an (QS az-Zumar: 23)

Sumber dalil disini



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment