Dec 29, 2014

Rahasia Manajemen Nafsu Yang Terlupakan Bagian 1

Merenung..... Ini hal yang jarang sekali kita lakukan. Padahal kalau kita sering merenung dan tafakur Insya Allah akan terbuka tuh pemahaman baru. Kita jarang merenung dan tafakur disebabkan banyak hal, misalnya kesibukan dan rutinitas. Rutinitas yang membosankan hidup kita ini, tetapi tetap saja kita keras kepala mengikuti rutinitas yang melelahkan tersebut selama puluhan tahun. Sekali-kali merenung lah... Silahkan keluar malam hari sambil liatin bintang dilangit. Biar saja dikatain orang "lagi stress", karena Insya Allah sebenarnya anda sedang dalam penyembuhan dari penyakit gila yang selama ini tidak kita sadari.

Aktifitas muhasabah diri sebenarnya adalah kegiatan mencari. Mencari apa? Menjari diri kita sendiri yang sudah lama hilang. Punya otak kayak nggak punya pikiran, karena hanya harta benda yang ada dibayangan. Punya hati kayak nggak punya keyakinan. Buktinya hidup anda tidak mulia dan bahagia. Dataaaaarrrr saja, padahal sejatinya anda bisa lebih dari apa yang ada sekarang. Ya khan, ya khan, ya khan??? hehehe

Punya otak seharusnya dimanfaatkan untuk berpikir jernih dalam bingkai belajar dan tafakur, namun kita sering menggunakannya untuk hal lain yang kurang manfaat. Paling banter hanya berisi, "Cara bagaimana mengoperasikan mesin". Soalnya saudara saya seperti itu, mesiiin melulu yang dipegang, karena kerjaanya operator mesin :). Selebihnya kita malah seringkali memasukkan database spam atau sampah ke dalam otak. Nonton TV, ngerumpi, gaple, piktor, pitenah, ragenah, payah, luna mayah.. Nah terakhir itu yang asyik.. hehehe.

Punya hati kayak nggak punya nurani, seharusnya digunakan untuk mencari jati diri dengan rasa sejati.... Iri, dengki, hasad, marah, emosi, pamer, sombong dsb. Ini nyatanya begitu mendominasi perasaan dalam hati. Seharusnya khan tempat iman dan keyakinan tuh dihati, bukan malah dirubah-rubah dengan perkataan, "Sakitnya tuh disini". Alay banget... Naah pembahasan tentang nafsu dan rasa sejati ada di magis7, kalau mau tahu rahasianya klik disini

Ada teman saya yang ngeluh, "Hadeh Mas, hidup kok kek gini, puluhan tahun dan mungkin sampai is dead giniiiiii aja. Ya sudahlah sabar dan sukur ajah". Lho kok???? Kalau mau berubah hidupnya ya bergerak dong. Bagus sih bagus, sabar dan ikhlas itu bagus. Tetapi konsepnya bukan kayak gitu. Ini namanya menghibur diri sendiri dengan mengatakan "ya sudahlah", kayak sudah persis Bondan Prakoso saja.

Anyway, hidup ini sebenarnya isinya apa sih? Apa coba? Berdasarkan perenungan kami pribadi dan belajar dari berbagai sumber ternyata hidup ini adalah pelarian. Nah lho??? Pelarian seperti apa? Yakni pelarian keinginan (Nafsu) untuk menuju tempat lain yang lebih comfort (bacanya dimonyongin). Bingung khan?? Hehehe...

Biar tidak bingung ijinkan saya menganalogi bahwa tujuan kehidupan manusia itu sama sebagaimana hewan. Lihat saja kambing, sapi, ayam atau hewan apapun disekitar anda. Hewan itu isinya nafsu semua, jadinya melampiaskan keinginan dimana saja, kapan saja. Itulah tujuan manusia yakni menyalurkan nafsu dan kesenangan, serta menghindari penderitaan dan kesusahan. Fitrah manusia adalah keinginan untuk hidup abadi dalam kesenangan. Egois...

Nafsu itu isinya adalah keinginan, tidak ada yang lain. Dan keinginan itu selalu saja liar dan tidak bisa dikendalikan. Sekali lagi lihatlah hewan atau binatang disekitar anda. Nggak ada yang beda nafsu manusia dan nafsu binatang. Sori jangan tersinggung dengan kenyataan ini :).Tetapi nafsu manusia bisa menjadi mulia, beda dengan hewan. Sebelum membahas hal ini marilah kita cek lagi, apa saja sih keinginan manusia? Simak baik-baik...
  • Nafsu perut. Maunya makan enak, sesuai selera. Kalau tidak enak tidak dimakan, malah dibuang-buang.
  • Nafsu bawah perut. Tau sendiri lah, silahkan dijabarkan sendiri... :). Bawah perut dengkul dong Mas? Au ah.. :)
  • Status sosial. Misalnya ingin kaya, ingin rumah yang besar, mobil yang mewah, ingin berkuasa dll.

Paling tidak ketiga nafsu diatas sedikit mewakili bahwa manusia itu isinya adalah keinginan dan keinginan yang seakan-akan tidak ada habisnya. Bangun tidur ingin ngopi, habis itu mandi lalu ngaca dan memoles badan dan wajah supaya cantik/ ganteng, wangi dan sempurna. Padahal dalam hal penampilan tidak akan ada yang sempurna. Sehabis wangi, cantik dan segar lalu berangkat kerja dengan harapan gaji bulanan, naik karier kemudian jadi orang kaya dengan status sosial yang tinggi. Selepas kerja lalu bercengkerama dengan keluarga. Malam harinya ingin mengurangi stress dengan ngobrol dan ngopi-ngopi sama tetangga sebelah sambil main gaple... Tengah malam capek, lalu pulang dan tidur. Esok lagi begituuuuu terus. Jadi aktifitasnya hanya rumah kantor, kantor rumah, rumah kantor, kantor rumah... Jadi bosan, kalau ada yang bilang tidak bosan pasti bohong. Karena nafsu itu gampang bosannya, kecuali nafsu yang sudah bisa dikendalikan.

Keinginan sebagai sebuah software default manusia, yakni kecenderungan untuk menyukai sesuatu dan ingin memilikinya. Jodoh, anak, harta benda, rumah, kendaraan, properti dan lain sebagainya. Namun sayang sejuta sayang hampir kebanyakan manusia tidak mampu memiliki apa-apa yang mereka inginkan. Hanya sedikit sekali keinginan mereka yang bisa dinikmati dan didapatkan. Oleh karenanya kemudian keinginan untuk memiliki sesuatu diperjalankan dengan cara-cara yang tidak baik. Misalnya mencuri, merampok, memperkosa, kudeta dsb. Yah, begitulah nafsu, karena kelemahannya maka ia mencari segala cara tidak peduli baik atau buruk yang penting keinginannya terlampiaskan.Puasssss... Begitu kata nafsu.

Kesedihan, ketakutan, kekhawatiran, cemas, panik, was-was dsb sebenarnya adalah sinyal yang dikirimkan oleh nafsu. Sinyal ketakutan jikalau keinginan itu tidak bisa terwujud. Oleh karena kelemahan itulah kecenderungan nafsu akan mengajak anda kepada jalan yang buruk. Liar itu nafsu, suka nabrak sana nabrak sini. Nggak tahu aturan, yang ada adalah aturan dirinya sendiri. Egois memang... Tapi inilah fitrah nafsu. Jahiliah banget-banget... Nafsu saya dan anda benar-benar jahiliah..

Nah bagian ini penting dan harus anda baca dengan seksama. Kalau hewan isinya khan nafsu full 100% maka kalau manusia isinya juga sama... Hehehe. Maksudnya nafsu full pada manusia itu diapit oleh 2 sosok. Dan sosok itu menjadi pembeda antara hewan dan manusia. Jadi pembeda... pembeda dan pembeda.. 2 bodiguard nafsu inilah yang akan mengantarkan manusia kepada kemuliaan yang tinggi atau kehinaan yang bahkan lebih rendah dari binatang.

Ternyata nafsu manusia itu dikawal. Ada pengawal yang akan terus saja mengawal anda dari lahir sampai meninggal dunia, menyatu dalam tubuh. Sudah inject dari sononya. "Sono nya dimana Mas?". Di jonggol :). Baca baik-baik, pengawal nafsu adalah OTAK dan HATI. Otak berisi akal dan hati berisi keyakinan. Baca sampai paham benar ya?

Akal itu bersifat matematis, sementara hati bersifat intuitif. "Gimana caranya kaya ya? Kayaknya susah deh. Kecuali ngerampok". Ini kecenderungan nafsu. Lalu akal menjawab, "Hei hey.... kalau mau kaya ya belajar dong, belajar bisnis, belajar skill dsb. Lakukan dengan komitmen dan konsisten". Kemudian hati menimpali, "Yap, kamu berpeluang untuk kaya kedepannya jika mau belajar dengan sungguh-sungguh. Entah 2 tahun, 3 tahun atau 10 tahun kamu berpeluang mendapatkannya".

Lalu apakah nafsu akan mengikuti drive atau kendali dari akal dan hati, atau salah satunya? Bisa iya bisa juga tidak, namun pada titik tertentu lebih banyak tidaknya. "10 tahun??? lama bangetz??, nggak sabar saya" Gitu kata nafsu. Pada titik tertentu nafsu akan memberontak dan liar kembali, nabrak sana nabrak sini. Karena akal dan hati tidak memberikan jaminan apapun, hanya memberikan peluang yang bisa jadi iya bisa juga tidak. Karena kecenderungannya liar maka sampailah ia ditempat yang sangat tidak diinginkan, yakni jurang kehancuran.

Sehingga ketika ketakutan dan kekhawatiran sudah menyebar diseluruh syaraf tubuh, ketika nasib sudah hampir diujung tanduk, ketika nyawa tinggal sejengkal, ketika maju salah mundurpun salah, dan ketika nampaknya sudah tidak ada lagi jalan keluar bagi keinginan maka menyerulah nafsu tersebut.. "Yaaa Allah"..

Allah swt berfirman,

...dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul, (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Al A’raf: 172)

Naaaaaahhh, ketemu deh jawabannya. Ternyata default dari nafsu adalah ber Tuhan (Alastu Birobbikum). Inilah software yang biasanya terinstall ketika semuanya sudah buntu. Ketika nampaknya sudah tidak ada lagi jalan keluar. Ketika akal dan hati sudah tumpul. Ketika software ber Tuhan ini sudah mulai terinstall, maka ia akan memicu akal dan hati, menggetarkannya yang menyebabkan keduanya menjadi cerdas luar biasa. Dan inilah nantinya yang akan membantu mendrive nafsu supaya berlari sesuai dengan tracknya agar segala keinginan bisa terwujud dengan sebuah jaminan/ garansi.
 Ternyata hasil dari muhasabah diri adalah menemukan Tuhan yang hilang dari diri kita.
Ya memang begitulah. Nafsu baru mengakui adanya Tuhan ketika sudah nyaris tewas. Kalau belum terdesak boro-boro dah.. Kalau tidak percaya tunjuk saja hidung anda sendiri... Hehehe. Bahkan dalam sebuah atsar disebutkan bahwa nafsu manusia dibakar selama 1000 tahun untuk mengakui adanya Tuhan pun belum mau mengakuinya. Dibakar lagi 1000 tahun dineraka lain yang jauh lebih panas, masih keras kepala. Baru kemudian ketika dibakar 1000 tahun yang ke tiga dalam neraka yang paling panas maka berucaplah ia (nafsu), "Engkau adalah Allah, Tuhan Seluruh Alam, sedangkan aku adalah hamba_Mu yang lemah".

Akal dan hati yang kenal dan dekat dengan Tuhan ibarat malaikat yang akan terus saja mengingatkan nafsu ketika ia mulai menjadi liar. Mengingatkan untuk terus bersabar didalam menjalani track atau jalan Tuhan yang seringkali tidak sesuai dengan keinginannya. Karena hanya dengan begitulah maka segala keinginan nafsu akan menemukan pelampiasan pada tempatnya. Pelampiasan yang beradab dan mulia. Karena dengan mengikuti track Tuhan saja maka si manusia itu sendiri akan menjadi mahluk yang hebat, tangguh, besar, kaya dan bermakna bagi sesama dan semesta alam. Hanya dengan berkomitmen untuk percaya kepada Tuhan saja maka kenikmatan abadi sebagai sebuah fitrah kemanusiaan akan menemukan rute yang bergaransi. Jika nafsu mampu menjalani segenap rute perjalanannya maka ketika sampai finish, jadilah ia "Nafsu/ Jiwa yang tenang" dan layak mendapatkan reward berupa kenikmatan abadi selama-lamanya.

Jadi inilah sebenarnya tujuan hidup kita, bukan memburu kesenangan sesaat yang sebenarnya menipu namun memperjalankan dan menyempurnakan nafsu yang liar menjadi nafsu yang tenang untuk kemudian mendapatkan balasan berupa Jannah yang full 100% berisi kenikmatan. Kata Pak Mario, "Begitu ya? Super sekaliiii" :)

Pembahasan ini menjadi sangat menarik. Asli sangat menarik... Ulasan yang sangat dalam dan perlu sekali anda baca kemudian pahami dengan sebaik-baiknya. Insya Allah akan saya sambung artikel ini dikesempatan yang lain. Oleh karenanya jangan lupa sering berkunjung ke blog saya. Supaya anda tidak lupa ijinkan saya yang meremind anda. Yakni dengan cara mengirimkan anda email secara berkala, dimana semuanya berkaitan dengan manajemen nafsu. Silahkan klik disini kemudian isi nama dan email, simpel.



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment