Dec 29, 2014

Penting Mana, Ilmu Agama Atau Akhlak Yang Mulia?

Lain orang lain sifat dan kharakter. Sungguh susah merubah kharakter orang lain kecuali hanya mereka-mereka yang memang sangat bijaksana didalam memberikan nasehat. Dan nasehat terbaik sepanjang masa adalah Al Qur'an. Umar Bin Khatab ra saja yang sangat keras menjadi lunak ketika mendengar lantunan ayat Al Qur'an.

Lain orang lain sifat dan kharakter, Misalnya contoh berikut ini,
  • Dulah Kasan, selalu jamaah di masjid, namun menutup diri di rumah
  • Ustadz Jenuri, belajar agama sampai timur tengah, hobinya larang ini dan itu
  • Kasiman, terlihat bodoh dalam hal agama namun baik orangnya
  • Rohman, fans maulid dan tahlilan, antipati sama salafi
 
Itu kawan2 saya.. Ada satu lagi kawan saya. Selalu jamaah dimasjid, semangat belajar agamanya tinggi, tidak keras memaksakan hukum tetapi dialog dulu, suka bergaul dengan siapa saja, baik hati dan suka menolong. Agamanya baik apalagi ahlaknya sungguh mulia. Siapa dia? Insya Allah dia adalah anda. Amin

Rosulullah saw pernah bersabda, “Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Sumber hadist disini

Jadi marilah kita belajar untuk memiliki akhlak yang mulia. Caranya gimana? Ada banyak cara, salah satunya adalah mengendalikan hawa nafsu.
> Mau marah ditahan, ganti dengan senyuman.
> Mau ngomong orang lain or ngerumpi, di empet. Ganti dengan bicara yang positif.
> Mau berkata bohong, direm. Gantin dengan kejujuran.
> Mau mencuri, dibatalin. Ganti dengan menolong sesama.
> Menetralkan iri, dengki, hasad, takabur, pamer, dsb dengan iklhas, sabar, syukur.


Biasanya orang tidak peduli dengan ilmu agama anda, yang dipedulikan adalah akhlak anda. 
  • Orang yang sering jamaah dimasjid, namun keras kepala dan suka permusuhan akan lebih dibenci dari pada orang yang biasa saja namun tidak neko-neko. Bisa jadi jamaah masjid dalam track yang benar, namun dakwah dengan kekerasan tetap tidak bisa dibenarkan. Tidak akan ada yang mau mendekati anda. Coba cek dalam dada anda apakah ada kelembutan dalam dakwah.
  • Ustadz yang suka larang maulid atau tahlil biasanya tidak disukai. Bukan tentang bicara, "kamu bid'ah dan masuk neraka", tetapi bagaimana melakukan dialog yang bijaksana, ini lebih dihargai.
  • Orang yang suka tahlil namun benci sama salafi juga tidak disukai. Bukan tentang siapa yang benar, tetapi tentang sikap bagaimana menghadapi perbedaan.
  • Orang yang ilmu agamanya sangat baik namun suka mengurung dikamar bisa disangka teroris padahal bukan. Kenapa tidak keluar kemudian menyebarkan ilmunya dengan baik-baik?
  • Orang biasa namun baik hatinya, inipun belum sempurna. Perlu ilmu untuk beramal. Kebaikan anda bahkan bisa terkikis lalu hilang jika tidak ada ilmu yang melatar belakanginya.

Karena kita muslim, dan panduannya adalah Al Qur'an serta sunnah Nabi saw, maka seharusnyalah ibadahnya baik, kemudian memicu aktifitas muamallah. Yaitu bermuamalah dengan baik kepada sesama, serta memperlihatkan akhlak yang mulia, sebagaimana akhlak Nabi saw. Apa akhlak Nabi saw? Yaitu Al Qur'an. Sehingga ketika ada orang yang bertanya, "Waah dia baik hati dan mulia sekali, siapa dia?". Kemudian ada jawaban, "Dia adalah si Fulan, dan katanya Islam memerintahkan untuk berbuat sebaik-baiknya untuk sesama dan semesta alam". Kalau begini khan keren.. :). Akan banyak yang simpati, dan akan lebih banyak orang yang ingin mendalami Islam.

Oleh karena itu sudah saatnya kita belajar agama kemudian mempraktekkan ajarannya dalam kehidupan ibadah dan muammalah. Ini wajib bagi muslim, karena misi kita adalah rahmat semesta alam. Menjadi manfaat buat sesama dan segenap mahluk termasuk hewan dan tumbuhan. 



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment