Dec 21, 2014

Nasehat Teruntuk Jokowi Lovers yang Ku Cintai

Ini sebuah kisah nyata dengan sedikit editan. Judulnya nasehat untuk Jokowi lovers yang kucintai. Sebenarnya bukan hanya untuk Jokowi Lovers tetapi juga kepada Prabowo Lovers yang niat memilihnya tidak lurus. Tidak hendak memprofokasi siapapun baik itu pendukung A maupun B. Hanya mengajak ummat Islam berpikir jernih, yakni sudah benarkah keislaman anda? Kalau sudah benar apakah anda sudah tunduk kepada aturan Allah swt? Kalau belum benar-benar tunduk, maaf, keislaman anda masih lemah dan perlu dipertanyakan...


Saya punya tetangga cukup jauh anggap saja, Budi namanya, seorang Jokowi Lovers. Pada saat pilpres kami mencoba memberikan pemahaman kepada beliau dan teman2nya bahwa pilpres kali ini bukan masalah Prabowo atau Jokowi, tetapi lebih kepada patuh dan tunduk pada Firman Allah swt yang melarang memilih pemimpin non muslim. Karena memilih Jokowi sama saja dengan memilih Ahok yang non muslim atau Kristen. Sekali lagi saya tekankan dan tegaskan, Bukan tentang Prabowo dan Jokowi, tetapi ini tentang tunduk kepada aturan Allah swt atau tidak..Kita sepakat akan hal ini ya?

Alhamdulillah saat saya menyampaikan pesan Al Qur'an ditentang secara massif dengan berbagai alasan.  "Lebih baik non muslim tapi bersih, dari pada muslim tapi banyak korupsi" Kata Pak Budi dan teman-temannya.  
"Sorri Mas, ini bukan masalah Prabowo dan Jokowi, tetapi ini masalah aturan Allah. So, jangan mendebat saya Mas, debatlah Allah, saya hanya menyampaikan" kata saya waktu itu.

"Pilihan sampeyan pasti kalah, saya jamin. Kenapa tidak pilih Jokowi yang pro rakyat? Sampeyan ndak usah ngambil dalil, kita ini lebih tahu" Kata mereka
"Saya dulu sempat terpengaruh oleh media dan Jokowi lho Mas, malah saya banyak menulis tentang beliau yang pro rakyat. Alhamdulillah sekarang sudah berubah tidak pro Jokowi lagi, tetapi Pro Allah. Kalah menang itu takdir Allah Mas, yang penting kita sudah belajar dan membuktikan bagaimana tunduk kepada perintah_Nya" Jawab saya

"Hadeh Bapak yang pintar. Kyai ini dan itu saja pilih Jokowi kok. Jangan sok pintar deh?" Kata mereka
"Maaf ya Mas, mungkin saya sok pintar, nanti coba saya renungkan lagi. Tetapi anda khan hanya membaca dari media khan? Padahal banyak media yang saat ini condong ke calon tertentu. Terlepas benar atau tidak berita tersebut, alangkah baiknya kita baca sumbernya yakni Qur'an, lalu tunduk apa yang ada didalamnya" Jawab saya

Padahal sebelumnya kami sahabat dekat, malahan beliau sering ke Masjid untuk jamaah sholat. Oleh karena kita sahabat maka saya hendak menyampaikan pesan Qur'an. Tapi jujur saya tidak menyangka, tanggapannya massif dan sangat negatif. Beberapa saat hati ini terluka oleh sahabat sendiri namun kemudian sadar bahwa niat saya karena Allah, jadi tidak usah dipikirkan. Pas kemenangan Jokowi beliau girang bukan kepalang dan seakan-akan merendahkan kami. Saya ucapkan, "Selamat ya? Semoga pilihanmu tepat". 

Hari ini dia SMS. Isi kurang lebih gini

"Mikum" Katanya
"Waalaikum salam, ada apa Mas?" Jawab saya
"Saya malu Pak, tapi sudah nggak tahu harus pegimana? Saya mau jualan lagi tapi nggak ada modal. Malu saya Pak, hutang sebelumnya belum dibayar, tapi mau hutang lagi sama Bapak kalau berkenan" Kata Pak Budi.

Ternyata beliau mau hutang. Padahal sudah hutang ke kami dan melalui kami kayaknya sudah lebih dari 5 kali. 2 hutang terakhir berjumlah jutaan belum dibayarkan. Beliau hanya berani ngadu masalah ekonomi ke saya, bukan ke yang lain. Alhamdulillah sih.. Beliau sudah dagang beberapa kali dan selalu bangkrut. Padahal modalnya dari saya... :(. Ini mau minjam lagi.

Sudah beberapa bulan ini yakni selepas pilpres kehidupannya memang sempit banget. Bahkan sekedar rokok pun saya sering membelikannya. Seringkali tengah malam didepan rumah saya sambil batuk-batuk, seperti sebuah kode bahwa beliau didepan rumah saya namun malu untuk bertamu. Walaupun tengah malam saya keluar juga. Ternyata beliau belum ngerokok dari pagi. Buat para perokok menjadi sangat berat lho, tidak ngerokok dari pagi. Mulut rasanya asem. Ngobrol sana dan sini sambil saya sisipkan motivasi supaya jangan mudah menyerah. Jangan mudah berputus asa dari rahmat Allah swt.

"Ooh gitu.. Ntar kita cari bareng-bareng ya? Si Bambang mungkin ada uang" Jawab saya. Bambang adalah temannya yang pro Jokowi
"Nggak enak Mas.. Malu saya" Jawabnya. Padahal dulunya sangat dekat kayak perangko sama amplop sewaktu menjelang pilpress. Dekaaat bingits

"Si Rudi gimana. Dia khan orang kaya?" Kata saya. Kalau Rudi dulunya pro prabowo.
"Waah rudi mah pelit Mas. Dia mah itungan banget. Apalagi dulu pernah berantem gara-gara pilpres" Jawabnya. Rudi dulu Pro Prabowo dan pernah keduanya berantem gara-gara pilpres. Jadinya persahabatan mereka renggang saat ini. Kacau...!

Saya kepikiran njawab begini, "Lho, dulu ente juga ngajak berantem saya ane khan? Coz ane tidak pro Jokowi maupun pro Prabowo, ane hanya pro sama Allah. Dulu ente ngajak berantem cuman ane nggak ladenin, orang kita tetanggaan. Sekarang berani-beraninya datang ke rumah saya, mau hutang. Sudah berkali-kali hutang namun nggak ente bayar" Tetapi saya orangnya nggak tegaan. Nggak bisa gituan. Paling saya bilangin, "Sabar ya Mas, Insya Allah ada hikmahnya"

Lalu beliau melanjutkan SMS nya. "Hadeh Mas hidup kok kek gini. Bensin naik, gas naik, listrik naik, ampun-ampun dah. Mana Bang Harian/ Rentenir tiap hari nagih, nyekik leher Mas.Pahiiit banget..Ya Allah kok bisa jadi begini, apa salah saya..?" Jawabnya.

Saya kaget sewaktu mendengar beliau pinjam ke rentenir setengah tertawa. Sampai sebegitunya, padahal sebelum pilpres tidak gitu-gitu amat. Tambahan lagi ia dan pendukungnyalah yang ngomong hanya naik 2.000 saja kok ribut. Sekarang kena getahnya sendiri. Pada saat itu saya mau bilang, "Salah sendiri kenapa pilih Jokowi, kenapa tidak patuh dan tunduk saja sama aturan Allah swt?" Tetapi nggak sampai hati.. Hehehe.. Lagian nggak ngaca sih..! Kenapa baru nyebut ya Allah, ya Allah ketika keadaan sempit bener. Kenapa nggak dari dulu PRO sama Allah saja, jangan pro Jokowi, atau pro Prabowo...

"Ya sudah entar saya ke rumah deh, kita ngobrol dulu" Jawab saya
"Oke, saya tunggu ya?" Jawab Pak Budi

Bisa jadi saya akan menemuinya dan meminjamkan kepadanya uang untuk modal usaha. Padahal 2 pinjaman terakhir belum dikembalikan dan kayaknya nggak akan kembali. Tidak apa-apa kok, rezeki dari Allah swt. Tetapi tentu saja saya tidak asal memberi pinjaman, ada nasehat yang harus ia dengarkan dahulu.

Saya hendak menasehatinya lagi, itupun kalau diterima. Yakni nasehat supaya "tunduk" kepada apapun aturan Allah swt, dan tidak keras kepala lagi, tidak usah beralasan lagi. Tidak usah bilang gini, "Iya bener mabuk itu haram, tapi khan...?", naah ini namanya penyangkalan. Terima saja dulu apa kata Allah swt walaupun bertolak belakang dengan logika, pemikiran dan hawa nafsu kita. Terima dulu, jangan ditafsirkan dulu, baru kemudian dipikirkan ketika kita sudah tenang. Jangan belum apa-apa sudah ingkar, hanya karena menurut kita, pendapat kitalah yang lebih benar dari pada Allah swt.

Karena dengan tunduk dan patuh itulah hidup kita dijamin sama Allah swt baik rezeki, hajat, keinginan dan lain sebagainya. Kalau kita sudah tunduk sama Allah, masalah hutang mah keciiilll. Asli kecil bangets. Allah yang akan melunasinya. Saya hendak membangunkannya pada dini hari kemudian Tahajud. Belajar minta ampun kepada_Nya, belajar meminta hajat kepada_Nya, bukan kepada saya, Pak Bambang, Pak Rudi atau siapapun juga. Apalagi kepada Jokowi dan Prabowo yang hanya manusia biasa. Bisa kecewa, bisa gigit jari... Asli ini...

Patuh dan tunduk kepada aturan Allah swt, itulah Islam. Nasehat inilah yang hendak saya berikan kepada beliau dan kepada orang lainnya.

Allah swt berfirman sbb

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al Baqarah ayat 186)

Syarat pertolongan apa? Jelas sekali harus mengikuti Allah dan beriman (percaya) kepada_Nya bukan kepada yang lain. Harus Pro sama Allah swt.

Allah swt berfirman lagi

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)” (QS. Al Imran: 28)

Nah, disini kami juga hendak menasehati diri kami sendiri. Jika bisa anda ambil alhamdulillah. Bahaya sekali jika kita tidak mau nurut sama perintah Allah. Apa bahayanya? Seperti yang difirmankan Allah swt diatas
  • Lepas dari pertolongan_Nya. Waaaah ini bahaya banget. Anda tidak bisa ditolong oleh Allah swt. Oleh karenanya wajar kalau mereka mendatangi manusia untuk berhutang, mendatangi pohon, dukun, mendatangi tempat maksiat dll. Apakah mereka memberikan pertolongan? Tidak sama sekali. Malahan anda akan kecewa, lebih parah lagi mereka mengajak ke neraka.
  • Jangan lakukan, karena kita diperingatkan Allah melalui siksa_Nya. Misalnya siksa dunia seperti kisah diatas, kehidupan yang sempit, susah, takut, khawatir, dan lain sebagainya. Ini baru di dunia lho? Apalagi di akherat.

Namanya belajar... Jadi bapak ibu jangan menuduh saya pro A atau B dulu. Kita sama-sama belajar untuk tunduk, untuk kemudian Pro sama Allah. Itu saja kok. Simpel bangets..


Artikel Terkait



2 comments: