Dec 16, 2014

Mau Hutang Lunas, Mau Kaya, Sukses dsb Caranya Gampang.... Bacalah

Anda mau hutang lunas? Mau Kaya? Mau banyak duit? Mau rumah? Mau Mobil?... Aaaaaaaaaaaach itu mah gampang, keciiiiill. Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk memiliki bisnis yang sukses, mobil yang bgs, rumah yang luas dan lain sebagainya. Yang anda perlukan hanyalah Allah.

Sudah berapa kali anda mendengarkan tentang ceramah ini? Mungkin sudah berkali-kali namun kenyataannya anda tidak kaya-kaya juga. Apa ada yang salah? Atau apa ceramah seperti diatas yang salah?

Tentu saja ada yang salah jika apa yang anda inginkan (doakan) tak kunjung terkabulkan. Yang salah ya kita sendiri. Jadi jangan jauh-jauh cukup tengoklah siapa yang berada didalam cermin.Itulah biang keladinya. Sekali lagi itulah biang keroknya..

Sengaja saya mengatakan demikian dikarenakan sudah dibilang kitalah biang keroknya namun masih tetap ngeyel. Mungkin dimulut bilang "Iya pak" namun dalam prosesnya tidak demikian. Mari kita buktikan.

Ada sebuah kisah fiksi, namun menjadi santapan cerita saya sehari-hari. Si Budi seorang security dengan 3 orang anak yang sedang membutuhkan biaya. Gajinya tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, oleh karenanya ia berhutang. Hutangnya sudah numpuk dan nampaknya sudah tidak akan bisa lagi melunasinya, kecuali Budi membawa Allah. Pada suatu ketika budi berkesempatan untuk sholat jumat, ketika selama ini dia dilarang menghadirinya karena harus menjaga keamanan sebuah gedung. Namun pada hari itu ia berkesempatan untuk Ibadah jumat, sementara temannya yang beragama lain rela menggantikan tugasnya. Apa isi ceramah? Kita disuruh bersyukur kemudian bersedekah ketika sedang kesulitan. Semua itu dalam bingkai percaya (iman) kepada Allah swt.

Ketika selesai jam kerja Budi pulang dengan selalu mengucap syukur. Bahkan ketika diperempatan lampu merah ia sempat memberikan sedekah kepada Ibu-ibu tua. Ia baru saja mendengarkan ceramah sehingga keyakinannya selama ini yang mulai luntur tumbuh kembali.

Budi sebenarnya stress berat, gajinya sudah habis, padahal masih tanggal 10. Uang makan yang seharusnya ia pakai untuk makan siang ia relakan disedekahkan kepada Ibu tua di perempatan lampu merah. Sabodo teinglah..., saya bawa Allah. Batinnya..

Sesampai dirumah ia langsung ngeloyor masuk kedalam kamar sambil berbaring dan menutupkan mukanya dengan bantal, ketika istrinya memanggil.

"Pak" Kata istrinya

"Apaan sih, gak tahu lagi stress apa?" Jawab Budi

"Ini makan dulu" Kata istrinya

"Jangan ngeledek, makan batu kali"

"Nggak Pak, makan sate kambing dan ada gulenya juga. Tadi Bu Bambang datang kerumah nganterin makanan. Katanya anaknya akekahan"

"Waaaah sate kambing,..., mantap"

Tuh khan, Budi lupa ketika mendapatkan nikmat Allah swt berupa makan enak. Padahal ia baru saja mencoba bersyukur dan belajar sedekah setelah mendengarkan tausiyah jumat. Baru saja dapat nikmat langsung lupa syukurnya. Ia makan dengan lahapnya tanpa bismillah. Begitu kenyang langsung tidur. Itulah kebanyakan dari kita. Suka lupa bersyukur ketika mendapatkan nikmat.

Ternyata beberapa hari berlalu malah datang peluang bisnis dari mantan sahabatnya dulu. Kebetulan mereka bertemu pada saat budi sedang stress tingkat tinggi,

"Gini aja Bud, gimana kalau kita mencoba peruntungan nasib. Dagang Duren yuk, mumpung lagi musim"

"Waduh Jon, nggak ada modal"

"Gini aja Bud, modal dari saya, nanti saya tunjukin dimana beli Duren yang murah. Lo khan bisa nyetir. Gue yang tunggu dagangannya"

"Nanti kalau rugi gimana? Udah keluar kerja malah jadi pengangguran, ya toh?"

"Usaha dulu Bud, masalah rugi kita pikir entar aja"

"Ah elo khan memang dari dulu kerjaanya jualan, lah gua khan security, kalau sampai keluar kerja bisa berabe. Lagian enak di elo gak enak di gue. Masak gue yang disuruh capek-capek cari durennya"

"Lah khan modal dari gue bud?"

"Au ah, pusing gue Jon, nggak ah.. resikonya besar"

Tahukan anda apa yang terjadi 1 tahun kemudian? Jon menjadi pedagang duren yang sukses, sementara Budi masih saja jadi security.

"Ntar kalau ada modal, gue akan ngelebihin si Jon" Kata budi kepada kawannya Boy

"Doa aja Bud, mudah-mudahan ada modal" Kata boy

"Orang yang gue butuhin modal bukan doa" Kata Budi

10 tahun kemudian ucapan Budi masih saja sama, namun tidak ada action nyata. Sebenarnya fadhilah dari latihan syukur dan sedekah puluhan tahun yang lalu mengakibatkan Budi mendapatkan peluang. Budi hanya diminta melakukan tindakan. Memilih pilihan yang nampaknya beresiko besar, padahal ketika dijalankan tidak sebegitunya. Syukurnya malah semakin lama semakin hilang, demikian juga imannya. Yakni Budi tdk percaya kepada Allah yang akan memberikannya jalan, namun lebih percaya kepada logikanya sendiri. Padahal logika Tuhan berbeda dengan logika manusia.

Sederhana saja kuncinya, yakni dalam bingkai iman/ percaya. Kalau anda percaya kepada Allah swt kemudian melakukan tindakan sebagai bukti iman, maka jalan akan dibukakan pada saatnya. Mungkin anda berpikir modal, resiko, kegagalan dan lain sebagainya ini wajar. Namun orang yang percaya kepada Allah akan melakukan tindakan melawan logika dirinya sendiri, asalkan apa yang dilakukannnya masih dalam bingkai kebaikan.

Memangnya kenapa kalau beresiko, kalau gagal dsb? Apakah kiamat? Apakah anda pikir akan mati kelaparan? Tidak bos. Justru saat itulah momentum yang paling tepat untuk membuktikan iman. Yakni tetap percaya kepada Allah ketika datang ujian.

Akan lebih baik begini

"Modal saya balikin ke Allah, resiko saya balikin juga, demikian pula jika gagal dsb. Biar Allah yang menggembleng saya. Bismillah" Harusnya gitu. Powernya lebih digdaya dari segala apa yang ada didunia ini. Power perubahan itu nampak jelas dalam hati walaupun otak menolaknya.

Kalau iman sudah begitu masalah hutang, ingin kaya, ingin mobil, ingin uang banyak mah keciiiiil. Kecil buat Allah.



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment