Dec 23, 2014

Hukum Mengucapkan Selamat Hari Raya Natal

adhinbusro.com. Bolehkah mengucapkan selamat natal kepada kawan Kristen? Ada yang bilang boleh, ada juga yang bilang tidak boleh bahkan menghukumnya dengan hukuman kafir. Nah lo...??. Bagaimana menurut saya pribadi? Begini ceritanya... :)

Islam mempunyai akidah. Dan akidah utama merupakan sebuah rukun Islam yang paling utama yaitu ucapan "Laailaaha Ilallah, Muhammadur Rosuulullah", atau persaksian syahadat. Ini akidah, dan ini prinsip yang wajib dipegang oleh muslim. Tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali hanya Allah swt saja. Yang lain nggak boleh... Entah itu manusia, benda, duit, alam semesta dan segenap mahluk ciptaan lainnya. Kemudian bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah. Beliau bukan Tuhan tetapi manusia yang dipilih mengemban amanah sebagai Nabi dan Rosul akhir zaman.

Mengucapkan selamat natal memang hanya sekedar ucapan. Namun terlepas anda tahu atau tidak, didalamnya ada substansi yang dalam. Ada makna dari perayaan natal. Kalau dalam Kristen maka memperingati kelahiran Yesus atau Nabi Isa as sebagai tuhan selain Allah swt. Jadi terlepas anda tahu atau tidak, mengucapkan selamat natal sama dengan memberikan selamat, sedangkan memberikan selamat sama dengan DOA.

Sama saja dengan ucapan talak baik disengaja atau tidak maka jatuhlah talaknya. Bahkan ucapan, "Engkau seperti punggung Ibuku" sudah termasuk ucapan talak atau cerai. Atau ucapan bernada bercanda, "Aku talak kamu ya Mah?" maka ucapan itu sudah jatuh kepada talak. Hati- hati walau hanya sekedar ucapan, karena mengandung makna yang dalam..

Mengucapkan "Selamat Natal" sama halnya dengan memberikan selamat sekaligus ucapan tentang kelahiran Yesus sebagai tuhan dan juru selamat. Seolah-olah begini, "Selamat ya? tuhan Yesus sudah lahir.. Kami ikut berbahagia sebagaimana anda". Naaaahh.. "Tapi khan hanya sekedar ucapan selamat Pak Adhin...!". Betul, silahkan baca lagi tentang paragraf ucapan talak.

Ini masalah akidah bos...! Akan sangat lebih baik jikalau kita hati-hati dengan hal ini. Sekali rusak akidah, bahayalah kita. Masih banyak ucapan lain yang tidak mengganggu akidah, tidak harus ucapan selamat natal. Misalnya dengan ucapan, "Hai bro, libur nih.. enak dong..!" atau ucapan lainnya.

Akidah Islam meyakini bahwa Yesus atau Nabi Isa as adalah Nabi dan Utusan Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. Jelas sekali dalam Al Qur'an Surah Al Ikhlas disebutkan bahwa, Allah itu Esa atau satu-satunya. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada satupun/ apapun yang menyerupai_Nya. Bahkan dalam ayat yang lain diterangkan yang maknanya adalah, telah kafir orang yang mengatakan bahwa Tuhan itu satu diantara 3. Atau ada juga yang maknanya, hampir-hampir langit pecah karena mendengar ucapan manusia bahwa Allah mempunyai anak.

Jadi sekali lagi ucapan itu mengandung makna. Sebagaimana ucapan "Syahadat" dimana siapa yang mengucapkannya otomatis menjadi muslim. Silahkan dicoba kepada kawan Kristen, coba ucapkanlah, "Ashadu Allaa Ilaaha Illallah, Wa Ashadu Anna Muhammadar Rosuulullah". Maka bisa dipastikan kawan kristen tersebut tidak akan bersedia, walaupun hanya sekedar ucapan. Yakni ucapan dimulut yang, meskipun, dalam hati menolaknya. "Mas, ucapkanlah syahadat ya? Sekedar ucapan kok, tidak masalah hati anda tidak mengakuinya" Maka dipastikan kawan Kristen tidak akan mau.

"Tapi Mas, mereka khan ngucapin selamat Idul Fitri". Iya benar sekali. Itu urusan mereka. Dan Idul fitri pun maknanya tidak menyinggung akidah. Makna Idul Fitri adalah merayakan hari kemenangan karena telah sukses mengendalikan hawa nafsu. Jika kawan Kristen ngucapin selamat Idul Fitri, ya bagus dong.."Selamat ya? sudah sukses menahan keinginan untuk bermaksiat, berbuat dosa, mabuk, mencuri, berzina dan lain sebagainya". Ini khan maknanya bisa menjadi umum dan substansinya bagus. Tetapi ucapan natal itu beda, ini akidah sebagaimana ucapan syahadat.

"Mas saya terpaksa mengucapkannya karena Perusahaan mewajibkan untuk itu". Gimana ya? Intinya lebih baik berikan ucapan yang lain. Saya salut kalau anda berani mengatakan, "Maaf Bos, agama kami tidak pernah meyakini Yesus adalah tuhan, oleh karenanya kami tidak mengucapkan natal kepada anda". Kesannya ada harga diri. Ada izzah dan cahaya ketika mengucapkannya.

Dalam sebuah kisah Amr Bin Yassir beserta keluarganya disiksa oleh Kafir Quraisy hanya karena keislaman mereka. Ayah dan Ibunya meninggal karena penyiksaan tersebut, dan akhirnya Amr Bin Yassir pun terpaksa mengucapkan sebuah ucapan penghinaan terhadap Nabi saw, padahal hati Amr Bin Yassir mengingkarinya. Selepas mengucapkan hal itu Amr Bin Yassir dibebaskan. Lalu ia berjalan seperti orang mabuk sambil menangis sejadi-jadinya karena ucapan penghinaan terhadap manusia yang sangat dicintainya yakni Nabi saw.

Pertanyaannya adalah, apakah anda seperti Amr Bin Yassir. Apakah pemaksaan tersebut bisa menyebabkan nyawa anda melayang? Yang lebih sering ditemui adalah tidak ada pemaksaan untuk mengucapkannya, tetapi tetap mengucapkan dengan berbagai dalih. Atau jika anda dipaksa mengucapkannya, apakah ada kesedihan yang mendalam ketika mengucapkan? Andalah yang tahu..

“Umat Islam haram mengikuti perayaan Natalan bersama, karena mengandung unsur ibadah, sehingga akan merusak aqidah dan keimanan umat Islam. Bahkan ucapan Selamat Hari Natal,  jangan sampai diucapkan oleh umat Islam Adapun yang diperbolehkan ucapan Selamat Tahun Baru 2013,”,” Nasihat Ketua MUI KH.Ma’ruf Amin - See more at: http://www.arrahmah.com/read/2012/12/20/25562-mui-tegaskan-haram-hukumnya-mengucapan-selamat-natal-dan-natal-bersama.html#sthash.vJOSD0hM.dpuf
Adapun MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang saya ambil sumbernya disini pada tahun 1981 sebelum mengeluarkan fatwanya, terlebih dahulu mengemukakan dasar-dasar ajaran Islam dengan disertai berbagai dalil baik dari Al Qur’an maupun Hadits Nabi saw sebagai berikut :

A) Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan.

B) Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain.

C) Bahwa ummat Islam harus mengakui ke-Nabian dan ke-Rasulan Isa Almasih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi dan Rasul yang lain.

D) Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih dari satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Almasih itu anaknya, maka orang itu kafir dan musyrik.

E) Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya agar mereka mengakui Isa dan Ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab: Tidak.
F) Islam mengajarkan bahwa Allah SWT itu hanya satu.

G) Islam mengajarkan ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan.

Memang ada Ulama yang membolehkan mengucapkan selamat natal. Kalau anda mau mengikuti pendapat mereka ya silahkan saja, tetapi kalau kami pribadi condong kepada pendapat Ulama yang mengharamkannya. Yang penting siap dengan konsekwensi dunia dan akherat. Yang penting anda juga memiliki hujjah dan argumen yang nyata dihadapan Allah swt.

Kami lebih condong kepada "Tegas" untuk hal-hal akidah. Tegas untuk urusan agama, tidak ikut-ikutan dan tidak menyerupai mereka. "Lakum dinukum waliyadiin". Kalau kita selalu saja lembek, terutama dihadapan non muslim maka kita akan terus diinjak-injak harga dirinya. Kapan lagi kita bangga terhadap agama ini? Apakah masih tersisa izzah islam wal muslimin dalam dada anda?

Islam sangat menjunjung toleransi antar umat beragama. Namun toleransi tersebut masih dalam bingkai muamallah atau pergaulan. Kalau sudah menyinggung masalah akidah maka sekali lagi "lakum dinukum waliyadiin". Hati-hati dengan usaha seseorang yang mencampur adukkan antara akidah dan toleransi, ini bisa mengaburkan keyakinan anda.

Ini pendapat saya.. Bagi yang membolehkan mengucapkan selamat natal silahkan. Yang penting persaudaraan harus tetap dijaga. Jangan dikit-dikit beda lalu terpecah belah. Namanya proses belajar yang berlangsung seumur hidup. Belajar mendalami agama, belajar untuk tunduk dan patuh kepada apapun perintah dan larangan Allah swt. Hanya kepada Allah swt kita kembalikan segala urusan.



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment