Oct 14, 2014

Mencari Iman yang Hilang bag 3

Adhin Busro. Kita sudah membahas tentang pencarian iman yang hilang bagian 1 dan 2, kini saatnya kita lanjut membahas tentang "iman". Iman dalam artikel kali ini akan saya fokuskan kepada keyakinan akan masa depan yang sifatnya ghaib. Semua manusia menginginkan masa depan yang lebih baik dari saat ini, namun tidak semua manusia yakin bisa meraihnya. Inilah masalahnya...

Nah untuk membaca pemahaman awal mengenai keyakinan akan masa depan silahkan dibaca artikel saya yang lain disini.

Setelah membaca artikel diatas maka anda akan memahami kronologis Iman dan kepada siapa Iman itu disandarkan.

Jadi sekali lagi masalah keyakinan adalah masalah hati. Saya garis bawahi masalah iman masalah hati itu bukan pilihan. Jadi kalau ada yang mengatakan masalah iman adalah pilihan hati, ini sesuatu yang menurut saya perlu direvisi. Kalau masalah iman adalah pilihan, maka sudah layak banyak diantara kita yang sudah salah didalam mengimani sesuatu.

Benar sekali masalah iman adalah masalah hati. Maksudnya kondisi hati didalam mempercayai sesuatu yang masih ghaib atau belum terlihat nyata. Mengkondisikan hati untuk percaya maka sebelumnya harus melalui proses-proses yang tidak singkat. Saya sudah menjelaskan tentang hal ini pada artikel sebelumnya.

Masalah "iman" atau keyakinan ini bertujuan untuk membuktikan kebenaran apa-apa yang kita yakini sebelumnya. Jadi kalau seandainya apa-apa yang kita imani tidak terbukti dimasa depan, maka kita perlu untuk evalusai kembali, benarkah keimanan kita?

Mau tidak mau pada akhirnya kita akan menyerah tentang masa depan. Kita membutuhkan garansi atau kepastian akan masa depan, dan ujung-ujunglah ketemu dengan Dzat Ghaib yang memegang ruang dan waktu. Dialah Tuhan.

Nah disini, diproses inilah kemudian terpisahkan berbagai golongan misalnya
  • Yang mengenal Tuhan dari buku dan media lainnya
  • Mengenal Tuhan dari ajakan orang lain
  • Mengenal Tuhan dari kitab suci agama-agama
  • Mengenal Tuhan alam semesta
  • Mengenal Tuhan dari mimpi 
  • Dan lain sebagainya

Pada proses pencarian Tuhan inilah terjadi banyak perbedaan, perkotakan dan pada akhirnya bisa menjadi perselisihan dengan menganggap Tuhan dan ajarannyalah yang benar, sementara ajaran lain salah. Sementara orang yang menganggap dirinya benar, sebenarnya dia sudah salah.

Lalu bagaimana langkah terbaik mengenal_Nya?

Muhasabah/ tafakur diri. Inilah awal yang paling baik (menurut saya) dalam rangka untuk mencoba mengerti 3 hal
  • Dari mana kita hidup
  • Disuruh melakukan apa
  • Kemana kita setelah mati

Inilah 3 hal perenungan dan muhasabah diri yang harus kita lakukan, tidak langsung ujug-ujug mengenal kepada Dzat Tuhan. Kalau ada seseorang yang pada hari sebelumnya tidak kenal Tuhan, kemudian keesokan harinya berteriak-teriak dan mengatakan Tuhan itu ini dan itu, maka sudah jelas bahwa ia adalah orang yang sudah terdoktrin oleh dirinya sendiri dan orang lain.

Masak dalam waktu yang singkat sudah mengenal Dzat Tuhan? Tidak, bahkan sampai mati pun kita tidak akan mengetahu Dzat Tuhan, karena kalau sudah tahu akan Dzat_Nya maka sudah tidak perlu lagi yang namanya keimanan. Sedangkan keimanan adalah meyakini sesuatu yang ghaib, dan sesuatu yang belum terjadi.

Lakukan muhasabah tentang 3 hal diatas.

1.) Dari Mana Kita Hidup?

Jelas dari hasil perbuatan ayah dan ibu kita. Lalu Ayah dan Ibu berasal dari kakek dan nenek, buyut, dan generasi-generasi sebelumnya. Sampai kemudian ketemu dengan 2 orang manusia paling awal. Siapa 2 orang itu? Silahkan dicari jawabannya, beserta pertanyaan-pertanyaan lain yang mengikutinya.

2.) Disuruh Melakukan Apa?

Tafakur diri pada akhirnya akan berkaitan dengan tafakur alam semesta. Yakni adanya Pendesign Semesta Alam yang tiada duanya. Mendesign Bumi, Bulan, Matahari dan segala sesuatu yang ada didalamnya dengan besar, detail dan sempurna.

Untuk siapa tujuan design ini? Kalau kita mau merenung sejenak maka jelas sekali design yang disengajakan ini untuk manusia, dalam rangka mengemban sebuah misi/ pesan. Misi apa? Inilah fungsinya tafakur.

3.) Kemana Perginya Nyawa Setelah Mati?

Semua mahluk yang bernyawa pasti mati, termasuk juga manusia. Inilah kepastian mutlak tidak memerlukan garansi lagi. Lalu kemana perginya jiwa kita? Ke alam ghaib yang kita belum bisa mendefinisikan sebelum mengalami.

Jika kita tarik benang ke belakang, maka akan ketemu sebuah titik dimana titik tersebut benar-benar berbeda dari alam yang kita lihat saat ini. Kita tarik lagi kebelakang, maka ada sebuah momentum dimana tidak ada apa-apa (ketiadaan). Jadi alam semesta ini dahulunya adalah tiada, kemudian diadakan oleh Dzat Yang Menciptakan. Lalu bagaimana kalau benang itu kita tarik kedepan? Tentu saja kita tidak akan mengetahui perkara ghaib.

Namun kita bisa melihat didunia ini ada yang namanya siklus, yakini keadaan yang berganti ganti. Dari ada, menjadi tidak ada, ada lagi kemudian tidak ada lagi dan seterusnya. Ada juga siang dan malam, gelap dan terang saling berganti.Kalau begitu kesimpulan yang mengatakan bahwa, alam semesta dahulunya tidak ada, kemudian ada lalu akan menjadi tidak ada lagi adalah sesuatu yang masuk akal.

Kita akan membahas hal ini pada artikel lainnya, Insya Allah. Kesimpulannya adalah "temukanlah Tuhan" dengan akal dan hati maka tiba-tiba anda akan menjadi pribadi yang berbeda.

Untuk artikel lanjutannya silahkan klik disini

Dipersembahkan oleh

--> Rahasia Kunci Sukses, Rahasia meraih iman yang natural




Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment