Oct 23, 2014

Ketika Tidak Mampu Membayar Hutang

Assalamu'alaiQum wr wb.Yang terhormat bapak adhin busro yg di muliakan oleh Alloh.Saya pemuda berusia 25 tahun yg baru 1 bulan menikah.Saya menikah dengan hasil meminjam dari tempat saya bekerja.Saya meminjam dengan perjanjian 1 atau dua bulan saya lunasi.Tapi ternyata,saya tidak sanggup untuk melunasi nya. Dengan cara mencicilpun saya tidak mungkin bisa,krna gaji saya hanya cukup untuk makan sehari'' bersama keluarga baru saya.Mohon bimbingan dan nasihat nya,pak.Demikian dari saya.Dan hanya ungkapan terima kasih yg mampu saya ucapkan.Semoga alloh sllu memberikan taufiq dan hidayah nya kepada bapak. Salam hormat saya (Email dari Ahdan=bukan sebenarnya)


Jawab: Waalaikum salam, terimakasih doanya, semoga anda dimampukan oleh Allah swt untuk membayar hutang. Amin

Bacalah doa melunasi hutang, misalnya sbb


Allahummakfini bihalaalika 'an haroomika, wa aghninii bifadlika 'amman siwaak

"Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal daripada yang haram, kayakan aku dengan karunia_Mu, sehingga aku tidak meminta selain kepada_Mu"


Baca terus, rutin, sering sampai pikiran anda dominan didalam memikirkan cara bagaimana supaya hutang bisa dilunasi/ dicicil. Jika pikiran anda sudah dominan, sementara hati anda sudah dipenuhi dengan rasa percaya kepada Allah bahwa anda akan dimampukan_Nya, maka hutang anda akan lunas. Tidak diragukan lagi akan seperti itu adanya.

Mengapa pasti lunas? Karena doa tersebut beratsar dari Nabi saw. Mengapa kalau dari Nabi saw pasti ijabah? Karena beliau adalah Nabi dan Utusan Tuhan... Dan pertanyaan mengapa dan mengapa seharusnya terus kita lakukan. Supaya kita tahu dengan jelas alasan mengapa doa tersebut makbul. Silahkan dicari jawabannya sendiri, agar anda bisa merasakan "iman" yang natural, bukan dicekoki dari luar.

Tidak bisa melunasi hutang sesuai dengan janji awal adalah sudah biasa. Bahkan sangat biasa, karena memang manusia itu suka mengingkari janjinya sendiri. Oleh karena itu seharusnya contoh ini bisa dijadikan pelajaran bahwa manusia itu (apapun alasannya) cenderung ingkar. Misalnya ketika berdoa, "Tuhan, kayakan aku supaya bisa menjadi orang yang dermawan". Benarkah ketika sudah kaya akan dermawan??? No no no.... Tidak ada jaminan sama sekali.

Itu hanya janji-janji manis diawal permintaan. Kalau keinginan dan permintaannya sudah terpenuhi maka menjadi lupalah ia akan janji yang pernah diikrarkan apapun alasannya. Inilah kecenderungan jiwa (nafs) atau nafsu yakni suka mengingkari janji. Untuk pembahasan jiwa dan kejiwaan saya sudah merangkumnya dalam panduan magis7

Bahkan dalam sebuah atsar mengatakan bahwa ketika nafsu dibakar dalam neraka sampai 2.000 tahun, ia masih keras kepala. Kemudian setelah dibakar selama 3.000 tahun barulah mengakui bahwa ia adalah nafsu ciptaan Tuhan. Pelajarannya adalah, "Nafsu (diri kita) condong untuk mengingkari nikmat Tuhan" 

Saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu meminjamkan sejumlah uang, dimana menurut saya lumayan besar. Yakni uang yang saya pinjamkan kepada seseorang yang akan digunakan untuk membuka usaha. Sebelum meminjam sudah jelas ada janji ini dan itu, mengembalikan tanggal segini dan seterusnya. Ini namanya cara/ modus agar saya boleh meminjamkan sejumlah uang.

Apakah saya tergoda? Tidak sama sekali. Saya tahu jikalau beliau tidak mengembalikan sesuai jadwal maka hal ini sudah biasa. Saya tetap meminjamkan kepadanya sejumlah uang dengan harapan usahanya lancar. Kenyataan mengatakan bahwa beliau mangkir, bahkan dalam waktu yang lama. Sampai saat ini saya menulis artikel ini, beliau sama sekali belum mengembalikan pinjamannya sepeserpun.

Saya sudah sangat terbiasa dengan hal ini, yakni hutang yang tidak dikembalikan. Apakah beliau dan mereka-mereka tidak mempunyai uang untuk mencicil hutangnya? Sebenarnya punya, tetapi mentalnya memang sudah begitu. Seolah-olah malas-malasan didalam mencicilnya.

Bisa jadi memang mereka tidak mempunyai uang dalam bentuk cash, namun orang yang mengerti tentang kewajiban membayar hutang pasti akan berusaha mencicilnya, entah dengan menjual anting istrinya, kalung, HP, kendaraan atau apapun. Pasti ada jikalau niat mau membayar, nyatanya banyak saudara kita yang niatnya lemah didalam memenuhi kewajibannya. Namun menjadi kuat ketika menuntut hak-haknya.

Dikarenakan lemah mental dan lemah pemahaman, kemudian mereka memakai cara-cara mistis dan takhayul berbau musrik, ketika menggunakan doa islami tidak menampakkan hasil. Beberapa mendatangi pohon keramat, dukun, memberi sesajen dan lain sebagainya.

Saya tidak bermaksud untuk memojokkan siapapun, terutama yang suka mangkir didalam membayar hutang. Cuma, saya hendak mengingatkan bahwa hutang itu adalah amanah. Justru disinilah kita diuji apakah kita mampu mengemban amanah atau tidak. Apakah niat membayar hutang atau tidak. Kalau kita lulus Insya Allah nasib ke depan akan menjadi lebih baik.

Yang banyak saya temukan adalah lemahnya niat dan kemauan didalam membayar hutang. Bahkan kadangkala ketika nyata-nyata ada sejumlah uang, mereka sayang dengan uang yang akan digunakan untuk membayar hutang. Seolah-olah tidak ingat bagaimana ngototnya sewaktu ingin meminjam sejumlah uang. Sekali lagi ini masalah mental yang harus belajar dibentuk.

Kalau memang kita percaya kepada Allah Yang Maha Kaya, apalagi sudah membaca doa melunasi hutang secara continyu maka seharusnya tidak ada alasan lagi untuk menahan harta benda kita. Jikalau tidak ada uang, maka juallah barang anda. Pasti ada, cuma anda sayang dengan harta benda yang anda miliki. Jual barang anda dan uang yang dihasilkan bisa dipergunakan untuk mencicil hutang. Yakin, Allah swt akan mengganti dengan lebih baik, tidak mungkin tidak.

Kemudian ada masalah baru yang tidak kalah pentingnya yakni ternyata tingkat kepercayaan kita kepada Tuhan sebegitu lemah. Kita seringkali menuhankan rasio, dan sayangnya tidak menyadari. Kita hidup penuh ketakutan sedangkan rasa takut berasal dari syetan. Takut kalau jual barang tidak akan mampu membeli lagi dan seterusnya. Ini namanya percaya syetan dari pada iman kepada Tuhan.

Oleh karena itu buktikanlah bahwa kata "iman" dalam shahadat anda adalah benar. Bukan kata-kata pemanis mulut, apalagi berbau kepalsuan. Buktikanlah dalam tindakan nyata, Insya Allah, aturan dan janji kemudahan akan anda dapatkan. Sangat boleh jadi, tidak sekarang namun pasti disebuah ruang dan waktu yang tepat.

Iman = Percaya, Yakin, Membenarkan

Iman dalam hati = Memposisikan hati untuk percaya kemudian membuktikan dengan tindakan nyata. Jauh dari kata komplain, protes, mengeluh karena yakin iman akan mewujud sesuai dengan niat.

Oleh karena itu ketika berdoa supay dimampukan untuk membayar hutang maka kita pasti dimampukan_Nya. Lalu mengapa kita tidak kunjung mampu untuk membayar hutang? Jawabannya sederhana, "Kita tidak benar-benar percaya kepada Tuhan yang akan memampukan kita". Oleh karena itu dalam tindakan nyata ia lebih suka percaya kepada rasio dari pada percaya kepada cara-cara Tuhan.

Sebagai penutup ada firman Allah sebagai pengingat diri kami sendiri, sekaligus para pembaca semua sbb

Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS Al Baqarah ayat 8-9)

Artikel ini dipersembahkan oleh



Artikel Terkait



1 comment: