Oct 7, 2014

Inilah Agama yang Paling Benar

Saya berani mengatakan bahwa orang yang mengatakan bahwa diri dan agamanya yang benar maka itulah orang dengan diri dan agama yang salah. Mengapa bisa demikian? Hal ini bisa kita pahami jikalau kita melihat dalam perspektif kejiwaan. Yakni adanya nafsu/ nafs/ jiwa dalam diri manusia. Atau bahasa mudahnya ada kepentingan dibalik ucapan.


Adalah sangat berat jika nafs (jiwa) diberikan sebuah agama, karena sifatnya yang selalu ingkar. Dalam sebuah atsar dikisahkan bahwa nafsu sudah dibakar dalam api neraka selama 1.000 tahun. Setelah dikeluarkan maka ditanyalah nafsu tersebut

"Siapakah kamu dan apakah kamu mengakui Tuhan Sang Pencipta"

Nafsu menjawab: " Aku adalah aku, dan aku tidak kenal Tuhan"

Kemudian nafsu dibakar dalam neraka selama ribuan tahun dan ditanyakanlah hal yang sama. Nafsu pun menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian dibakar lagi dalam neraka yang paling panas selama ribuan tahun lalu diberikanlah pertanyaan yang sama, barulah nafsu menjawab,

"Aku adalah nafsu yang diciptakan oleh Tuhan Semesta Alam"

Begitulah saking ingkarnya nafsu kepada Tuhan. Oleh karenanya jika nafsu diberikan agama maka hanya segelintir saja yang akan kuat mengemban amanah tersebut sementara sebagian besar lainnya dijamin tidak akan mampu.

Maka kemudian menjadi wajar jika kebanyakan jin dan manusia akan masuk neraka disebabkan nafsu itu tadi. Nafsu yang liar dan keras kepala didalam mengakui kebenaran.

Oleh karenanya alam semesta yang tidak berani untuk diberikan amanah agama justru kemudian dijadikan contoh beragama yang baik, yakni ketundukan. Suka tidak suka, alam semesta harus tunduk kepada sunnatullah dan memang selayaknya tunduk.

Maksud saya dalam artikel ini adalah jangan merasa paling benar, karena kebenaran itu ada dalam alam semesta. Agama atau aturan yang mengikat alam semesta, inilah agama yang benar. Sementara ketika ada manusia yang mengatakan agamanya adalah benar sebenarnya jiwanyalah yang mengatakan demikian dengan kecenderungan adanya kesombongan. Sombong ketika mengatakan dialah yang paling benar, padahal kesombongan sama sekali bukanlah bagian dari agama kebenaran.

Kalau begitu untuk mengetahui kebenaran maka belajarlah kepada agama alam semesta, yakni ketundukan, kepasrahan, kesabaran, kesyukuran, keseimbangan dan lain sebagainya. Hal tersebut dilakukannya dengan tanpa adanya penolakan, komplain atau protes. Tunduk patuh tanpa pertanyaan, inilah agama yang benar. 

N/B: Membahas rahasia jiwa bagi saya sangat menarik, karena dengan pemahaman ini kita bisa mengerti akan rahasia alam semesta dan takdir. Saya sudah membahasnya secara detail disini



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment