Oct 3, 2014

Dipaksa Kaya dan Mulia dengan Syariat Mengendalikan Nafsu

Pada dasarnya manusia enggan untuk menahan nafsunya, dan condong untuk melepaskannya. Dalam hal ini melepaskan nafsu untuk mereguk segala kenikmatan yang tidak akan pernah ada habisnya. Padahal sebenarnya bukan kenikmatan yang sedang dilahap tetapi kerusakan dan kebinasaan, namun tidak menyadari.

Hanya dengan mengendalikan nafsu/ jiwa saja manusia bisa beroleh kebahagiaan baik dunia maupun akherat. Kebahagiaan dunia misalnya selalu cukup (baca=kaya), sehat aman dan sentausa, sementara kebahagiaan akherat beroleh kenikmatan abadi yang tidak akan ada lagi penderitaan.

Namun inilah fitrah nafsu yang selalu saja tertipu dengan fatamorgana, ditambah dengan syetan yang membuai serta menipu dengan kesenangan sesaat. Oleh karena itu agama MEMAKSA manusia untuk mengendalikan nafsunya agar beroleh kemuliaan hidup. Puasa adalah salah satu syariat yang bisa dibilang MEMAKSA nafsu untuk mengikutinya walaupun enggan

Berpuasa dibulan ramadhan adalah kewajiban bagi orang-orang yang beriman. Artinya percaya dan yakin kepada Allah swt yang pasti tidak akan membuat mahluknya merugi ketika menahan lapar, haus serta menahan keinginan lainnya. Tidak lain dan tidak bukan, puasa adalah salah satu cara bagi manajemen jiwa atau pengendalian jiwa. Hal ini dikarenakan jikalau tidak dikendalikan maka jiwa itu akan menjadi liar sebagaimana jiwa binatang.

Tentang kewajiban puasa ini diterangkan dalam Surat Al Baqarah berikut ini,

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS Al Baqarah ayat 183-184)

Kita kadangkala tidak sadar, bahwa syariat pemaksaan nafsu berupa puasa bertujuan untuk memuliakan manusia itu sendiri baik dalam kehidupan dunia maupun akherat. Yang namanya nafsu memang susah sadarnya. Matanya hanya ada satu yakni menuju kepada kenikmatan dan menjauhi penderitaan.

Oleh karena itu bagi yang menghendaki kenikmatan berupa
  • Kekayaan
  • Hutang lunas
  • Dagangan laris
  • Sehat
  • Dapat jodoh
  • dan kebutuhan dunia lainnya

Serta tentu saja bagi yang menginginkan kenikmatan tanpa adanya penderitaan yakni surga maka caranya adalah kendalikan hawa nafsu (jiwa) anda. Inilah satu-satunya cara, tidak ada yang lain lagi. Dan ternyata mengendalikan nafsu itu rasanya menyakitkan. Mana ada kemuliaan tanpa ada harga yang harus dibayar? Dan harga kenikmatan sejati adalah menyepuh hawa nafsu itu sendiri.

Selama jiwa/ nafsu itu belum benar-benar bersih, maka kemuliaan dan kenikmatan sejati belum bisa dirasakan. Pembersihan jiwa inilah yang seringkali membuat manusia tidak tahan. Karena apa? Karena rasanya sakit, perih, dan berbagai bentuk penderitaan lainnya. Misalnya
  • Memaksakan diri bersabar
  • Memaksakan diri ikhlas
  • Memaksakan diri menerima takdir dan berterimakasih
  • Memaksakan diri bekerja lebih keras
  • Memaksakan diri untuk percaya 

Hal-hal diatas menyakitkan buat nafsu, kecuali nafsu yang benar-benar sudah paham akan rahasia kehidupan. Untuk benar-benar sabar dan ikhlas maka yang namanya nafs tidak akan bisa melakukannya. Oleh karena itu memaksakan hal diatas adalah sangat menyakitkan. Namun dipaksakan untuk menerimanya dikarenakan percaya bahwa Tuhan akan memberikan reward. Nah disinilah pamrihnya nafs berbicara. Yakni pamrih kepada Sang Pencipta.

Contoh;
  • Nabi Yusuf as ketika digoda oleh siti Zulaikha beliau sedikit banyak tergoda. Karena beliau adalah manusia. Namun keyakinan akan Tuhan menahannya melakukan perbuatan keji
  • Nabi Sulaiman as bisa saja melakukan sekehendaknya, karena beliau adalah seorang Raja besar yang dikagumi. Namun nafsunya ditahan demi mengingat kebaikan Tuhan atasnya
  • Demikian juga Nabi Muhammad saw, rela berdakwah dari pada menerima tawaran harta benda dari kafir quraysi. Semua dilakukan karena nafsunya sudah ditundukkan kepada Kebesaran Tuhan.

Bagaimana dengan kita? Nampaknya kita masih perlu belajar banyak mengenai pengendalian nafsu ini. Karena nafsu kita masih terasa liar dan serakah. Wallahu A'lam



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment