Oct 9, 2014

Cara Manjur Melunasi Hutang dengan Amalan dan Doa Bag 2

Pada artikel yang pertama kita telah membahas sekilas tentang permasalahan hutang dan nasehat/ wejangan dari saya tentang cara melunasinya dengan amalan dan doa. Yang pertama kita sudah membahas tentang istighfar, Kemudian yang kedua adalah membaca doa melunasi hutang dan yang ketiga adalah maintain keimanan. Apakah yang dimaksud dengan maintain keimanan?

Ketiga Maintain Iman

Maintain keimanan adalah mempertahankan rasa yakin. Yakni mengkondisikan untuk percaya bahwa dimasa depan (entah kapan) hutang kita pasti lunas. Ada jarak kepantasan antara diri kita sekarang ini dengan ruang dan waktu dimana hutang kita lunas. Jarak keduanya inilah yang wajib dilalui dengan mengkondisikan rasa yakin seperti diatas.

Untuk lebih jelas, saya ilustrasikan begini

Bias keimanan adalah rasa positif didalam hati yang meresap dalam jiwa sehingga memberikan power/ energi. Energi itu dikirim kepada seluruh jiwa dan raga manusia sehingga mampu menggerakkan dirinya menuju takdir sesuai dengan prasangka. Coba perhatikan bias keimanan berikut ini
  • Sabar. Siapa saja yang sabar (dan sholat) akan ditolong. Maksudnya dalam ruang dan waktu yang masih ghaib tersebut akan ada titik pertolongan. Pertolongan itu bisa dalam bentuk.
  • Ikhlas. Dalam ikhlas ada keajaiban. Entah sudah berapa banyak manusia2 ikhlas yang kemudian justru mendapatkan anugrah keajaiban. Ketika ikhlas tidak memiliki momongan dalam waktu yang lama, kemudian malah istrinya hamil. Ketika ikhas dengan penyakitnya, malah sembuh. Ketika ikhlas dengan hutang yang menumpuk justru mudah melunasinya.
  • Tawakal. Dalam tawakal ada hal-hal mengejutkan/ tak terduga. Misalnya rezeki tak terduga dan lain sebagainya
  • Dan bias keyakinan lainnya


Dalam kaitannya dengan LOA atau hukum tarik menarik, memposisikan diri kepada rasa percaya adalah wajib. Demikian pula didalam melunasi hutang. Cuma bedanya kita percaya kepada Allah yang menciptakan aturan semesta alam, bukan menyandarkan kepada alam semesta itu sendiri.


Keempat, Usaha Maksimal

Sebenarnya langkah ke empat ini tidak perlu ditulis juga tidak apa-apa. Karena kalau jiwa anda sudah berenergi, yakni energi keimanan pasti akan berusaha dengan sangat maksimal. Rawe-rawe rantas malang jawa timur, artinya ia akan mencari dan mencari jalan keluar dengan cara berpikir dan bekerja dengan keras.

Jika pekerjaan sehari-hari, misalnya sebagai karyawan kontrak mustahil untuk bisa melunasi hutang, maka ia akan mencari cara lainnya. Bisa jadi mencoba usaha sampingan. Intinya, ia akan mencari jalan keluar, karena memahami tidaklah mungkin Tuhan memberikan karunia_Nya sepanjang kita sendiri tidak mau merubah apa yang ada.

Nah, ditengah-tengah usaha maksimal itulah kadangkala kita kedatangan tamu. Yakni keajaiban, keberuntungan, mukjizat dan lain sebagainya. Karena apa? Karena manusia yang bekerja dalam iman pasti akan mendapatkan reward dari keimanannya. Pasti berbeda dengan orang yang hanya bekerja keras menggunakan akalnya saja. Orang yang bekerja dengan akal dan iman akan mendapatkan banyak sekali reward sebagai hadiah keimanan.


Kelima: Bersyukur Sepanjang Waktu

Saya banyak membahas cara manjur melunasi hutang dengan amalan dan doa dari perspektif rasa sejati, misalnya sabar, syukur dsb. Tetapi saya bahas singkat saja karena tidaklah mungkin bisa saya jelaskan semuanya. Sebenarnya sudah secara lengkap saya bahas masalah rasa sejati ini dipanduan magis7. Disini sifatnya pengenalan.

Untuk bisa memancarkan rasa syukur juga tidak sekedar ucapan hamdalah saja. Tetapi maknanya lebih dalam dari itu. Syukur bahas indonesianya adalah berterimakasih, yakni mengucapkan terimakasih kepada Sang Pencipta akan segala nikmat dan karunia_Nya.

Dalam kaitan tema melunasi hutang, maka rasa syukur kita panjatkan karena kita sudah berdoa. Sedangkan jaminan doa adalah terkabul. Dengan keyakinan terkabul itulah maka kita bersyukur. Yakni berterimakasih sesaat setelah kita berdoa, dalam proses dan ketika doa kita benar-benar sudah terkabul.

Anak saya tidak henti-hentinya mengucap terimakasih, mengapa demikian? Karena saya menjanjikan akan membelikan sepeda jika nilai sekolahnya bagus. Saya belum membelikan sepeda pada saat itu, namun ia terus saja mengucapkan terimakasih, karena yakin pasti dibelikan. Dan pada saat yang tepat, yakni ketika nilai sekolahnya terbukti bagus, kemudian saya belikan sepeda kesukaannya.

Cerita diatas adalah analogi. Kalau saya bisa saja menyalahi janji, tetapi tidaklah mungkin Allah swt menyalahi janji. Tidak mungkin.Oleh karenanya sudah selayaknya kita bersyukur setiap saat dan setiap waktu.

Apa kesimpulan dari artikel ini? Kesimpulannya bisa anda baca pada artikel selanjutnya. Klik disini untuk membaca artikel lanjutan.



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment