Oct 28, 2014

Cara Berpikir Positif diTengah Hal-Hal Negatif

Tetap positif ditengah hal-hal negatif tidaklah gampang. Kecenderungan kita ikut arus. Kalau suasana sekitar kita positif kita ikut positif, misalnya ditengah-tengah pengajian. Kalau suasana disekitar kita negatif maka kita ikut negatif, misalnya dalam ajang debat kusir. Perlu pemahaman mendalam supaya pribadi kita bisa tangguh walau dalam suasana negatif sekalipun.

Ada sebuah pertanyaan sahabat begini

..........Namun karena itu hati saya jadi bertanya tanya Pak Adhin? bagaimana kita mempertahankan kondisi sempurna kita saat kita berbenturan dengan hal negatif (ujian/musibah) dan kita hidup/tinggal bersama orang2 yang masih negatif, yang sulit diajak bicara dan berfikir terbuka, karena merasa sudah benar dan serba tahu segalanya? apalagi kita berada dalam kekuasaannya?

Bagaimana kita mempertahnkan rasa dan energi positif kita pak?...dan juga bagaimana kita merecharge kembali semangat kita yang sedang mengalami kejenuhan Pak?...(Dari sahabat blog)

Jawab: Bagaimana ya? Jujur saya bingung menjawabnya. Mengapa? Karena memang kecenderungan manusia seperti itu. Wajar dan lumrah adanya. Misalnya begini
  • Kalau kita dihina, maka kita cenderung membalasnya. Atau kalau tidak mampu membalas karena satu dan lain hal, biasanya kita mendoakan keburukan untuknya
  • Kalau kita dimarahi, maka kita ikut-ikutan marah. Paling tidak dongkol dalam hati.
  • Kalau kita dipuji-puji, maka seakan-akan kitanya terbang ke langit tujuh
  • Kalau lagi jaya, kita cenderung merasa sombong dan merendahkan orang lain. Girang yang berlebihan
  • Kalau lagi banyak hutang, kita cenderung merasa resah, pusing, stress dan lain sebagainya

Ini wajar, karena kita manusia yang mempunyai nafs atau nafsu. Pembahasan detail tentang nafs sudah saya bahas dalam beberapa buku digital dalam magis7. Silahkan dilihat-lihat dulu.

Anda, saya bahkan ulama sekalipun tetap merasa resah, dongkol, marah dan lain sebagainya ketika suasana sekitarnya negatif. Tetapi ada sebagian orang yang terus merasa negatif dan sebagiannya lagi mampu menetralkannya. Kalau ada manusia yang selalu saja positif saya akan berguru kepadanya. Karena beliau adalah penjelmaan malaikat.

Benar kok. Malaikat khan tidak memiliki nafs, jadi dalam suasana sekitar yang negatif atau positif maka malaikat tetap saja positif, tidak ada negatifnya sama sekali. Namun kita manusia biasa yang memiliki nafsu disatu sisi dimana nafsu tersebut dikelilingi oleh akal dan hati. Inilah kelebihan manusia dibanding dengan mahluk lainnya.

Jadi pertanyaannya bukan bagaimana cara untuk selalu berpikir dan berperasaan negatif tetapi lebih kepada bagaimana cara menetralkan hati (atau bahasa saya jiwa) yang dikelilingi oleh hal-hal negatif. Jawabannya adalah pemahaman. Ya hanya pemahaman.

Pemahaman maksud saya adalah mengerti bahwa perasaan negatif itu tidak ada gunanya. Atau berguna tetapi gunannya adalah mendatangkan hal-hal negatif lainnya hadir dalam hidup kita. Jadi pikiran dan perasaan negatif tadi akan mengundang teman-temannya untuk datang dan datang terus dalam hidup kita. Tidak lain dan tidak bukan hal-hal negatif adalah sifat syetan, oleh karenanya yang datang adalah syetan dan segala perwujudannya.

Kalau anda membiarkan hal-hal negatif betah nempel dalam hati dan pikiran anda maka pada hakikatnya anda sedang mengundang syetan dan lebih banyak syetan lainnya untuk ikut nempel dalam pikiran dan perasaan. Akibatnya pikiran anda dikendalikan oleh syetan, pun dengan hati anda. Kalau sudah begitu maka tidak lain dan tidak bukan, yang akan hadir dalam kehidupan anda adalah kejadian-kejadian negatif.

Mengapa? Karena tidak ada yang dilakukan syetan kecuali menipu, membuai dan membohongi. Nampaknya dengan membalas marah, menghina, mendebat, mencaci dan lain sebagainya akan mengurangi beban kita, namun pada hakikatnya tidak demikian. Justru itu semua adalah pintu awal bagi adanya api-api negatif yang lebih besar lagi yang akan mendatangi hidup anda.

Oleh karena itu kita harus menemukan peta kehidupan. Peta petunjuk yang memberikan jalan kepada kita agar tidak tersesat. Agar bisa menjadi rem bagi kecenderungan jiwa kita untuk selalu merasa dan berpikir negatif. Apa itu? Al Qur'an.

Oleh karenanya Al Qur'an menasehatkan untuk menahan marah, selalu sabar, ikhlas dan syukur walau berada dalam ujian yang terasa berat. Karena hanya dengan itulah maka cikal-bakal solusi akan segera ditemukan. Hanya dengan itulah pertolongan Tuhan akan datang.

Artinya apa? Begini,
  • Kalau kita dimarahi, diamlah atau berikan penjelasan dengan bijaksana. Jika hati merasa dongkol maka netralkanlah dengan ingat akan Allah.
  • Demikian juga ketika kita sedang dihina
  • Atau dalam keadaan hutang menumpuk
  • Dan keadaan negatif lainnya

Ini memang tidak gampang tetapi bisa. Ini demi anda sendiri, bukan demi orang lain. Yakni demi kemenangan dan solusi yang akan datang kemudian. 

Artikel ini dipersembahkan oleh Magis7



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment