Sep 8, 2014

Sudah Benarkah Pilihan Anda Setelah Istikhoroh? Bisa Jadi Belum

Bapak Edin Buzra, mohon dengan sangat hormat bapak bisa memberikan tata cara dan do`a (LOA) dalam sholat istiharah. takutnya jawaban atas pilihan itu bukan dari Alloh tapi dari rekayasa pikiran saya. terima kasih (Bp Nur Rohim https://www.facebook.com/nurrohim.rohim)

Jawab: Diatas adalah pertanyaan dari sahabat facebook saya Pak Nur. Apakah saya akan menjawabnya? Tidak. Karena saya bukan pakar LoA bukan juga Ustadz yang mengetahui detail masalah ibadah dalam hal ini adalah sholat istikhoroh. Saya hanya mencoba untuk menulis dan membahasnya sesuai dengan pemahaman kami. Apakah bisa salah? Sangat bisa karena saya hanya manusia.

Tetapi pembahasan saya baik artikel sebelumnya maupun artikel ini selalu mengajak pembaca untuk berpikir logis. Akal dan iman ditempatkan pada tempatnya masing-masing. Jadi jaman sekarang yang namanya membelah laut atau megendalikan angin sudah tidak ada lagi. Itu terjadi hanya pada jamannya Nabi Musa as dan Nabi Sulaiman as.

Rosulullah saw selalu mengajarkan hal-hal yang sifatnya rasional khususnya didalam mencari solusi akan adanya masalah hidup. Dalam hal ini kaitannya dengan beberapa pilihan yang sulit sehingga menggunakan media sholat istikhoroh untuk meminta petunjuk Allah swt.

Sholat Istikhoroh adalah sholat untuk meminta petunjuk kepada Sang Pemegang takdir. Misalnya begini..
  • Tetap bertahan dalam pekerjaan sekarang apa pindah, apa wirausaha?
  • Melanjutkan bisnis yang hampir bangkrut atau memperbaiki pelayanan dan meneruskannya?
  • Tetap memilih si dia sebagai calon suami/ istri atau orang yang lainnya?
  • Tetap tinggal di dalam negeri dan berkumpul dengan keluarga apa ke luar negeri dengan konsekwensi jauh dari keluarga namun menjanjikan penghasilan besar?
  • Dan lain sebagainya

Intinya adalah memilih A dengan segala konsekwensinya atai memilih B dengan segala konsekwensinya pula. Dan sebagai manusia biasa sudah pasti kita merasa bingung, khawatir salah pilih, takut konsekwensi dan lain-lain. Oleh karena itu Istikhoroh adalah media yang tepat dengan harapan ada Ilham bagi pilihan yang terbaik.

Nah, kemudian apa itu LOA? Secara gampangnya LOA itu hukum tarik menarik, yakni alam semesta akan memberikan apapun yang dominan kita pikirkan dan harapkan. Memposisikan diri pada rasa percaya bahwa keinginannya akan mewujud adalah sebuah syarat wajib dalam menerapkan hukum LOA.

Ada sebuah Video gratis tentang LOA dalam bahasa inggris. Mungkin dengan melihatnya anda akan sedikit paham seperti apa hukum ini bekerja.

==> Kunjungi link ini untuk melihat videonya gratis

Memang ada hukum/ aturan/ design/ teknologi yang mengikat alam semesta, namun itu semua masih dalam bingkai sunnatullah. Itu semua design dari Sang Pencipta alam semesta. Jadi ini harus dipahami dengan sebenar-benarnya. Bukan "Wahai alam semesta, namun Wahai Pencipta Alam Semesta". 

Kenyataannya memang langit dan bumi didesign untuk manusia. Anda bisa melakukan muhasabah tentang hal ini sampai benar-benar memahami bahwa design matahari, bulan, dan bumi diperuntukkan bagi karunia kepada subyek tunggal yang bernama manusia. Artinya segala bentuk kelimpahan, rahmat dan nikmat diperuntukkan bagi kita, oleh karena itu jika kita tidak merasa kelimpahan tersebut membanjiri hidup kita maka pasti ada yang salah. Tentu saja yang salah adalah manusia bukan hukum semesta/ sunnatullah.

Kembali kepada sholat Istikhoroh...

Niat sholat ini adalah mengharapkan adanya keputusan terbaik yang bisa kita pilih, dimana harapan itu dalam bentuk ilham atau petunjuk dari Sang Pencipta. Berarti harapan yang dominan dalam hati adalah tentang kemampuan memilih yang terbaik. Harapan inilah, kata hukum LOA, yang dipancarkan kepada semesta alam/ sunnatullah.  


 Apalagi dalam doa Istikhoroh sangat kentara sekali akan adanya harapan itu.

"Ya Allah, saya memohonkan pilihan menurut pengetahuanMu dan memohonkan penetapan dengan kesuasaanMu juga saya memohonkan kurniaMu yang besar, sebab sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui dan saya tidak mengetahui apa-apa. Engkau Maha Mengetahui segala yang ghaib. Ya Allah, jikalau di dalam ilmuMu bahawa urusan saya ini........(pilihan anda) baik untukku dalam agamaku, kehidupanku serta akibat urusanku, maka takdirkanlah untukku dan mudahkanlah serta berikanlah berkah kepadaku di dalamnya. Sebaliknya jikalau di dalam ilmu_Mu bahwa urusan ini buruk untukku, dalam agamaku, kehidupan serta akibat urusanku, maka jauhkanlah hal itu daripadaku dan jauhkanlah aku daripadanya serta takdirkanlah untukku yang baik-baik saja dimana saja adanya, kemudian puaskanlah hatiku dengan takdirMu itu."

Kemudian ketika kita sudah memantapkan diri untuk memilih maka apakah pilihan itu memang pilihan yang terbaik atau bukan? Tentunya hal ini tergantung kekhusukan anda didalam menghayati sholat dan doa Istikhoroh ini. Penghayatan yang harus anda rasakan secara nyata dalam hati masing-masing. Semakin nyata pengharapan itu akan semakin baik adanya.

Jikalau penghayatan itu terasa nyata dalam hati maka keputusan yang akan diambil tentu saja menyesuaikan dengan aura penghayatan tersebut. Karena hati tempatnya iman, maka keputusan yang diambil seharusnya juga berbau iman. Misalnya, bertahan apa pindah ya? Jika iman dominan maka ia akan pindah dikarenakan pada pekerjaan pertama banyak terlibat aktifitas-aktifitas dosa dan maksiat. Walaupun pindahnya ditempat lain yang menjanjikan penghasilan yang lebih kecil. Karena inilah iman, yakni yakin bahwa Sang Pencipta Alam Semesta akan mendesign hukum_Nya (LoA_Nya) dalam sebuah racikan yang akan membuat hidup kita sukses dan mulia ke depan.

Adapun penghasilan yang lebih kecil tidak menyurutkan langkah kita untuk tetap berubah dan memilihnya dikarenakan meyakini bahwa terlibat didalamnya merupakan langkah awal (yang seringkali menyakitkan jiwa) bagi kesuksesan dan kebahagiaan di masa depan.

==> Untuk pembelajaran manajemen jiwa (Soul Driving Secret) sudah saya bahas dalam magis7

Sebaliknya apabila kita melakukan Istikhoroh namun kering dari kekhusukan maka aura/ energi keimanan itu tidak akan terasa nyata dalam hati, sehingga harapan yang dipancarkan hanya mengandung muatan energi yang lemah. Karena harapan dalam hati tidak dominan maka yang dominan adalah jiwa (Nafs) itu sendiri. Yakni keinginan untuk sukses dan bahagia dimana menganggap penghasilan besar saat ini adalah lebih baik dari pada harus pindah.Walaupun pekerjaan saat ini banyak melibatkan aktifitas berbau dosa dan kemaksiatan, misalnya korupsi, penipuan, riba dan lain sebagainya, ia tetap memilih bertahan dan menganggap bahwa pilihannya adalah benar. Inilah rekayasa hawa nafsu dalam jiwa kita yang sebenarnya menipu.

Mengapa ia tidak berani hijrah? Jelas sekali kaitannya dengan materi dan harta benda yang bisa digunakan untuk menciptakan kesenangan jiwa (Nafs) itu sendiri.

Oleh karena itu yang menjadi perhatian sebenarnya bukan rekayasa pikiran, tetapi adanya cita rasa iman dalam hati (kolbu). Lezat nggak rasanya iman itu dalam hati. Kalau rasanya begitu lezat maka kondisi ini akan memicu adanya power/ energi spiritual, dimana pada akhirnya akan memicu kehendak untuk memilih berdasar iman, bukan hawa nafsu. "Saya tahu bahwa keputusan ini akan berat ke depan, karena ada resiko yang harus aku tanggung, namun Tuhan telah berjanji akan menolong hamba-hamba_Nya yang mau berhijrah dalam kebaikan, maka saya akan hijrah". Seperti inilah energi spiritual tersebut.

==> Untuk pembahasan mengenai kekuatan energi spiritual bisa anda baca di panduan wajib rahasia kunci sukses.

Kesimpulannya adalah, apapun pilihan anda maka anda sendirilah yang sebenarnya lebih mengetahuinya. Jika pilihan itu didasarkan kepada lezatnya iman dalam hati (pada saat Istikhoroh) maka inilah ilham kebenaran, namun jika pilihan anda condong kepada perkataan jiwa (Nafs) maka ini adalah pilihan yang keliru. Parahnya lagi pilihan keliru tadi dianggapnya ilham kebenaran dikarenakan sebelumnya ia sudah istikhoroh.



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment