Sep 1, 2014

Nafsu, Otak, Hati dan Akal VS Syetan

Artikel sebelumnya bisa dibilang mukadimah atau pembukaan dari masalah yang hendak kita selesaikan yakni hutang. Untuk itulah pemahaman pada mukadimah sebelumnya perlu sekali untuk kita mengerti kemudian meyakininya sebagai sebuah kebenaran. Silahkan anda mencari dari berbagai sumber mengenai mukadimah saya. Intinya adalah sbb
  • Sifat nafsu adalah keinginan
  • Keinginan menyebabkan ia menjadi liar
  • Keliaran itu hanya bisa dikendalikan oleh akal.
  • Sementara akan itu tumbuh dan berkembang melalui pemikiran/paradigma akan kebenaran.
  • Semua kesimpulan yang diambil dari kombinasi/ kolaborasi akal dan nafsu dinamakan kesimpulan dalam otak bawah sadar.
  • Sifat alam bawah sadar selalu mengeksekusi perintah dari nafsu yang sudah diberi warna oleh akal sebelumnya.
  • Akal itu sifatnya selalu bersih dari kesesatan.
  • Paradigma yang sesat dan menyesatkan disebabkan kecondongan kepada nafsu dari pada akal.
  • Sementara nafsu yang jinak ketika ia mencondongkan diri kepada akal.
  • Paradigma menjadi prinsip hidup yang dianggap kebenaran oleh nafsu padahal tidak semuanya benar. 
  • Dan kebenaran semu tersebut akan membukakan jalan takdir masing-masing.
  • Kebenaran hakiki adalah akal, sementara jiwa yang mencondongkan diri kepada akan diharapkan sedang berjalan diatas jalan kebenaran walaupun tidak selamanya ia mampu berjalan lurus.
  • Sesuatu yang dianggap kebenaran oleh jiwa yang tunduk kepada akal akan membukakan takdir masing-masing.

Saya harap anda membaca berulang-ulang sampai memahami apa maksud saya diatas. Lalu ada kesimpulan inti yang wajib anda baca dan pahami dengan sebaik-baiknya yakni;
  • Anggapan Kebenaran yang dicondongkan kepada nafsu sifatnya menipu dan berakhir dengan penderitaan. Contoh hutang.
  • Anggapan kebenaran yang dicondongkan kepada akal sifatnya pasti dan berakhir dengan kebahagiaan. Misalnya solusi dari hutang tersebut.

Inilah 2 kesimpulan yang harus dicerna kemudian dipahami dan diyakini dalam hati. Lalu dari mana akal memahami kebenaran tersebut? Melalui jalan pemahaman. Jadi sebelum menuju akal maka sesuatu fakta kebenaran harus melalui otak dan hati. Otak untuk mengolah berita dan hati untuk memahami berita tersebut faktualn atau tidak.

Misalnya sbb;

Otak: ada satu apel ditambah satu apel menjadi dua.
Hati: Benar, satu ditambah satu sama dengan dua
(Syetan: Selamat ya? Waah kamu mendapatkan anugrah yang besar, segera dimakan apelnya dan habiskan semuanya)
Nafsu: Waah asyiik, dapat dua apel. Lumayan, apalagi kalau ada 1 apel lagi, tambah asyiikk :)
Akal: Syukuri yang ada, jangan dimakan semua bagilah kepada orang lain satu apel itu.

Otak: Kalau punya 2 apel dikurangi satu maka tinggal 1
Hati: Benar, hanya tinggal satu saja.
(Syetan: Makanya buruan dimakan apelnya jangan kelamaan)
Nafsu: Aduuuch, kok tinggal satu doang, dikit bangeeettt...!
Akal: Jangan begitu, satu yang dibagi kepada orang lain akan bermanfaat bagi mereka. Dan akan dibalas 10 kali lipat. Apelmu akan jadi 11 buah nantinya.

Otak: 2 apel, dikurangi 1 tinggal 1. Apel yang dibagi bisa bermanfaat kepada orang lain. Tetapi tidak masuk akal kalau 2-1 sama dengan 11.
Hati: Benar, tidak masuk akal
(Syetan: Kalau tidak buru-buru dimakan bisa habis dimakan orang tuh, kamu lambat mikirnya)
Nafsu: Pokoknya aku tidak mau membaginya kepada siapapun...Enak aja...!
Akal: Dengar semuanya, ini adalah design dari Tuhan Semesta Alam

Otak: Tidak logis, tetapi kecerdasanku juga terbatas, buktinya saya tidak tahu diri saya sendiri ada berapa syaraf yang mengendalikan.
Hati: Benar pendapatmu kawan. Aku sendiri juga tidak tahu, munkin lebih baik kita serahkan saja kepada Yang Maha Tahu.
Akal: Itulah Janji Tuhan Pencipta aku dan kalian dan alam semesta seluruhnya.
Nafsu: Aduh, bagaimana ya?
(Syetan: Makan sekarang semuanya sebelum kamu menyesal)

Nafsu liar: Pokoknya tidak bisa, aku tidak mau membagianya sama sekali. Ini apel milikku, titik...
(Syetan: Nah itu baru mantap.. hehehe)

Nafsu jinak: Okelah kalau begitu, walaupun berat saya harus membaginya. Apel kesayanganku tinggal satu, tetapi Tuhan akan mengganti apa yang sudah kita berikan.
(Syetan: Please jangaaan. Percaya kepadaku)

==> Percakapan dengan nafsu jinak

Otak: Kalau sudah begitu ijinkan saya memerintahkan kaki ini untuk melangkah dan tangan ini untuk membagi apel itu.
Hati: Kamu benar sekali
Nafsu: Hiks hiks hiks.... (Menangis) baiklah.
(Syetan: Please aku mohon makan apel itu, please...!)
Akal: Kalian akan mendapatkan balasannya

==> Percakapan dengan nafsu liar

Otak: Kalau begitu saya tidak akan memerintahkan tangan dan kaki untuk melangkah dan memberikan apel ini.
Hati: Kayaknya ini sebuah kesalahan fatal.
Nafsu: Tidaaakk... Ini kebenaran, tahu tidak sich...!
(Syetan: Naaah gitu dong, habiskan semuanya khan enak dan lezat, benar khan kataku?)
Akal: Kalian akan mendapatkan balasannya.

Maka pada akhirnya terjadi percakapan berikut ini

==> Percakapan nafsu liar

Nafsu: Aku lapar, apelku sudah habis dan aku tidak bisa mendapatkannya lagi. Berikan aku apel... berikaaaannn...!! Huaaaaa hiks hiks hiks
(Syetan: Huahahahahahaaa kamu berhasil saya tipu, rasain ya? Aku pergi dulu ya? Daaaaaaa)
Otak: Ternyata hitunganku salah
Hati: Iya, ini jadi pembelajarn ke depan
Akal: Ini adalah kebenaran yakni jadikan musibah sebagai bahan instrospeksi diri

==>Percakapan dengan nafsu jinak

Nafsu: Asyiik aku sudah cukup kenyang, eeeh malah dapat 10 apel tambahan. Gimana dengan apel tambahan ini ya? Ya sudah walaupun sayang tetapi akan saya bagi 5 kepada orang lain, biar dibalas 50. Mantaps...
(Syetan: Huaaaaaa hiks hiks hiks.... Matilah aku)
Otak: Matematika Tuhan adalah pasti, dan aku serta kecerdasanku ternyata terbatas.
Hati: Ya benar sekali, ini adalah anugrah dan pembelajaran Tuhan
Akal: Tepat, dan kalian pantas mendapatkannya.

Baca tentang artikel melunasi hutang disini

Ads
Magis7. Rahasia Manajemen Jiwa untuk berbagai kebutuhan

Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment