Sep 5, 2014

Mengapa Ceramah Agama Sukar Sekali Membekas?

Pernah mendengar kisah Kancil dan Keong adu lari?, "Alkisah Kancil adu lari dengan keong, ia melesat cepat dan meninggalkan keong jauh dibelakang, sehingga yakin ia menang. Namun ia kaget ketika melihat didepannya sang keong sedang mengayuh selaputnya. Dengan segera kancil mengejarnya dan berhasil meninggalkannya jauh. Tetapi ia lagi-lagi kaget karena didepannya ada sang keong lagi dan mengejarnya kembali sampai akhirnya menjelang garis finis ia melihat sang Keong sudah mendahuluinya"

"Akhirnya kancil yang cepat larinya kalah oleh keong yang cerdas. Si keong sengaja mengumpulkan teman-temannya untuk melawan kesombongan kancil. Di setiap titik arena lomba ia sudah menyiapkan keong lainnya dan hanya beberapa inci dari garis finish juga sudah menyiapkan temannya. Sehingga menanglah ia."

Ini kisah fiksi pertama yang saya ceritakan kepada anak saya sewaktu hendak tidur. Kemudian ada kisah fiksi kedua. pada suatu ketika ada seorang Ustadz yang memberikan tausiyahnya berapi-api. Begini isinya,

"Jamaah yang dirahmati Allah. Jangan kalian melakukan dosa karena itu dilaknat Allah swt. Sesungguhnya dosa besar dan tidak ada ampunan jika kalian menyerupakan Allah. Janganlah kalian bersedekah namun ada unsur pamer. Takutlah kepada Allah karena kalian tidak beriman. Balasannya adalah neraka yang sangat panas. Pada hari pengadilan anda akan ditanya mengenai dosa yang sudah anda lakukan"

"Untuk itulah jauhi dosa agar setelah kita mati nantinya mendapat maghfirah dan masuk kedalam surga kenikmatan. Beriman dan beramal shalih sebanyak-banyaknya, janganlah kalian berbuat dosa. Jangan hanya mengejar dunia karena akhirat lebih utama"

Selesai

Anda bisa melihat kedua kisah diatas? Bagi saya keduanya hampir mirip yakni sama-sama dongeng. Karena terasa hanya sebuah dongeng maka tidak ada efek yang begitu signifikan terhadap perbuatan kita. Bahkan setelah selesai mendengarkan tausiyah atau khutbah jumat tersebut kita langsung pulang dan tidak ada apapun yang meresap dalam hati?

Mengapa? Karena kita merasa itu semua hanya dongeng...

Sudah ribuan kali kita mendengar kata-kata dosa dan neraka, pahala dan surga namun nyatanya tidak berpengaruh secara signifikan didalam membaikkan akhlak kita. Sudah tidak terhitung lagi seberapa banyak kita mendengar kata iman, ikhlas, sedekah, sholat, dan lain sebagainya. Itu semua belum mampu dengan sukses meluluhkan nafsu kita.

Kasihan para ustadz dan kyai yang memberikan ceramah hanya layaknya mendengar "dongeng" saja, sebagaimana anak saya hendak berangkat tidur. Apalagi penceramah yang ternyata memberikan tausiyah tanpa mereka sendiri mempunyai keyakinan yang natural. Tentunya mereka akan memberikan ceramah berdasarkan hapalan yang beberapa hari sebelumnya sudah dihapalkan. Selepas ceramah melakukan dosa lagi. 

Misal ada contoh fakta begini
  • Para pencuri melaksanakan aksi pencurian setelah ia sholat..
  • Para koruptor mengkorupsi milyaran uang rakyat setelah sebelumnya selesai mengikuti tausiyah di Masjdi Agung
  • Pelacur itu berangkat seperti biasanya ke tempat lokalisasi setelah selesai dari pengajian
  • Para pekerja berangkat pagi pulang malam setelah sebelumnya mengikuti ceramah yang isinya rezeki dijamin Allah

Sepertinya ada yang salah dengan penyampaian-penyampaian tausiyah, khutbah dan ceramah-ceramah lainnya. Kayaknya ada yang perlu dirubah agar pelan-pelan keyakinan kebenaran akan "dongeng" tersebut menjadi nyata. Iman yang alami atau natural... Sehingga setelah melakukan ibadah atau mendengar ceramah agama, keyakinan natural tersebut bisa bertambah dan bertambah. Pada akhirnya hal ini akan berpengaruh signifikan terhadap sikap, sifat dan akhlak ybs

Sepertinya ada yang salah.... Apa ya?

Kalau mau tahu ikuti terus blog ini. Saya ada jawabannya dan tentu saja juga masih terus mencari tahu jawaban yang lain. Semoga saya bisa menemukan sebuah formula charging iman yang natural.

Untuk sambungan artikel ini silahkan klik disini

Ads
Rahasia kunci sukses. Rahasia menemukan iman yang natural

==> Klik disini untuk mendapatkan panduan gratis free member


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment