Sep 20, 2014

Inilah Alasan Mengapa Semua Manusia Pasti Berdosa

Jaman dulu sampai jaman sekarang semua manusia pasti berdosa. Kita akan membuktikan hal ini dengan penjelasan saya nanti. Intinya adalah semua manusia pasti pernah melakukan dosa, kecuali Nabi-Nabi yang Ma'sum dan sudah diampuni Allah swt. Oleh karenanya tidak ada manusia suci diduni ini apalagi manusia yang berlagak suci. Semua kotor, semua berdosa.. Mari kita buktikan.

Dalam diri manusia ada yang namanya jiwa. Nama lain dari jiwa adalah nafsu.
  • Anda ingin makan enak?
  • Anda ingin tidur nyenyak?
  • Anda ingin istri cantik?
  • Anda ingin kaya raya?
  • Anda ingin status sosialnya tinggi?
  • Anda ingin dihargai?
  • Bahkan anda ingin mencuri?
  • Bahkan Anda ingin memperkosa?
  • Bahkan anda ingin membunuh?
  • Bahkan ingin mabuk dan narkotik?
  • Dan ratuan, ribuan, jutaan sampai tak terhitung keinginan manusia.

Diatas namanya nafsu/ nafs/ jiwa dimana semua manusia memilikinya tidak ada satupun yang tidak. Kalau tidak mempunyai nafsu namanya Malaikat. Oleh karenanya malaikat tidak berdosa bahkan setitikpun tidak. Hanya manusia, jin dan hewan yang memilikinya.

Nanti Insya Allah akan saya bahas sesuatu yang menarik tentang kharakteristik Malaikat, Iblis, Manusia, hewan dan jin.

Kembali kepada bahasan, mengapa manusia pasti berdosa yakni dikarenakan memiliki nafsu. Bagaimana sifat nafsu? Lihat analogi gambar dibawah ini.



Jadi nafsu dianalogikan dengan Kuda liar yang maunya terus berlari. Kalau tidak dikendalikan maka ia akan berlari kapanpun dimanapun dan kemanapun.

Jadi inilah kodrat manusia yakni kemauannya terlalu banyak dan maunya dipenuhi sekarang atau secepatnya. Semua manusia mempunyai kepentingan masing-masing sehingga tidak ada yang namanya benar-benar rela/ ikhlas. Adanya adalah mereka yang memaksakan diri untuk rela/ ikhlas demi pamrih yang lain. Misalnya;
  • Rela hidup apa adanya yang penting bahagia --> Pamrihnya sebenarnya kaya dan bahagia
  • Rela ibadah sampai lelah yang penting hati tenang --> Pamrihnya sebenarnya kebahagiaan hidup dunia akherat.
  • Rela memberikan makan kepada orang lain --> Pamrihnya supaya dibalas berlipat ganda dan mendapatkan pahala.
  • Rela hidup secukupnya yang penting hutang lunas --> Pamrihnya sebenarnya hutang lunas dan kalau bisa hidup berlimpah.
  • Dan masih banyak contoh lainnya

Itulah manusia yang terlalu banyak kepentingan namun hal ini wajar dan memang harus begitu. Kenapa? Karena manusia mempunyai nafsu. Kalau tidak begitu maka jadilah Malaikat.

Karena mempunyai nafsu inilah kadang-kadang (baca=sering) keluar dari jalurnya. Maksudnya mengikuti ajakan hawa nafsu yang cenderung menyesatkan serta menghancurkan dirinya sendiri. Namanya saja kuda liar maka ia maunya berlari kesana-kemari. Karena design yang seperti inilah manusia pasti berbuat dosa.

Oleh karenanya untuk meminimalisir dosa kita harus banyak-banyak istighfar. Kemudian melatih mengendalikan nafsu supaya memaksakan nafsu tersebut (suka atau tidak) berjalan pada jalur yang seharusnya. Untuk mengendalikan nafsu kita mempunyai yang namanya akal dan iman.

Lihat gambar dibawah ini


Ada dua senjata pengendali nafsu yakni akal dan iman. Jika nafsu bisa dikendalikan maka jadilah ia nafsu yang baik dan jinak yang digambarkan dengan A (baik). Jika akal dan iman tidak mampu mengendalikan nafsu maka jadilah hasil akhir B (buruk).

Karena nafsu penuh dengan kepentingan sebaik dan sesuci apapun hasilnya tetaplah belum sempurna. Namun karena kemurahan Tuhan maka yang belum sempurna tersebut dimaafkan. Namun jika hasilnya adalah buruk (B) maka nafsu tersebut harus disepuh dulu. Kalau didunia ini tidak cukup untuk menyepuh nafsu maka akan dilanjutkan di akherat, yakni penyepuhan nafsu dalam neraka.

Jadi hidup ini sebenarnya adalah perjalanan mendesign nafsu kita sendiri. Bukan mendesign banyaknya harta benda yang bisa kita kumpulkan namun mengelola jiwa yang ada dalam dada. Kalau jiwa sudah sukses dikendalikan maka yang namanya harta benda hanya efek samping yang mudah saja didapatkan.

Sunnatullah berisi hukum-hukum yang sempurna, jadi hukum itu tahu bahwa manusia juga menginginkan adanya pencapaian dalam kehidupan dunia sebelum membuktikan hasilnya dalam dimensi kekekalan. Maka manusia-manusia yang memaksakan diri untuk rela seiring dan sejalan dengan hukum semesta/ sunnatullah maka manusia tersebut akan mendapatkan apa yang ia inginkan (yang diniatkan) sebagai hadiah bagi kesuksesannya mengendalikan nafsu atau jiwanya.

Sekali lagi tidak ada manusia suci, yang ada adalah manusia berdosa yang sedang berusaha untuk memoles nafsunya menjadi nafsu-nafsu yang jinak, baik dan mau memasrahkan diri dan egonya kepada kehendak sunnatullah. Inilah yang disebut dengan nafsu yang tenang, dimana layak untuk melakukan perjalanan berikutnya kepada dimensi yang lebih tinggi, yakni dimensi kenikmatan abadi.

N/B: Pembahasan tentang jiwa dan kejiwaan menjadi semakin menarik untuk kita kaji. Silahkan dapatkan penjelasan menarik lainnya dengan mendownload panduan awal GRATIS dibawah ini

--> Panduan gratis free member tentang rahasia kejiwaan klik disini



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment