Sep 27, 2014

Iman Pada Tempatnya

Sudah membaca tulisan saya yang pertama mengenai dialog dengan teman online Kristen saya? Kalau belum silahkan dibaca dulu agar tahu jalan ceritanya. Silahkan baca disini. Kemudian lanjut kepada dialog selanjutnya dibawah ini

Saudara Adhin,

Terimakasih balasannya. Saya senang berdiskusi dengan Saudara.

Memang benar di dunia ini banyak sekali ajaran yang mewartakan keselamatan kekal. Sebagai orang percaya tentunya kita mempercayai kebenaran Firman Allah, bukan? Dan untuk mempercayai setiap kebenaran Firman Allah kita hanya memerlukan iman.

"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Injil, Surat Ibrani 11:1).

Iman adalah kemampuan melihat apa yang tidak kelihatan. Iman adalah sikap hidup sebagai hasil dari keyakinan kita akan Allah, dan janji-janji-Nya yang belum menjadi kenyataan. Iman adalah percaya kepada segala janji Allah, tanpa mempertanyakannya dan hidup bergantung hanya pada Allah.

Iman memampukan kita melihat apa yang mata jasmani tidak sanggup melihatnya, bukan?

Saudara Adhin, dengan iman pula kita mempercayai bahwa Allah menyediakan keselamatan kekal bagi setiap yang percaya kepada-Nya. Allah memberikan satu kunci untuk masuk sorga.

Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6)

Bahkan dalam Al-Quran menyebutkan Isa Al-Masih adalah tanda dan rahmat bagi manusia “....Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya (Isa Al-Masih) suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan" (Qs 19:21).

Isa Al-Masih adalah jalan menuju sorga, Dia kunci masuk ke sorga. Tanpa melalui Isa Al-Masih kita tidak dapat masuk sorga, bukan?.

Kemudian saya menjawabnya begini

Saudari S

Saya menghargai kemampuan anda didalam mengambil dalil Al Kitab. Tetapi saya tidak condong kepadanya, karena teman hindu dan konghucu saya juga memberikan dalil kitabnya sambil mengatakan inilah kebenaran. Yang saya condongkan adalah kebenaran yang awalnya bisa diterima dengan akal, bukan pemaksaan menggunakan kitab. Kalau pemaksaan iman hal ini dinamakan doktrin.

Benar, wilayah iman adalah wilayah diluar kontrol akal, namun iman bukan berarti tidak masuk akal. Karena kalau begitu apa gunanya akal? Jadi iman itu akan menjadi kuat kalau pada prosesnya awalnya melibatkan akal. Sementara iman tanpa akal adalah lemah dan mudah rapuh.

Oleh karena itu kami masih belum bisa menerima dengan akal dengan berbagai macam iman Kristen, misalnya konsep Tuhan, Penebusan Dosa, Dosa waris dan lain sebagainya karena belum mampu masuk dalam akal kami.

Menurut kami kalau asal percaya Yesus kemudian selamat dan beroleh hidup kekal dalam kerajaan sorga, ini tidak masuk akal. Tidak lain ini sebagaimana tawaran misalnya (maaf) tawaran kartu kredit yang menggoda hawa nafsu, tetapi tidak menggoda akal sama sekali. Hal ini karena hawa nafsu maunya yang mudah, enak dan menjanjikan kenikmatan, sementara akal tidak demikian. Akal hanya untuk hal-hal yang logis dan rasional. Misalnya

Tuhan itu pasti ada (masuk akal), tetapi keberadaannya kita tidak mungkin kita mampu menjangkau_Nya (inilah fungsi iman)

Tuhan itu ada dan Maha Sempurna (wilayah iman), kalau ada sifat yang mengaburkan kesempurnaan_Nya berarti bukan Tuhan (ini wilayah akal)

Hidup kita merupakan tugas kita sendiri apakah mau menjadi manusia baik/ buruk, bukan tugas seseorang untuk menanggung dosa kita (ini tugas akal), kemudian pertanggung jawaban hidup kita di akherat (ini wilayah iman)

Jadi akal dan iman seiring sejalan, tidak bisa salah satunya mengendalikan jiwa (nafsu) kita karena akan menyebabkan kesesatan. Apakah akal anda setuju dengan penjelasan saya?

Demikian dan terimakasih

Salam
AB

Kemudian inilah email berikutnya. Silahkan klik disini untuk membacanya



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment