Sep 1, 2014

Belajar Manajemen Jiwa Untuk Kekayaan dan Ketenaran

Keyakinan itu didapatkan dari pemahaman, sementara pemahaman seringkali melalui ilmu. Jadi keyakinan tanpa ilmu adalah menyesatkan. Bagaimana kalau mengetahui sebuah dasar ilmu dimana ia tidak mau mencoba mengejawantahkan dasar ilmu tersebut? Kalau menurut saya ini namanya fanatik.

Contoh, kalau sholat harus sujud, mengapa harus sujud? Karena ini merupakan sebuah rukun atau hal-hal yang wajib dilakukan. Mengapa wajib? Lalu kadangkala jawabannya begini, "Sujud itu adalah wajib dalam sholat, dan anda tidak perlu mempertanyakan lagi"

Menurut saya jawaban seperti ini terlalu naif dan fanatik. Seharusnya sebagai muslim carilah selain alasan hukum agama. Kalau sudah menyangkut syariat memang ini adalah masalah prinsip dan tidak boleh ada perubahan lagi. Namun ternyata ada sebab dibalik sebuah syariat, oleh karenanya carilah sebab itu.

Kebanyakan kita hanya terpaku kepada syariat, sementara sebab daripada lahirnya syariat malah diketahui oleh orang yang tidak tahu agama dan sebagian lagi diketahui oleh non Islam. Lihat saja bagaimana pendapat para pakar mengenai keajaiban sujud yang mempengaruhi hormon endorphin. Dengan mengetahui hal ini maka sebagai muslim kita akan semakin takjub dan bertambah iman disamping iman yang telah ada.

Sayangnya sebagian besar sebab adanya syariat banyak ditemukan oleh ahli atau ilmuwan eropa dan amerika.

No problem lah... Tidak apa-apa yang jelas kita bisa mengetahui alasan mengagumkan dibalik adanya hukum agama.

Kemudian ada sebuah ayat Al Qur'an yang maknanya kurang lebihnya Allah swt akan mengabulkan dan memperkenankan doa semua hamba_Nya yang berdoa. Ayat ini seharusnya memacu semangat kita, misalnya kondisi seperti apakah sehingga Allah akan mengabulkan doa kita dengan garansi 100%?. Kemudian carilah jawabannya.

"Oooo ternyata doa yang dipanjatkan oleh hati yang taqwa kemudian ikhlas dan tawakal kepada_Nya" Setelah menemukan jawabannya maka carilah apa makna taqwa, tawakal dan ikhlas. Setelah ketemu sebab ini kemudian carilah alasan mengapa harus tawakal dan lain sebagainya. Baca, pahami dan resapi perintah dan khabar gembira ini dengan nurani.

Taqwa, tawakal, ikhlas dsb adalah kondisi bathin dalam hal ini lebih mewakili hati. Kemudian keingintahuan berlanjut, hati yang mana? Maka akan ketemu dengan jiwa.

Artinya doa itu sebenarnya dipanjatkan oleh jiwa pada ujungnya, bukan hanya dimulut saja. Apa jiwa itu? Dimana dan bagaimana cara mengkondisikan jiwa?

Ternyata setelah belajar dari berbagai sumber, kemudian membaca ilmu ini dan itu ketemulah bahwa jiwa itu nafs atau nafsu. Artinya sebenarnya doa itu berasal dari nafs atau nafsu.

Lagian mana ada keinginan yang timbul dari akal? Akal itu tidak mempunyai hasrat, keinginan, cita-cita dan lain sebagainya. Bukankah malaikat hanya dibekali dengan akal? Oleh karena itu mereka tidak mempunyai keinginan atau nafsu. Sedangkan manusia mempunyai keduanya yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Nafsu adalah tempat keinginan sedangkan akal adalah pembatas keinginan.

Nafsu tanpa akal maka ia akan meminta apapun yang menyenangkan dan membahagiakan dirinya walaupun seringkali bersifat membahayakan. Sementara akal adalah tali yang akan menjerat keinginan nafsu supaya tidak liar dan seenaknya sendiri.

Oleh karena itu lakukan manajemen jiwa anda. Gunakan otak atau pikiran untuk mencari ilmu dan menggali kebenaran. Kemudian gunakan akal anda untuk mengendalikan keinginan nafsu setelah ilmu itu bisa dikuasai.

Contoh. Sudah 5 tahun lamanya Zul belajar ilmu bisnis, kemudian 5 tahun ia praktekkan ilmu yang sudah dikuasainya. Dengan ilmu tersebut ia bisa meraih semua keinginannya. Kekayaan, ketenaran, relasi dan lain sebagainya sudah Zul pegang. Lalu pada saat yang lain ia mempunyai keinginan untuk membuka cabang sebanyak 2 kali lipat dengan keyakinan kekayaan dan ketenarannya juga 2 kali lipat.

Melihat nafsu yang sudah liar ini kemudian akal menasehatinya supaya tidak mengejar dunia melulu. Maka akan ada 2 kemungkinan.

Kemungkinan pertama, Zul akan mengikuti nafsu liar tersebut. Hasil akhirnya apa? Kegagalan, kebinasaan dan kehancuran. Inilah rumus mengikuti hawa nafsu.

Kemungkinan kedua, Zul mengikuti nasehat akal. Hasil akhirnya apa? Justru kekayaan, ketenaran, kebahagiaan dan parameter kemenangan lainnya akan mengikutinya otomatis. Karena inilah rumus rahasia jika seseorang sudah mampu mengendalikan jiwanya sendiri.

Pembahasan ini menjadi panjang kalau diteruskan. Mungkin akan saya bahas satu persatu pada artikel lainnya.

Atau anda bisa belajar memahami rahasianya disini. Silahkan


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment