Sep 7, 2014

Begini Seharusnya Bersyukur yang Benar

Pernahkah anda mendengar anjuran untuk bersyukur? "Kalau kita mau bersyukur maka akan ditambah nikmat dan karunia, namun kalau kita enggan bersyukur maka balasannya adalah berbagai kesulitan demi kesulitan". Pasti pernah bahkan sudah tidak bisa dihitung lagi seberapa banyak kita mendengar anjuran ini. Namun sepertinya ada yang salah dengan pemahaman atau makna syukur, apa itu? Bacalah dengan seksama.

Kalau muslim bersyukur itu khan ucapan hamdalah, "Alhamdulillah". Tetapi makna bersyukur bukan hanya ucapan dimulut anda, sama sekali bukan. Jadi kalau setiap selesai sholat wajib kemudian anda mengucap hamdalah 33 kali artinya anda sudah mengucapkannya 33X5 = 165 kali setiap hari. Jumlah yang fantastis, belum lagi bacaan lainnya. Namun anda tidak akan mendapatkan apa-apa jikalau anda sekedar mengucap sebuah kata tanpa substansi.


Bersyukur itu masalah kondisi hati atau jiwa atau apapun bahasa anda yang penting rasa yang ada dalam dada. Rasa syukur artinya menerima sesuatu dan berterimakasih atas hal tersebut. Sekali lagi ini masalah perasaan dalam dada.

Bersyukur dalam kondisi apa? Bersyukur itu ketika dalam keadaan yang mampu menciptakan sebuah respon positif. Walaupun kejadian diluar bertabrakan dengan hasrat dan keinginan namun suasana dan kondisi didalam tetap dalam aura yang positif. Misalnya ketika kita menginginkan hidup berkecukupan namun kenyataannya setelah kita berusaha dengan sangat keras namun kecukupan itu belum juga bisa kita dapatkan. Apa dan bagaimana respon hati terhadap hal ini?

Normalnya atau defaultnya kita kecewa dan sedih. Artinya kejadian diluar akan memicu keadaan didalam. Jika diluar negatif maka akan memicu didalam juga negatif demikian pula sebaliknya. Ini lumrah dan seharusnya memang begitu.

Oleh karena itu ketika sinyal negatif yang sudah kadung masuk kedalam diijinkan untuk masuk lebih dalam lagi maka yang terjadi adalah emosi negatif. Sedangkan emosi negatif ujung-ujungnya adalah pemicu adanya kehendak untuk melakukan pengingkaran dan pembangkangan terhadap kejadian luar berupa takdir. Kalau sudah begini maka bukan solusi yang didapatkan namun malah kesulitan-kesulitan lain yang lebih besar.

Yang kedua adalah kejadian diluar yang memicu keadaan didalam. Maksudnya kejadian negatif misalnya selalu gagal, selalu bangkrut dan lain sebagainya akan memicu sesuatu dalam dada kita juga memancarkan energi negatif. Suasana hati atau keadaan hati atau warna hati akan berubah ketika ada ujian dari luar. Perubahan itu bisa berbentuk kesedihan, kemarahan, kekecewaan dan lain sebagainya.

Namun ketika energi negatif tersebut tidak diijinkan untuk masuk lebih dalam lagi maka ia akan memuai. Energi negatif tersebut pelan namun pasti akan habis dan hilang berganti dengan zona netral dalam rasa syukur yang dimanifestasikan dengan ucapan hamdalah. Analoginya begini, ketika anda memasukkan setetes tinta dalam ember maka air dalam ember akan berubah warna menjadi agak keruh. Namun setelah anda menambahkan air dalam ember sampai penuh, maka kekeruhan tersebut menjadi hilang, alias jernih kembali.

Bagaimana cara supaya respon negatif dalam hati bisa kita tangkal? Ada 2 tentara dalam hal ini yakni akal dan iman. Terserah definisi dan lokasi tentang akal dan iman, namun saya hendak mengkondisikan akal itu dalam kecerdasan sementara iman dalam hati. Untuk mengasah kedua senjata tersebut mau tidak mau kita harus berkenan membuka diri untuk belajar dan terus belajar. Akal bersifat mampu menguasai hal-hal yang logis dan rasional sementara hati mampu memahami hal-hal yang bersifat supra rasional (sampai saat ini akal belum bisa mencerna). Pembahasan mengenai Rasional dan supra rasional silahkan dibaca pada the Power of Spiritual Beliefs Rahasia Kunci Sukses.


Jadi seolah-olah akal mengatakan begini, "Jangan sedih, badai pasti berlalu sepanjang engkau mau belajar dan menuntut ilmu. Maka belajarlah untuk mencari solusinya baik dengan membaca maupun dengan belajar kepada ahlinya, kemudian terapkan ilmu tersebut dengan bekerja lebih keras lagi"

Kemudian hati seolah-olah mengatakan begini, "Jangan sedih, ujian pasti berakhir sepanjang kita tetap yakin dan percaya akan pertolongan Tuhan, karena Janji Tuhan adalah kepastian mutlak" 

Jika kedua senjata ini sangat tajam, maka dengan serta merta ia akan memotong habis energi negatif tersebut, namun jika akal dan hati kita lemah bahkan parah maka ia tidak akan mampu untuk menahan gempuran ujian kehidupan.

Energi negatif akibat ujian yang mampu kita lenyapkan dan digantikan dengan rasa syukur maka akibatnya adalah bergantinya ujian dengan ujian lain yang lebih berat. Misalnya dari awalnya miskin kemudian menjadi kaya raya :). Jangan salah kaya dan miskin tetap ujian kehidupan. Namun yang pasti kenikmatan didalam kesuksesan kita mengenyahkan ujian adalah kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan dikarenakan meraih kemenangan gemilang didalam melawan hawa nafsu. Sedangkan bonus kenikmatan itu adalah lepasnya kita dari segenap kesulitan yang hadir dalam hidup.

Namun jika energi negatif tersebut tidak mampu kita tangkal sehingga meresap dalam nurani, maka ia akan menggerakkan alam bawah sadar berupa perintah untuk ingkar. Sedangkan perintah dalam alam bawah sadar akan memicu sebuah kehendak yang pasti akan dieksekusi menjadi sebuah perbuatan. Misalnya, karena kekecewaan mendalam bahwa ujian kegagalan bisnis tidak segera berakhir maka orang tersebut jadi malas ibadah, suka marah-marah, kemudian pada akhirnya menggunakan cara-cara kotor didalam mencari solusi tersebut. Endingnya bagaimana? Ia akan berakhir dalam kehinaan baik dunia maupun akherat.

Mungkin orang tersebut nampaknya mendapatkan solusi berupa harta benda hasil korupsi, namun ia tidak menyadari bahwa perbuatan ini adalah bahan-bahan bagi terjadinya kebinasaan dan kehancuran total ke depan, kalau ia tidak segera bertaubat.

Sebaliknya orang yang sukses didalam memanifestasikan rasa syukur nampaknya malah sedang berada dalam kesulitan yang baru, namun kita tidak tahu bahwa kesulitan baru tersebut merupakan bahan baku yang wajib ada bagi kesuksesan dan kebahagiaan kedepannya.

Terakhir simak kembali janji Allah swt berikut ini

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(QS Ibrahim ayat 7)

Oleh karena itu seberat apapun ujian hidup anda saya mengajak diri saya sendiri dan pembaca pada umumnya untuk tetap memaksakan diri menepis aura negatif yang masuk kedalam hati dan menetralkannya dengan akal dan iman. Pasti akan ada saatnya solusi itu datang yang terbias dalam kebahagiaan, kenikmatan, kepuasan dan kemenangan. Kapan waktu itu datang? Tidak ada kapan-kapanan kalau anda memang secara jujur sudah dan sedang melakukan manajemen ikhlas dan syukur.


Ads
Magis7, sarana belajar melakukan manajemen jiwa dengan akal dan iman. Klik disini untuk melihat-lihat websitenya.

Rahasia Kunci Sukses, Belajar membuka pintu rezeki dengan doa dan amalan sukses. Klik disini untuk penjelasan lebih detail



Artikel Terkait



4 comments:

  1. Mantap Mas artikelnya

    ReplyDelete
  2. Dahasyat dan sangat terang penjelasannya ini sebuah pencerahan bagi saya ,terima kasih pak Adhin Busro yang selalu setia mengirim email buat saya.

    ReplyDelete