Aug 18, 2014

Ternyata Kita Tidak Menyadari Kalau Kita Tidak Beriman

Pernahkah anda mendengar atau bahkan melihat sendiri muslim yang alergi dengan hukum islam?. Banyak bahkan teramat banyak tipikal orang seperti ini. Mereka menyukai islam pada beberapa hukum dan membenci banyak hukum lainnya. Menurut saya keislaman seperti ini tidaklah baik dan harus segera diperbaiki.

Hukum Islam adalah aturan yang ada dalam agama islam yang mengikat pemeluknya. Jika anda muslim maka menjadi wajib berbegang teguh kepadanya dan mempercayai/ meyakininya. Jika ada orang yang tidak mempercayai bahkan tidak menyetujuinya, menurut anda apa sebutan orang itu?

Aturan Islam adalah hukum/ aturan/ teknologi Sang Pencipta yang juga berlaku didalam alam semesta. Misalnya tentang perintah ikhlas dan sabar dalam menghadapi ujian. Tumbuh-tumbuhan saja sabar dan ikhlas menghadapinya. Oleh karena itu anda melihat dengan mata kepala sendiri keutamaan/ akibat dari ketundukan kepada Allah swt dari tumbuhan. Karena dengannyalah kita bisa makan dan minum.

Jadi sebenarnya hukum/ aturan islam ujung-ujungnya mempermudah hidup kita. Bahkan memuliakan kita dengan kemuliaan dan kebahagiaan dunia dan akherat. Kemuliaan abadi. Namun kita tidak mengerti karena memang manusia adalah mahluk bodoh.

Ada seorang muslim yang rajin sholat, mengaji dan ibadah lainnya. Ia adalah muslim yang ingin hidupnya berkecukupan alias kaya. Ketika dinasehati begini, "Kalau mau kaya sedekah". Tetapi jawabannya malah begini, "Bagaimana mau sedekah, buat makan saja susah". Artinya apa? Artinya ia tidak percaya hukum/ aturan islam yang merupakan kebenaran mutlak. Ia percaya logikanya sendiri. Pada hakikatnya ia tidak beriman, tetapi tidak sadar.

Pembunuh balasannya dibunuh. Pezina dihukum rajam. Pencuri potong tangannya. Ini hukum islam yang seharusnya diaplikasikan dengan syarat-syarat tertentu. Tiba-tiba segolongan muslim membantahnya, "Melanggar HAM, tidak manusiawi, tidak sesuai perkembangan zaman, pergi saja ke Arab dan lain sebagainya". Anda paham sekarang? Logika, emosional dan hawa nafsunya diutamakan/ dituhankan. Mereka beriman kepada otaknya dan membantah hukum/ aturan Tuhan. Artinya mereka hendak membantah/ mendebat Tuhan, seolah-olah mengatakan begini, "Tuhan tidak manusiawi, Tuhan tidak lebih cerdas daripada otak saya" dll.

Dengan memakai alasan apapun kita mudah mengatakan bahwa, pada hakikatnya mereka tidak beriman/ yakin kepada kebenaran hukum Sang Pencipta, tetapi mereka tidak menyadarinya. Pada hakikatnya mereka hanya berdusta dengan iman yang diucapkannya.

Oleh karena pengingkaran tersebutlah hidup mereka kacau, selalu merasa miskin dan kekurangan, kering, dan super sibuk mengejar dunia. Mereka selalu merasakan beban dan ujian berkepanjangan serta sangat melelahkan. Sehingga mereka berdoa dengan kedua tangan menengadah ke atas. Bahkan meneteskan air mata akan beratnya ujian yang dialaminya.

Tetapi lagi-lagi ketika disodorkan cara/ aturan/ metode islami dalam menjemput rezeki umpamanya, tiba-tiba mereka tidak percaya/ tidak beriman. Bagaimana pertolongan datang tetapi mereka tidak beriman? Padahal dalam sebuah Firman Allah swt dalam Surat Al Baqarah 186 mewajibkan berdoa kemudian diikuti dengan beriman/ yakin akan (hukum/ aturan) Allah swt.
  • Kalau mau kaya sedekah, tetapi tiba-tiba mereka kikir
  • Kalau mau rezeki yang lebih luas hijrahlah/ pindah/ berubah. Namun mereka takut ditempat baru tidak mendapat rezeki.
  • Kalau mau pertolongan maka sabarlah dan sholatlah. Namun nyatanya mereka tidak sabar dengan ujian tersebut.

Salah siapa? Ya salah kita, jangan salahkan Sang Pencipta. Ketika sudah merasa berdoa lalu doanya tak kunjung terkabul, kemudian menyalahkan Tuhan. Kadangkala sholat wajib jadi malas, apalagi sholat dhuha dan tahajud. Salah siapa? Salah kita, tetapi tidak menyadarinya.

Renungkanlah Firman Allah swt berikut ini,

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al Baqarah 186)

Berdasarkan ayat diatas kita bisa membacanya bahwa segala doa/ permintaan pasti dikabulkan dengan syarat memenuhi perintah_Nya dan beriman/ percaya/ yakin dengan hukum/ aturan/ cara-cara Allah swt didalam mengabulkan doanya. Percaya kepada Allah swt bukan percaya kepada logika. Ini harus dicamkan baik-baik.

Jangan sampai kita mengatakan dimulut bahwa kita orang yang beriman/ percaya/ yakin kepada Allah swt, namun pada hakikatnya tidak benar-benar beriman, namun tidak menyadarinya. Jangan sampai kita hanya berdusta dan menipu Allah swt, namun tidak sadar. Bacalah, dan renungkanlah baik-baik firman Allah berikut ini,

Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS Al Baqarah ayat 8-10)

Demikian semoga menjadi bahan perenungan saya dan anda. Wallahu A'lam

Ads/ Iklan: No ads here, its free article


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment