Aug 6, 2014

Syariat Islam Yang Terkesan Menakutkan

Ketika melihat syariat Islam dimana banyak ritual yang harus dijalani. Kemudian melihat hukum syariat itu sendiri seperti potong tangan, rajam dan aturan yang terkesan kejam lainnya. Atau anda pernah melihat laki-laki berjenggot panjang dan lebat yang tempat tinggalnya, dirumah dan dimasjid, dimasjid dan dirumah. Terkesan kaku dan menakutkan, seakan-akan sudah siap-siap golok untuk menebas batang leher anda... :)

Laki-laki berjenggot yang berwajah kaku, dingin, susah senyum dan penggambaran lainnya. Cenderung menyendiri dimana susah untuk melakukan aktifitas sosial untuk sekedar komunikasi dengan warga lainnya. Jika lewat didekat anda maka segera tercium aroma minyak wangi khas non alkohol. Bisa jadi pada kesempatan itu ia mengajak anda untuk sholat dimasjid. Ya sekedar mengajak sholat dimasjid dengan basa-basi yang memang sudah basi..

Itulah gambaran Islam dan Syariat yang terkesan menyeramkan dan menakutkan. Tentu saja kalau berbicara mengenai orang berjenggot tidak semua terkesan menakutkan seperti itu. Masih ada banyak yang tidak demikian. Cuma kesan/ persepsi seringkali sudah terlanjur demikian pula.

Kalau sudah begini menurut kita-kita, Islam jadi susah untuk menjadi rahmat semesta alam.

Siapa yang salah? Tidak ada. Persepsi timbul karena otak terbiasa dengan konsumsi informasi yang terkadang tidak seimbang. Ditambah pemahaman kita tentang syariat agama yang masih minim, maka jadilah informasi-informasi dari media menjadi rujukan yang dipercaya. Hal ini menjadi umum didunia barat, dimana persepsi Islam adalah agama keras/ perang dan mengajak pemeluknya untuk melakukan tindakan anarkis/ terorisme.

Padahal dari segi ajaran hanya agama inilah yang mengandung kebenaran dan mempunyai aturan terlengkap. Cuma kayaknya, kita perlu memahami dari sudut pandang yang lain sehingga mau menerima dengan sesadar-sadarnya akan syariat islam.

Syariat tidak sekedar orang berjenggot, atau hukum rajam saja, namun jauh lebih banyak aturan-aturan lainnya. Cuma, aturan lain menjadi tenggelam dengan adanya persepsi yang salah mengenai kekerasan dalam islam.

Kalau ada yang mengajak orang awam, atau bahkan preman ber KTP Islam untuk sholat dan mengatakan, "Sahabat, ayo sholat, karena sholat adalah kewajiban bagi muslim dimana merupakan syariat Allah swt". Maka bisa jadi jawaban dari pertanyaan ini kurang memuaskan anda, atau malah ada sebagian dari mereka yang pergi meninggalkan anda dengan sumpah serapahnya.

Buktinya banyak yang mengaku islam namun jarang sholat. Mungkin bisa dimulai ajakannya begini, "Sholat yuk, supaya mendapatkan ketenangan dan solusi dari masalah kita masing-masing".

Sekilas terkesan pamrihnya dengan kentara, namun begitulah kodrat/ fitrah manusia yang selalu pamrih. Asalkan pamrihnya kepada Allah menurut saya tidak masalah. Bisa jadi alasan sholat pada satu kesempatan supaya ada harapan mendapatkan solusi dari masalah mereka masing-masing. Pada awal menanamkan kepahaman hal ini menurut saya tidak apa-apa. Karena yang namanya pemahaman pasti memerlukan waktu dan proses. Pada akhirnya kita akan memahami bahwa sholat merupakan kewajiban.

Pondasi awal yang perlu dipahamkan kepada muslim awam adalah tentang sahadat. Bukan semata-mata kalimat sahadat namun lebih kepada substansi atau makna yang ada didalamnya. Jikalau sahadat sudah paham maka sholat dll akan mengalir otomatis sebagai sebuah syariat yang memang menjadi kewajiban muslim.

Intinya, sepertinya kita memerlukan cara mengkomunikasikan tentang syariat islam dengan sudut pandang yang lain, sehingga dengannya mudah pula diterima dan diterapkan. Tidak sekedar ini wajib, ini sunnah, ini halal, ini haram, tetapi lebih kepada alasan logis dan ilmiah mengapa berlaku seperti itu. Kemudian apa keutamaan secara logis dari melakukan ibadah dan lain-lain. Analogi-analogi atau perumpamaan-perumpamaan yang diambil dari semesta alam menurut saya merupakan hal yang mempermudah pemahaman seseorang.

Misalnya, sholat adalah bentuk ibadah/ pengabdian kepada Tuhan sekaligus bentuk dari ketundukan dan rasa syukur akan karunia sang pencipta. Seperti matahari yang tunduk kepada sunnatullah, sehingga dengannya ia memberikan sinar yang mampu menjadi sarana bagi hidupnya bumi ini. Demikian juga sholat yang akan menjadi wasilah bagi sinar petunjuk, sehingga dengannya ia akan mulia dan mampu memuliakan orang lain.

Sementara orang yang tidak sholat, pada hakikatnya meredupkan dirinya sendiri sehingga sinar kemuliaan itu menjadi hilang. Seperti orang yang berjalan digulita malam dengan jaminan tersesat. Maka orang yang tidak sholat akan tersesat dan tidak akan menemukan jalan kebahagiaan selamanya.

Jika segala hal mengenai aturan Allah dimana DIA pula yang menciptakan aturan alam semesta dijadikan sebagai ibroh/ analogi maka seluruh syariat menjadi masuk akal dan memang mau tidak mau harus begitu. Jadi muslim yang jarang beribadah akan termotivasi untuk beribadah, karena aturan kebahagiaan mau tidak mau dengan cara mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Kalau sudah begitu syariat menjadi satu-satunya kewajiban yang dirasakan oleh jiwa-jiwa manusia yang menginginkan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup didunia dan akherat. Syariat sudah tidak lagi menakutkan namun menjadi kewajiban.



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment