Aug 12, 2014

Muslim dan Tuhan Logika

Muslim, dan ia melakukan ibadah layaknya seorang muslim dengan giat. Sholat, puasa, zakat, membaca kitab suci, dan aktifitas ibadah lainnya merupakan kegiatan yang rutin dilakukan. Paling tidak secara ritual terlihat/ nampak sebagai seorang muslim yang taat. Tetapi disinilah masalahnya, dimana sebagian besar muslim ternyata sadar atau tidak sadar lebih beriman/ percaya/ yakin kepada logikanya sendiri.

Aktifitas ibadah yang katanya menyembah Tuhan Pencipta alam semesta menjadi kering maknanya dikarenakan pada hakikatnya yang disembah adalah logika. Logika menjadi Tuhan.

Kalau kita kembali kepada bahasa Arab sebagai bahasa kitab suci Al Qur'an, maka makna ilah adalah Tuhan, atau sesuatu yang disembah, dipercaya, diyakini, diimani dan dipegang kata-katanya. Maka Allah swt adalah Dzat Yang disembah dan diyakini firman_Nya adalah kebenaran mutlak, kemudian dijadikan aturan dalam agama menjadi pegangan hidup yang dipercaya sepenuhnya. Ini perlu dipahami dulu..

Tuhan Pencipta Alam Semesta mempunyai aturan/ hukum/ design yang mengikat alam semesta. Tanpa ikatan hukum tersebut alam semesta yang biasa kita lihat ini pasti dijamin tidak akan bisa serasi, seimbang dan sempurna. Satu saat matahari terbit dari arah timur, pada saat yang lain bisa terbit dari barat atau utara. Terserah si matahari itu sendiri. Tetapi hukum Tuhan memaksa dan mengikat sehingga mau tidak mau, suka tidak suka matahari harus terbit dari timur dan tenggelam ke arah barat.

Demikian pula aturan Tuhan yang tertuang dalam kitab suci bersifat memaksa atau mengikat alam semesta khususnya manusia yang mempunyai kehendak bebas. Manusia bebas untuk beriman/ yakin atau ingkar/ kafir. Terserah si manusia..

Tetapi yang namanya muslim maknanya adalah golongan manusia yang tunduk kepada aturan Tuhan atau menyerahkan diri sepenuhnya kepada apapun aturan yang mengikatnya. Jika ada manusia yang ingkar maka pada hakikatnya ia bukan muslim. Dan muslim yang ingkar artinya tingkat keislaman/ kepasrahan masih dipertanyakan. Manusia seperti ini dinamakan muslim yang tidak keseluruhan/ bukan muslim kaffah. Siapa mereka? Jelas sebagian besar muslim yang ada didunia ini.

Misalnya, seorang muslim harus sholat, maka jika tidak sholat ia bukan muslim yang sempurna. "Tetapi khan saya capek, tetapi khan saya sedang berkendara, tetapi dan tetapi lainnya" adalah alasan pembenaran logika.

Jangan memilih pemimpin diluar Islam, maka tiba-tiba logika menjadi tuhan. "Tetapi khan dia baik, tetapi khan dia walaupun non muslim orangnya tegas, tetapi dia lebih cocok" dan seribu alasan pembenaran menuruti logikanya. Peraturan Tuhan, pemimpin adalah mereka yang muslim yakni pribadi yang menyerahkan jiwa raganya kepada aturan Tuhan Semesta Alam. Maka ketika ada yang mendebat aturan ini apapun alasannya, artinya mereka lebih yakin dan percaya kepada cara pemikirannya sendiri/ logikanya sendiri.

"Sungguh tidak berperikemanusiaan, si anu memang membunuh, tetapi tidak harus ia dihukum mati. Si fulan juga tidak seharusnya dirajam, hanya karena berzina. Ini melanggar HAM". Inilah sebuah fakta yang harus kita akui, yakni anggapan hukum/ aturan Tuhan tidak lebih baik dari cara berpikirnya. Mereka hakikatnya ingkar terhadap Tuhan YME dan kemudian menyembah logika.

Hal ini sekarang sudah menjadi hal yang banyak terjadi. Yakni muslim yang lebih yakin kepada cara pandang/ logika. Oleh karena itulah akibat dari pengingkaran pasti balasan yang setimpal sebagai sebuah konsekwensi logis. Ketika aturan Tuhan Semesta Alam ditolak/ tidak dipercaya/ tidak dijadikan pegangan hidup maka berlakulah sebuah ketetapan yang lain sebagai akibat. Sudah jelas ketetapan dari keingkaran adalah perjalanan/ proses menuju kehancuran.

Kemiskinan, kerusakan, bencana, dan venomena negatif/ buruk lainnya disebabkan oleh keingkaran itu tadi. Maka tidaklah usah melihat terlalu jauh penyebab dari bencana demi bencana yang terus melanda dunia ini, lihatlah siapa dia yang terlihat didepan cermin.

Apakah anda miskin/ kekurangan secara ekonomi/ financial maka kesalahan anda adalah sifat keras kepala. Yakni percaya kepada logika dari pada Tuhan Semesta Alam. Atau anda banyak berhutang, menganggur, ditinggalkan, dihina, diremehkan, diacuhkan dan segala hal yang terkait dengan ujian maka itu disebabkan perbuatan tangan kita sendiri. Ujian ini bertujuan supaya manusia mau kembali kepada Tuhan YME yakni Allah swt kemudian beriman kepada_Nya dengan kaffah.

Ujian yang terus menerus menimpa kita bertujuan supaya kitanya tidak menuhankan logika kemudian mau kembali kepada Tuhan yang benar, yakni DIA Pencipta aturan yang memaksa/ mengikat alam semesta untuk tunduk kepada_Nya.


Artikel Terkait



2 comments:

  1. Baik pak, bukan berarti sy menuhankan logika. Hanya berpendapat. Bapak menyampaikan bahwa: Peraturan Tuhan, pemimpin adalah mereka yang muslim yakni pribadi yang menyerahkan jiwa raganya kepada aturan Tuhan Semesta Alam. (sy setuju).
    Tetapi pada kenyataannya calon pemimpin kita pada waktu pemilu tidak ada yang muslim seperti dalam pengertian bapak. Hanya bisa melihat dari agamanya saja. Agama islam, tetapi jika tidak muslim? Yg agamanya non islam, tidak muslim juga.
    Bagaimana cara kita menentukan prioritas pribadi mana yg sebaiknya kita pilih? Mohon penjelasannya. Terima kasih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muslim yang muhlis memang jarang. Tetapi muslim secara awam bisa di cek dari agama mereka.

      Pilihlah yang mendekati kebenaran yakni seiman.

      Delete