Aug 13, 2014

Hikmah Dibalik Ujian/ Musibah

Ujian/ musibah seakan-akan sudah menjadi menu utama kita semua. Sepertinya tidak ada satu manusiapun yang tidak mendapatkan musibah/ ujian itu tadi. Ada banyak/ beragam jenis ujian/ musibah yang terkadang begitu berat menghimpit hidup. Air mata serasa kering, pikiran serasa buntu untuk menemukan solusi.

Beberapa bentuk ujian/ musibah tersebut diantaranya
  • Kemiskinan. Betapa banyak sahabat kita yang merasa kekurangan, terutama terkait dengan harta benda. Dengan pekerjaan yang serabutan, kuli bangunan, buruh kecil dsb tdk menjamin sama sekali untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keluarganya. Apalagi mereka yang penangguran, tentu saja sangat tidak menjamin untuk memenuhi kebutuhannya.
  • Kehilangan. Bisa dalam bentuk kehilangan uang seperti hutang yang menghimpit. Bisa juga kehilangan dalam bentuk lain, misalnya selalu saja gagal, bangkrut dsb. Kehilangan harta benda, bahkan nyawa adalah salah satu contoh yang lain.
  • Kelaparan. Musibah ini tidak hanya terkait dengan kemiskinan. Kadangkala kondisi tertentu menyebabkan banyak orang mengalami kelaparan, misalnya negara yang dalam kondisi perang.
  • Ketakutan. Ujian/ musibah ini bisa jadi ketika negara dalam keadaan perang, chaos dsb sehingga menyebabkan ketakutan. Ketidakamanan lingkungan yang akut juga menyebabkan rasa takut yang berlebihan, sehingga tidak bisa beraktifitas sebagaimana mestinya.

Mengapa banyak ujian yang terjadi dan bahkan menjadi konsumsi kita sehari-hari? Inilah hikmah besar yang harus kita pahami dibalik ujian/ musibah tersebut.

Anda harus benar-benar meresapi tulisan saya ini. Kebanyakan musibah yang terjadi dikarenakan manusia tidak bertuhan. Sebagian besar menuhankan logika dari pada metode Tuhan didalam menemukan solusinya. Mereka menggunakan otak yang serba terbatas untuk mencoba mencari solusi, dan seringkali hasilnya kebuntuan.

Mereka terus saja berpikir dan bekerja dengan sangat keras sehingga katakanlah menghasilkan uang. Namun uang yang dihasilkan cepat sekali habis untuk kebutuhan yang tidak jelas. Hingga akhirnya miskin lagi, stress lagi. Bisa jadi ada yang menasehatkan untuk sedekah, namun jawabannya seringkali seperti orang yang tidak bertuhan. "Jangankan sedekah, untuk makan saja susah". Inilah maksud saya menuhankan logika/ pikiran.

Saya tidak peduli walaupun mereka beragama, dalam hal ini misalnya muslim yang taat. Karena agama adalah pegangan hidup dunia akherat, sementara orang beragama seringkali tidak menjadikan aturan agama sebagai pegangan hidup. Meskipun secara ritual baik sholat, puasa dsb dilakukan dengan rutin, namun substansi ibadah tersebut ternyata tidak meresap dalam jiwa.

Saya banyak menemui orang-orang yang terlihat taat didalam menjalankan ritual keagamaan, namun ketika tiba kepada sebuah aturan agama, tiba-tiba mereka tidak setuju, seolah-olah menganggap aturan logikanya lebih baik. Misalnya tentang poligami, yang banyak tidak disetujui dikarenakan melanggar HAM dll. Cukup setujui saja walaupun anda tidak menyukainya karena inilah aturan agama yang merupakan manisfestasi dari aturan Tuhan Semesta Alam.

Musibah/ ujian yang bertubi-tubi sehingga menyebabkan pikiran yang dituhankan sadar atau tidak, mengalami kebuntuan, diharapkan akan menyadarkan manusia agar kembali kepada Tuhan Semesta Alam. Yakni percaya dan yakin bahwa ada Tuhan dan aturan-aturan_Nya yang menjadi garansi bagi ditemukannya solusi. Diharapkan ketika masalah begitu menghimpit, maka jiwa manusia mau mengadu kepada_Nya dengan mengatakan, "Tuhan tolonglah kami".

Pada saat itu diharapkan manusia mau sedikit mengesampingkan logikanya dan mau mencoba untuk percaya/ iman kepada aturan Sang Pencipta. Misalnya sedekah, silaturahmi, dhuha, hijrah, taubat, tawakal dan lain sebagainya yang merupakan jalan kemuliaan serta kemenangan. Ini yang dimaksud hikmah dibalik ujian, yakni agar manusia mau kembali kepada Sang Pencipta alam semesta dan mengesampingkan logika serta tuhan-tuhan lain yang disembah dan dipercaya.

Sekali lagi ini menjadi sangat penting untuk kita renungkan bersama-sama. Karena logika yang dibalut dengan nafsu dan egois sangat sulit untuk dikesampingkan. Mengikuti/ nurut kepada logika Sang Pencipta benar-benar tidak mudah, apalagi logika yang berbalut hawa nafsu sudah sejak lama dipercaya/ diimani. Sekali lagi, saya banyak menemui orang-orang yang keadaan ekonominya semrawut, namun ketika saya menawarkan aturan Tuhan Semesta Alam didalam menjemput kekayaan, tiba-tiba mereka kabur. Pada akhirnya untuk menghilangkan tekanan hidup dan bathin, mereka mencekik botol/ mabuk. Masalah hilang sementara kemudian muncul lagi dalam skala yang lebih berat.

Ada beberapa cerita,

Pada waktu yang lain saya berdiskusi dengan sekelompok orang membahas tentang calon pemimpin yang akan menjadi leader bagi sebuah komunitas. Setelah berlalu beberapa lama sampailah kepada momentum dimana saya menyampaikan kriteria calon pemimpin yang baik, dan jelas menurut aturan agama Islam. Saya menyarankan untuk mencari pemimpin yang memiliki 4 kharakter yakni shidiq, amanah, tabligh, fathonah. Dan yang pasti seiman. Namun apa yang terjadi? Banyak sekali yang mendebat usulan saya dan tidak menyetujuinya. Pada akhirnya leader yang dipilih berasal dari agama lain, padahal komunitas tersebut mayoritas anggotanya muslim. Seiring waktu roda organisasi menjadi pincang, karena keputusan-keputusan yang diambil serasa tidak adil. Para pendukung yang awalnya ngotot mencalonkan si A pada akhirnya menyesal karena didepak/ ditendang dari pengurus organisasi tersebut. Salah siapa? Salah mereka yang memilih.

Suatu waktu, ada yang bertamu ke rumah saya dan mengeluhkan kondisi perekonomiannya yang berat. Walaupun sudah berusaha sekuat tenaga namun kondisinya tidak juga berubah lebih baik bahkan jauh lebih berat, apalagi ia baru saja melahirkan anak kedua. Seperti biasa saya menyarankan sesuatu yang saya tahu berasal dari aturan agama. Jauhi mabuk, jauhi mencuri, jauhi judi. Lalu perbaiki dengan sholat, sedekah, dhuha dsb. Walaupun sahabat saya tersebut mengangguk-angguk tetapi ternyata mabuk dan judi masih menjadi kebiasaan. Ia mengatakan kepada saya bahwa, dengan mabuk dan judi masalah menjadi hilang walaupun sementara waktu, sementara sholat, sedekah dsb melelahkan. Itulah tuhan logika mengalahkan nuraninya.

Sobat, itulah beberapa contoh logika yang berhasil mengalahkan Aturan Tuhan. Meskipun tidak sedikit juga yang menerapkan apa yang saya sarankan kemudian mendapatkan perubahan hidup ke arah yang lebih baik. Ada banyak sekali contohnya, silahkan cek disini.

Intinya adalah, ada hikmah dibalik ujian/ musibah yakni supaya manusia mau kembali bersandar kepada Sang Pencipta. Menyerah dengan logikanya dan mengatakan, "Tuhan tolong kami". Apakah setelah itu akan ada harta karun turun dari langit? Tidak. Tetapi akan dibukakan peluang demi peluang kemuliaan yang wajib dilalui. Oleh karenanya sabar didalam melalui jalan tersebut adalah keharusan.

Karena iman juga membutuhkan bukti. Maka ketika ada manusia yang beriman, ia akan dimuliakan, namun melalui sebuah perjalanan sebagai bukti keimanan.

Ads.
Rahasia Kunci Sukses, Menguak Rahasia Aturan Kesuksesan. Anda akan kami pandu selama 360 hari, klik disini untuk melihat detail.


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment