Aug 25, 2014

Cara Melakukan Manajemen Jiwa didalam Menghadapi Ujian Hidup

.......Pahittttt sekali terasa hidup ini to spt Pak Adgin bilang... Sy banyak2 Bersyukur berucap Alhamdulillah walau dgn Pahit Pedih dan Sedih.... Doakan sy ya Pak Adhin semoga sy bisa cepat menjual semua aset2 properti sy utk membayar hutang dan ada kelebihan nya utk bekal Berhijrah ke Hidup yg lebih Berkah utk sy dan anak2... Aamiin........

Diatas adalalh salah satu curhat dari sahabat blog, juga member Rahasia Kunci Sukses sekaligus member magis7. Mari doakan agar beliau kuat menerima kepahitan hidup. Semoga beliau selalu sabar, ikhlas dan syukur. Tentunya kita juga mendoakan agar hajat beliau yakni menjual aset yang masih ada untuk membayar hutang bisa segera menemukan pembeli yang baik. Sehingga dengannya beliau bisa keluar dari masalah hidup tersebut. Amin



Memang kadangkala beban hidup begitu pahit bin getir jika dirasakan. Semua orang juga pernah mengalaminya termasuk saya. Namun jikalau keadaan diluar sangat berat, kemudian mempengaruhi keadaan didalam jiwa yakni rasa negatif (pahit) terus-terusan maka solusi akan susah didapatkan.

Oleh karena itu, paksakan hati untuk menelan kepahitan dan menawarkannya dengan syukur dan ikhlas. Dengan mengkondisikan jiwa seperti ini, solusi akan mudah didapatkan.

Insya Allah nantinya jiwa kita akan lebih tangguh dan mempunyai prinsip yang kuat. Saat ada ujian berat merasa pahit lalu berhasil ditawarkan, saat hidup berkelimpahan merasa bahagia kemudian menjadi tawar lagi. Karena memahami bahwa kaya dan kekurangan sama-sama ujian Tuhan.

Karena jiwa yang lemah adalah saat ujian datang ia putus asa dan saat kelimpahan datang ia bersyukur. Sehingga berarti imannya lemah dan hanya mengikuti respon luar. Artinya jiwanya mudah terombang-ambing oleh situasi dari luar.

Allah swt berfirman;

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (Al Hadit 22-23)

Simak dan renungkan baik-baik kebenaran kalimah Allah diatas. Kita bisa melihat fokusnya tentang mengkondisikan jiwa. Yakni tetap slow atau "woles" apapun ujian yang dihadapinya baik kekurangan maupun kelimpahan. Ketangguhan manusia dengan jiwa yang tenang dikarenakan hati sudah memahami bahwa semua drama/ lakon sudah tertulis dalam sebuah ketetapan baku yang tidak bisa berubah.

Sedangkan jikalau jiwa ini sudah disetting demikian maka menjadi hal yang seharusnya jikalau solusi akan mudah didapatkan. Mengapa karena ada rumus/ teknologi lanjutan yakni, jiwa yang tangguh dijamin akan tetap mengkondisikan hati kepada rasa sabar, ikhlas dan tawakal. Sedangkan rasa sejati tersebut merupakan jalan bagi adanya solusi.

Simak firman Allah berikut ini,

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (At Thalaq 2-3)

Untuk tafsir silahkan baca versi Ibnu Katsir atau Al Misbach atau tafsir manapun yang bisa dipercaya.

Saya hanya ingin sedikit membahas, dimana benar/ salah tetap wallahu A'lam. Apa taqwa itu? Maka akan sampai kepada sebuah kalimat yang biasa kita dengar yakni, menjalankan perintah_Nya dan menjauhi larangan_Nya. Inilah taqwa..

Artinya Taqwa terkait dengan tindakan. Namun kita tidak sadar bahwasanya tindakan seseorang disebabkan oleh sebuah siklus. Jadi ketika anda mendengar anjuran taqwa ribuan kalipun tidak akan berefek kepada tindakan jikalau anda tidak memahami siklus tindakan.

Perlu diketahui bahwa tindakan itu dihasilkan dari sebuah niat/ kehendak. Sedangkan kehendak disebabkan oleh adanya kecenderungan/ kecondongan jiwa (Nafs). Ada 3 jenis jiwa yang bisa anda baca disini. Artinya jika jiwa anda tergolong nafs amarrah maka ribuan kali mendengar kata taqwa maka ribuan kali juga anda mengingkarinya. Jika jiwa/ nafs anda adalah nafs muthmainnah maka tidak usah disuruh bertaqwa maka anda akan mencari jalan mendekatkan diri kepada_Nya. Jika nafs anda adalah Lawwamah maka ribuan kali mendengar kata taqwa maka bisa jadi setengahnya mencoba untuk patuh dan setengahnya ingkar. Namun setelah adanya pengingkaran kemudian jiwa anda kan menyesalinya. Nafs/ jiwa lawwamah inilah yang dimiliki kebanyakan manusia.

Kencenderungan jiwa/ nafs disebabkan oleh perasaan hati. Hati yang ikhlas, sabar dsb akan mudah untuk menerima petunjuk. Sehingga dengannya sebenarnya ia sedang membentuk jiwanya menjadi jiwa yang tenang. Sementara hati yang putih (sabar, ikhlas dsb) disebabkan telah memahami sesuatu. Dan sesuatu itu bernama kebenaran yang dilihat, digali, dirumuskan kemudian disimpulkan. Aktifitas berpikir dengan ilmiah, lurus dan rasional adalah merupakan pintu bagi pemahaman akan kebenaran.

Kemudian darimana pikiran menemukan data dan fakta yang membuktikan kebenaran. Tentu saja dibantu dengan raga (panca indera) baik mata, telinga, hidung, kulit dan lain sebagainya. Respon awal berasal dari luar lingkungan yang kemudian meresap dalam alam kuantum (bathin).

Oleh karena itu menjadi penting untuk membiasakan diri berpikir dengan logis dan rasional agar kebenaran dan iman (walau tidak rasional) akan mudah masuk dalam hati. Pada akhirnya yang namanya tawakal, taqwa, syukur dan lain sebagainya adalah amalan kuantum yang mudah sekali di setting.

Jadi urutan kehendak dimulai dari panca indera --> Pikiran --> hati (perasaan) --> Jiwa (bawah sadar). Sedangkan jiwa/ nafsu adalah pemicu adanya kehendak. Semua parameter diatas kecuali panca indera (raga) disebut dengan alam bathiniah.

Pembahasan mengenai kejiwaan ini saya bahas dengan lengkap dalam panduan magis7. Untuk seterusnya panduan ini akan saya sempurnakan. Bagi yang mau melihat-lihat silahkan kunjungi linknya disini.

Terakhir saya mengajak diri saya dan keluarga saya sendiri, kemudian pembaca pada umumnya, ayo kita tumbuhkan dan sempurnakan jiwa masing-masing. Caranya adalah dengan memaksakan diri untuk mengkondisikan hati kepada rasa menerima sepahit apapun ujian hidup ini. Karena semuanya adalah ujian dari Sang Pencipta (terlepas dari akibat kesalahan kita sendiri). Karena semua itu adalah ujian keimanan.

Memang seringkali ujian kehidupan itu begitu pahit sebagaimana jamu/obat. Tetapi kepahitan itu bisa menjadi obat bagi penyakit, dimana akan menjadi media penyembuhan pada saatnya.Oleh karena itu kalau ingin sembuh telan saja.... Jangan dilepeh/ dimuntahkan lagi...!

Ads
==> Dapatkan gratis panduan awal free member magis7, click here



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment