Jul 18, 2014

Kisah Mengharukan, Badai Pasti Berlalu


Cerpen “Badai Pasti Berlalu”



Karya: Adhin Busro yang sudah disempurnakan

Berikut ini adalah sebuah cerpen yang inspiratif dan mengharukan terkait dengan keyakinan kepada Sang Pencipta. Cerpen ini terinspirasi dari kisah nyata dengan beberapa tambahan di sana sini yang saya ambil dari blog saya sendiri www.adhinbusro.com. Tujuan dari cerpen ini adalah merangsang Anda untuk ikut merasakan sebuah rasa, yakni keyakinan berbalut iman. Bagi sahabat yang mau belajar lebih dalam tentang merasakan sebuah rasa silahkan klik disini. Selamat membaca sampai tuntas.

Jika internet anda fast speed bacalah sambil mendengarkan instrumen dibawah ini. (klik)

N/B; Sediakan tissue sebelum membaca :)
.................................................................................

Alkisah, pada tahun 2008 di kampung Bogor, di sebuah rumah kontrakan yang terkesan apa adanya cenderung kumuh hiduplah sepasang suami Istri. Zul nama suaminya dan Siti nama Istrinya. Mereka sudah merantau beberapa tahun ke Ibu Kota berharap ada perbaikan nasib. Pagi itu kebetulan tanggal satu pas gajian, bertepatan hari minggu sehingga Zul libur dari aktifitas pekerjaan sebagai sales lapangan. Subuh sudah lewat ditandai ayam yang sudah tidak berkokok lagi. Angin sepoi sepoi mulai menyapa pagi dengan lembut. Pohon Chery yang cukup rindang di depan rumah kontrakannya melambai-lambai pelan ketika angin pagi menerpa.

Zul duduk di teras kontrakan sambil menyeruput kopi tubruk buatan Siti, Istrinya. Terasa hangat dan nikmat tenggorokannya menikmati kopi tubruk kesukaan Zul. Kontrakan tersebut berada di daerah perkampungan Betawi, sehingga suasananya persis di kampung halamannya pinggir gunung Jawa Tengah. Dengan kursi plastik berwaran biru tua pemberian Pak De, Zul duduk bersandar menikmati pemandangan pagi. Di dekat teras rumah kontrakan Zul terdapat tempat pembuangan sampah sementara. Terlihat beberapa pemulung sedang mengais rezeki di pagi itu. Aroma busuk dari sampah tersebut cukup kuat menusuk hidung, namun sudah biasa bagi Zul dan Istrinya yang sedang mengandung anak pertama.

"Yah, lumayan lah, yang penting murah dan terjangkau" Batin Zul. Ia teringat bagaimana dia dan Istrinya pernah diusir oleh yang punya kontrakan di daerah Kampung Rambutan gara-gara tiga bulan belum mampu untuk membayar uang sewa. Makanya Zul mencari kontrakan yang murah dan terjangkau walaupun terkesan tidak begitu layak. Tidak masalah yang penting bisa menjalani hidup dengan lebih tenang dan tidak takut diusir lagi. Belum sempat Zul menghabiskan kopi, Istrinya memanggil

"Pah, ada telpon dari Emak". Teriak Siti, Istrinya dari dalam dapur.

"Ya Mah , sebentar". Jawab Zul

Zul buru-buru masuk ke dalam untuk meraih HP jadulnya. Sejak dahulu kalau berurusan dengan Ibunya, Zul selalu menomorsatukan dibanding urusan yang lain. Makanya dengan bergegas ia mengangkat telpon.

"Assalamualaikum, ada apa Mak?". Kata Zul mengawali pembicaraan melalui Hand Phone.

"Wa'alaikum salam, Gimana khabarnya Anakku? Sehat khan? Oh ya Zul, darah tinggi dan rematik Emak kambuh. Nek kowe ono duit kirimono emak, nggo perikso yo, mengko tak balikke? (Kalau kamu ada uang kirimi emak buat berobat ya, nanti saya kembalikan?)".

"Haduh, sejak kapan Mak? Sebentar saya ke kantor POS, ditunggu ya Mak?". Jawab Zul panik.

"Sudah beberapa hari Zul, rasanya sudah tidak karuan. Gusti Allah sing ngganti yo?". Kata Ibunya

Setelah itu, dengan bergegas Zul mengambil motor bututnya yakni motor Bebek warna hitam keluaran tahun 1994. Itulah sejelek-jelek motor yang pernah saya lihat. Setelah menceritakan kepada Istrinya dengan segera Zul melaju menuju kantor POS terdekat untuk mengirimkan sejumlah uang kepada Ibunya. Dalam perjalanan menuju kantor POS Zul singgah sebentar ke ATM dan mengambil seluruh gajinya. Separuh ia kirimkan kepada Ibunya dan separuh lagi rencananya akan diberikan kepada Istrinya untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus untuk memeriksakan kandungan.

Beberapa menit kemudian sampailah Zul di kantor POS terdekat. Ia masuk ke tempat pengiriman Wesel, ketika tiba-tiba ia teringat sebuah masa dimana tiba-tiba Ibunya jatuh pingsan dikarenakan hipertensi dan rematiknya kambuh. Kenangan itu sungguh membekas dalam hati, makanya kemudian walaupun sedikit berat, ia merelakan dua pertiga gajinya yang tidak seberapa untuk digunakan Ibunya berobat. Zul tidak ingin mendengar Ibunya jatuh pingsan lagi. Tidak ingin!.

"Ya Allah, rezeki hamba tinggal beberapa ratus ribu saja". Batin Zul selesai mengirimkan Wesel.

"Zul sebenarnya ingin sekali melihat Emak bahagia. Maafin Zul, karena belum mampu mak?". Zul membatin sedikit kecut.

Dari dulu sebenarnya Zul ingin sekali membantu Ibunya yang sudah berusia senja di kampung. Bisa merenovasi gubug, bisa membantu Ibunya dengan secara rutin mengirimkan uang sehingga beliau tidak perlu bekerja keras lagi, yang menyebabkan sakit-sakitan. Bahkan Zul ingin memberangkatkan Ibunya untuk pergi Haji. Zul trenyuh ketika melihat Ibunya memeluk sebuah gambar usang di dalam kamarnya puluhan tahun yang lalu dengan mata berkaca-kaca. Ternyata gambar yang di dekap Ibunya adalah gambar Ka’bah. Zul melihat tatapan mata Ibunya yang seakan-akan menerawang jauh merindukan rumah Allah tersebut.

Tetapi bagaimana mungkin?. Zul hanya seorang tamatan Sekolah Menengah yang saat ini bekerja sebagai sales lapangan. Hanya Kuasa Tuhan saja yang bisa menolongnya. Di satu sisi Zul ingin menjadi anak yang berbakti, disisi lain ia mempunyai seorang Istri yang sedang mengandung dimana membutuhkan dana untuk pemeriksaan rutin dan dana melahirkan.

"Tuhan tolong kami". Lagi lagi Zul membatin sambil menahan nafas yang agak berat. Nafas berat ujian kehidupan.

Zul keluar dari kantor POS hendak pulang ke rumah dengan membawa sisa uang yang masih ada di dompet. Ketika hendak menaiki motor butunya Zul dikagetkan dengan hadirnya seseorang wanita tua dengan menggendong seorang anak yang berumur sekitar lima tahun. Wajah sang anak terlihat jelas pucat pasi.

"Nak, tolonglah saya, sudah seminggu panas anak saya tidak juga reda. Saya ingin ke klinik tapi tidak punya uang" Kata Ibu-ibu tua memelas.

"Ibu Siapa?". Kata Zul

"Saya tinggal didekat sini nak, saya pemulung. Suami saya sudah meninggal, tolong saya kasih uang buat berobat nak. Saya sudah berusaha kesana kemari tapi tidak ada yang mau menolong" Kata Ibu tua sambil menangis haru.

"Aduh, gimana ya? Soalnya saya juga sedang susah Bu?” Jawab Zul.

“Tolong saya Nak, Ibu tidak mau anak sematang wayang ini meninggal. Demi Allah tolonglah saya Nak?” Kata Ibu tua pemulung tersebut dengan tangisnya yang makin menjadi-jadi.

Orang lain hanya berlalu lalang seperti tidak peduli dengan keadaan Ibu tua dan anaknya yang sedang sakit. Sebenarnya Zul kasihan melihat Ibu tua dan anaknya yang sesekali merintih, tapi uangnya tinggal sedikit yang akan digunakannya selama satu bulan. Hati Zull trenyuh. Ia melihat dompetnya yang berisi beberapa lembar uang lima puluh ribuan saja.

“Satu, dua, lima, enam. Ya Allah tinggal tiga ratus”. Batin Zul

Zul hendak memberikan satu lembar uang lima puluh ribuan kepada Ibu tersebut. Tapi mana cukup uang segitu untuk berobat?. Dalam kebimbangannya Zul melihat sekilas kepada sang anak yang pucat pasi. Sesekali anak tersebut merintih menahan sakit.

Zul benar-benar dalam kebimbangan yang besar, disatu sisi Istrinya membutuhkan disisi lain ada orang lain yang jauh lebih membutuhkannya sekarang. Tiba-tiba Zul teringat kenangan pahit saat dia masih kecil dimana Ibunya histeris melihat ia tiba-tiba kejang. Dengan kepanikan yang luar biasa Ibunya menggendongnya sewaktu demam sampai setep (Kejang), berlari kesana kemari meminta pertolongan, namun sepertinya tidak ada yang benar-benar tulus menolong. Sampai kemudian Ibunya berlari menggendong Zul, menuju rumah Pak Mantri (tenaga kesehatan dikampung namanya Pak Mantri). Padahal rumah Pak Mantri sekitar tiga kilo jauhnya.

“Pak Mantri, tolong.. Anak saya kejang-kejang, saya tidak mau melihat anak saya meninggal?” Kata Ibu saya saat itu sambil menangis meraung-raung, ketika sampai dirumah Pak Mantri.

“Kenapa anak Ibu?, cepetan bawa masuk biar saya periksa”. Kata Pak Mantri saat itu.

Pada akhirnya setelah di tolong Pak Mantri setep Zul berangsur-angsur sembuh. Dan pak Mantri yang baik hati menggratiskan biayanya karena paham akan kondisi perekonomian keluarga Zul. Bagi Zul, Ibunya adalah malaikat dan Pak Mantri yang menolong kami waktu itu bak berhati malaikat.

Mengenang kejadian tersebut, dengan reflek Zul mengambil isi dompetnya, semuanya dan memberikannya kepada Ibu Pemulung tua untuk digunakannya berobat. Dengan serta merta tangis sang Ibu mendadak berhenti dan berganti dengan sebuah senyuman penuh makna.

"Terimakasih Nak, pasti Allah dalam waktu dekat akan membalas kebaikanmu dengan berlipat ganda" Kata Ibu Pemulung tua.

"Amin, cepetan bawa bocahnya ke klinik Bu?" Jawab Zul.

Huff, Jadilah Zul memberikan seluruh gajinya kepada orang tuanya dan Ibu pemulung tua. Padahal saat itu ia benar-benar sedang membutuhkan sejumlah uang untuk membayar kontrakan, memeriksakan kandungan Istrinya dan untuk kebutuhan hidup lainnya.

Mengapa bisa begini?. Istri Zul sedang hamil besar, seharusnya ia pintar menabung untuk biaya persalinan Istrinya. Lagian ini adalah calon anak pertama Zul yang sudah lama dinanti-nantikan. Huh, kadang dunia nampak tidak adil. Bagaimana yang kaya semakin kaya raya, namun hatinya sempit. Kaya namun kikirnya setengah mati. Giliran ada yang hatinya luas seluas samudra, kondisi perekonomiannya kurang.

Dengan hati super galau, Zul naik motor bebek bututnya untuk bersegera pulang ke kontrakan. Ketika motor tersebut sudah menyala dengan tendangan maut pada kick starter. Lalu ia mendongakkan wajahnya, ia dikagetkan dengan hilangnya Ibu tua pemulung.

“Cepat amat Ibu itu pergi. Padahal baru beberapa detik yang lalu.” Ah, sudahlah, semoga anak malang tersebut tertolong dan segera sembuh”. Batin Zul


Sesampai di rumah kontrakan Zul melangkahkan kaki dengan gontai. Ia menceritakan semua kejadian di kantor POS kepada Istrinya. Manusiawi Siti, Istri Zul merasa sedih. Bagaimanapun juga ia sedang mengandung anak pertama yang membutuhkan perawatan.

“Pah, nanti untuk memeriksa kandungan anak kita pakai apa?” Kata Istrinya sambil menangis

“Nanti Papah jualin komputer dan HP Mah, Insya Allah cukup” Jawab Zul mencoba menyabarkan Istri.

“Itu khan komputer kesukaan papa, dan HP satu-satunya?” Kata Istrinya sedikit protes

“Tidak apa-apa Mah. Papah Ikhlas. Yang sabar ya? Kita pasrah saja sama Allah, Allah khan Mah a Kaya, Mah a Besar" Kata Zul kepada Istrinya.

Zul mendekap Istri dan berusaha menghiburnya. Manusiawi, sebenarnya hati Zul juga gundah gulana, tak tahu lagi harus melakukan apa. Kata-kata barusan hanya untuk menghibur Istrinya. Zul sangat beryukur Istrinya selama ini tabah menghadapi cobaan yang datang bertubi-tubi. Sebenarnya Hatinya remuk redam. Gajinya yang kecil dia relakan untuk orang lain yang membutuhkan. Semuanya malah. Dan itu semua dilakukan Zul karena memang ada yang jauh lebih membutuhkan uangnya.

Kegalauan yang luar biasa di hati dia sembunyikan dari Istrinya. Ia sedih mengingat masa hamil muda Istrinya di usir dari kontrakan lama. Sekarang lebih sedih lagi melihat Istrinya yang sedang hamil besar. Zul serba salah. Ia tak tahu harus melakukan apa. Zul buntu dan memendam kebuntuan hatinya selama ini dan tidak pernah menceritakan beban hidupnya kepada siapapun. Takut malah merepotkan. Takut malah nanti di hina.

Tapi sebagai manusia biasa Zul ingin curhat. Ia ingin membagi deritanya, supaya paling tidak sedikit berkurang. Tapi kepada siapa?. Selama ini tidak ada seorangpun yang peduli. Sampai akhirnya Zul ingat tempat curhat yang paling baik.

Pukul dua lebih seperempat Zul terbangun dari tidurnya. Memang ia berniat hendak bangun pada waktu tersebut. Malam menjelang pagi yang cukup dingin di kampung Bogor. Malam yang sunyi senyap, bahkan jangkrikpun enggan bernyanyi di malam itu. Zul kemudian bangkit perlahan-lahan dari tempat tidurnya, tidak ingin melihat Istrinya terbangun. Ia melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk mengambil wudhu kemudian menuju ruang tamu untuk shalat Tahajud dua rakaat.

Entah kenapa waktu itu Zul merasakan benar-benar khusuk dalam shalatnya, padahal selama ini ia jarang sekali sholat sampai khusuk. Ia merasakan kehadiran Tuhan dengan jelas dalam hatinya sehingga menumpahkan segala beban hidup kepada_Nya. Zul terbayang masa lalu sampai sekarang ini selalu dalam kekurangan. Ia teringat cerita bayinya yang tidak memperoleh air susu Ibu namun hanya air tajin, karena memang kondisi memaksa seperti itu. Ia juga terkenang saat masih anak-anak harus membantu orang tuanya bekerja di sawah. Terkenang saat-saat masih remaja harus merelakan dirinya menjadi kuli truk, menjadi pedagang asongan, pengamen dan pekerjaan hina lainnya. Ia melihat masa lalunya dimana sering ditertawakan oleh teman-teman sebayanya karena bajunya kumal, sepatunya sobek dan kulitnya gosong. Zul semakin sedih ketika membayangkan masa lalunya yakni ketika kedua orang tuanya seringkali mendapatkan hinaan, cacian dan penyepelean orang dikarenakan belum mampu membayar hutang.

Dan sekarangpun keadaan ekonominya yang masih saja carut marut. Makanya Zul mau curhat dan menumpahkan segalanya kepada Tuhan, karena hanya Tuhan yang mau mendengar curahan hati Zul, disaat manusia memicingkan matanya kepadanya.

Tak terasa mata Zul berkaca-kaca, darahnya terasa mengalir deras, tubuhnya mulai bergetar. Entah mengapa ia mulai menangis sesenggukan, padahal selama ini sangat jarang ia menjadi lemah. Nyatanya saat ini Zul begitu merasa lemah dan tak berdaya dihadapan Sang Pencipta. Ia sudah tak kuasa menahan kesedihannya di hadapan Tuhan. Zul mau menumpahkan segala beban hidupnya. Semuanya!.

"Allaahu Akbar” Zul bertakbir dalam sholatnya dengan suara yang berat.

“Yaa Allah Yaa Rabb, begitu Besar Kekuasaan Engkau dan begitu kecil masalah kami, Engkau Mengetahui masalah kami, Engkaulah Yang Maha Penyayang diantara Penyayang. Berilah kami kesabaran dalam menjalani ujian_Mu". Tepat selepas berdoa dalam sujudnya, terasa jelas air mata tumpah ruah membasahi sajadah usangnya. Zul menangis sesenggukan tiada bisa di tahan, larut dalam perasaan campur aduk.

Tanpa diketahui oleh Zul ribuan kilometer nun jauh di atas sana, langit bergetar melihat kesedihan hati dan keyakinan teguhnya di dalam mengorbankan segalanya untuk kebaikan orang lain. Air mata langit dalam gerimis malam turun ke bumi ikut mengiringi air matanya. Jutaan Malaikat berdiri dan berkerumun bershaff-shaff mendoakan keberkahan padanya. Angin, api, air dan besi bertasbih dan mengaku kalah dengan ketulusan seorang manusia bernama Zul.

"Yaa Allah, Maha Suci Engkau Yang Maha Tinggi, Janganlah beban hidup kami menyebabkan kami jauh dari_Mu, ajarkan kami untuk selalu mensukuri nikmat_Mu". Zul berdoa dalam tangis yang semakin mengharu biru.

Tepat setelah Zul selesai melantunkan doa dalam sujud, saat itulah langit diatas Kampung Bogor bergetar dengan hebatnya. Dan ketika tangisan Zul meledak-ledak maka tiba-tiba pintu langit seakan-akan ikut meledak, terbuka memancarkan sebuah cahaya terang benderang. Cahaya terang nan indah tersebut menukik cepat menuju bumi dalam hitungan detik. Laut yang dari tadi diam mulai menghentakkan gelombangnya merambat cepat sejauh radius ratusan kilometer. Bumi menggeliat dan bergetar melihat kesedihannya, alam ikut membuncah mengiringi setiap bacaan shalat tahajud Zul. Sebuah fenomena menakjubkan dan Maha besar yang disaksikan oleh milyaran Mahluk di seluruh penjuru langit dan bumi namun tidak satupun manusia mengetahui.

Seminggu kemudian...!

Alkisah, di sebuah kawasan industri yang berada di daerah Ibu Kota nampak sebuah pabrik yang baru selesai didirikan. Sore itu suasana pabrik cenderung sepi dikarenakan sebagian besar karyawannya sudah pulang. Pabrik baru nan megah tersebut sedang membutuhkan lebih banyak lagi mesin-mesin baru untuk beroperasi untuk bisa memenuhi pesanan dari pelanggan tepat waktu.

Beberapa ratus meter dari pabrik yang baru berdiri tersebut adalah tempat dimana Zul bekerja sebagai sales lapangan. Saat itu pukul 18.30 malam, saat ia berniat pulang kerja. Sungguh capek pekerjaan pada hari itu. Entah mengapa dalam beberapa bulan ini target yang diberikan perusahaan susah sekali bisa terpenuhi. Hal ini menyebabkan penghasilan Zul hanyalah gaji pokok dan uang transport yang tidak seberapa. Padahal ia menginginkan adanya bonus penjualan sebagai tambahan penghasilan. Zul benar-benar pusing dibuatnya. HP, komputer, kipas angin bahkan sebagian bajunya sudah ludes di jual demi kebutuhan hidup keluarganya.

Selesai sholat magrib Zul mengambil motor bututnya hendak pulang ke rumah kontrakan. Beberapa menit yang lalu langit nampak cerah, namun tiba-tiba mendung mulai menggelayuti dan gerimis mulai turun. Zul mengendarai motornya lebih cepat takut hujan akan turun lebih deras. Ternyata benar tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, sehingga Zul terpaksa menepi.

“Aneh, beberapa menit yang lalu langit cerah, tiba-tiba hujan deras kayak gini”. Batin Zul

Hati Zul galau sepertinya hujan akan turun lebih lama yang menyebabkan dia pulang ke rumah larut malam. Kasihan Istrinya yang sedang hamil besar menunggu di rumah. Bagaimana kalau terjadi apa-apa?.

“Ya Allah, mengapa hujannya tidak reda-reda?”. Zul menepi dan tanpa ia sadari menuju pabrik yang baru berdiri tersebut untuk berteduh. Ia berdiri didepan lobi pabrik, ketika kemudian datang seseorang yang tidak ia kenal menghampirinya.

"Assalamualaikum, kehujanan ya Dik?". Tanya orang yang menghampirinya. Ia adalah laki-laki setengah baya. Dari pakaian yang ia kenakan sepertinya beliau adalah staff pabrik tersebut.

"Waalaikumsalam, iya Pak, mohon maaf, boleh saya numpang neduh disini?". Jawab Zul

"Iya tidak apa-apa, saya juga mau pulang nunggu hujan reda, Saya Pak Amat staff pabrik. ngomong-ngomong kerja dimana dik?". Tanya Bapak tersebut

"Sales mesin industri PT. Mesin Jaya Bersama Pak, oya perkenalkan nama saya Zul". Jawab Zul sambil memperkenalkan namanya.

"Kalau boleh tahu Mesin apa, Nak Zul?". Tanya Pak Amat.

"Banyak Pak, mesin molding, press, genset dan lain-lain". Jawab Zul

"Oh ya?. Kebetulan sekali dik, perusahaan kami sedang butuh mesin banyak nih". Kata Bapak tersebut.

"Kebetulan saya bawa katalognya ni pak". Jawab Zul girang. Siapa tahu ada rezeki disini.

"Coba, boleh saya lihat?, nanti Bapak pelajari dulu". Jawab Pak Amat.

"Tentu boleh pak, sebelumnya terimakasih Pak Amat. Mudah-mudahan ada rezeki disini". Kata Zul girang. Bapak Staff Pabrik terlihat membuka katalog produk yang Zul bawa sambil mengangguk-angguk, namun Zul heran. Ia sudah banyak berbicara dengan Bapak Staff Pabrik tersebut, tetapi orang yang lewat hanya memandangi Zul saja dengan tatapan yang aneh. Bapak tersebut melanjutkan, "Dik, berterimakasihnya sama Allah ya?. Kalau mau berterimakasih misalnya lagi banyak rezeki, dik Zul bisa berbagi kebahagiaan kepada anak yatim, orang-orang jompo, menyumbang masjid dan lain-lain, khan berbagi sama orang tua dan fakir miskin sudah. Jangan lupa diri kalau lagi banyak rezeki ya nak?. Ngomong-ngomong katalognya saya bawa ya?".

"Baik pak, makasih nasehatnya, Insya Allah saya tidak lupa". Kata Zul nggak ngeh.

"Mau kemana Pak". Tanya Zul yang melihat Pak Amat sepertinya hendak pulang menerobos hujan.

"Mau Pulang Dik, assalamualaikum". Jawab Pak Amat sambil menerobos hujan.

"Pulang kemana Pak?". Tanya Zul tanpa sempat menjawab salam.

"Ke langit Dik". Jawab Bapak tersebut sambil tersenyum penuh arti.

Lagi-lagi Zul nggak ngeh. Pak Amat sepertinya suka bercanda. Zul hendak memanggil Pak Amat untuk bisa dia bonceng dengan motornya ketika tiba-tiba HP pinjaman dari Pak De nya berbunyi. Zul merogoh kantong untuk mengambil HP dan melihat nomor asing yang miskol. Ketika diangkat langsung dimatikan oleh orang yang miskol tersebut.

"Dasar orang iseng, pakai dirahasiakan segala nomornya". Batin Zul

Ia menaruh HPnya di saku dan hendak menyusul Pak Amat untuk menawarkan boncengan dengan dirinya. Namun anehnya Pak Amat sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya.

"Sudah pulang kali, kok cepet amat ya?". Batin Zul

Pas Pak Amat sudah tidak nampak seketika hujan berhenti. Zul melanjutkan perjalanan pulang ke rumah kontrakannya dengan sejuta pertanyaan dalam benaknya.

"Ah sudahlah, saya harus cepat sampai dirumah, kasihan Istri pasti sudah nunggu lama". Batin Zul. Ia mengendarai motor bututnya agak cepat supaya bisa segera sampai ke kontrakan. Sekitar pukul 10 malam, Zul sampai di kontrakannya dan melihat Istrinya sedang menunggu kedatangannya.

"Maaf Mah , Papa pulang telat tadi kehujanan". Kata Zul

"Masak sih Pa, disini tidak hujan kok, lagian khan musim kemarau". Jawab Istrinya

"Nggak tau nih Mah , namanya juga Jakarta, musimnya nggak jelas. Papa Mandi dulu ya?". Kata Zul. Selepas mandi Zul hendak makan malam. Perutnya sudah keroncongan dari tadi.

"Pah". Kata Istrinya lirih.

"Mamah hari ini tidak masak nasi, dirumah sudah tidak ada apa-apa. Tinggal ini Pa". Kata Istrinya menyerahkan ubi rebus yang dipotong kecil-kecil. Zul tidak tahu bahwa ubi rebus itu dibeli setelah Istrinya memulung beberapa kilo barang bekas kemudian dijual. Uang beberapa ribu rupiah hasil dari menjual barang bekas dipakainya untuk membeli ubi yang hanya cukup dimakan untuk satu orang saja.

"Makan gih pah, nanti sakit perut". Kata Istrinya

Zul tergelak, menelan ludah, memang benar rumah kontrakannya kosong melompong. Uang hasil dari menjual barang-barang bekas dirumahnya memang sudah dari beberapa hari yang lalu sudah habis. Ia menarik nafas dengan berat. Memang terasa berat sekali beban hidupnya.

"Buat Mama saja, Papa sudah makan tadi". Kata Zul berbohong.

"Mama tahu Papa belum makan, makanlah". Kata Istrinya lembut.

"Buat kamu Mah , khan Mama sedang hamil". Jawab Zul.

"Ya sudah kita bagi menjadi dua ya Pah". Kata Istrinya.

Lagi-lagi Zul tergelak menelan ludah, ia menghela nafas panjang pertanda sedang menahan kesedihan. Kemudian ia berkata kepada Istrinya dengan sedikit terbata-bata.

"Papa minta maaf Mah, Papa yang salah, Papa suami yang tidak bertanggung jawab, harusnya Papa tidak membiarkan mamah seperti ini". Kata Zul dengan berkaca-kaca. Terasa begitu berat beban hidupnya. Sepasang suami Istri berpelukan saling menumpahkan perasaan membuncah. Kesedihan, penderitaan, cobaan, kemiskinan dan lain-lain menjadi satu.

Malam menjelang pagi sekitar pukul 2:00 dini hari. Seperti biasa malam yang cukup dingin di langit Kampung Bogor.

"Aduuh...". Istri Zul terbangun dari tidurnya sambil menahan sakit di perutnya. Sepertinya ada keluhan seputar kehamilannya yang menginjak hampir 9 bulan. Saat dimana sangat dekat dengan kelahiran anak pertamanya.

"Pah, perut Mama sakit". Kata Siti, Istrinya sambil memegang perut besarnya.

"Mah, kenapa Mah?". Zul terbangun mendengar rintihan Istrinya Ia panik luar biasa melihat keadaan Istrinya yang sedang menahan sakit.

"Perut mamah Pah, Aduuhhh sakit pah". Jawab Istrinya sambil merintih menahan sakit. Tiba-tiba terlihat sebuah pemandangan yang membuat dada Zul berdegup sangat kencang. Darah segar mengalir melalui celah-celah paha Istrinya.


“Astaghfirullal ‘adziim, Mamah pendarahan”. Kata Zul memekik.

Zul kaget bukan kepalang. Hatinya kacau balau, sebuah perasaan cemas, takut dan kawatir yang sangat hebat. Ini calon bayi pertama Zul. Ia tidak mau kehilangan Istrinya dan anak yang sudah sangat lama ditunggu kehadirannya. Ini juga salah Zul yang kurang memperhatikan gizi calon anaknya. Bagaimana mau memberikan asupan gizi yang baik? Pakai apa? Daun?.

“Ya Allah, Astaghfirullah. Allah Allah.” Zul tak henti-henti menyebut nama Tuhan. Zul mengadu, merengek, dan memohon kasih sayang_Nya.

"Mah yang kuat ya? tunggu dua tiga menit meni, Papa mau ke bidan Suni di sebrang". Kata Zul

"Cepetan Pah, Mama gak kuat..". Kata Istrinya masih memegang perutnya.

Buru-buru Zul keluar rumah, dia berlari sekecang-kencangnya dengan tidak memperdulikan apapun juga. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana secepatnya bisa sampai ke rumah Bidan Suni sehingga bisa menyelamatkan Istri dan calon anak pertamanya. Ia menuju rumah Bidan Suni yang berjarak sekitar lima ratus meter dari kontrakan. Bidan yang selama ini membantu mengecek kehamilan Istrinya.

"Buuuuu, Assalamualaikum, Bu Bidaaan". Berkali-kali Zul berteriak dan menggedor pintu Bidan Suni sampai akhirnya Bidan tersebut membuka pintu rumahnya dengan mata sembab. Ia memang baru terbangun ketika mendengar ketukan keras pintu rumahnya sehingga masih terlihat mengantuk. Belum sempat bertanya, Zul sudah menyela duluan.

"Bu.. Istri saya pendarahan Bu, tolong ke rumah, tolong!" Kata Zul dengan panik.

“Sebentar Zul, Ibu siapkan peralatannya dulu. Tunggu saya di rumah ya?”. Jawab Bidan Suni.

“Baik Bu Bidan, tolong secepatnya ya Bu? Istri saya sudah tidak kuat katanya”. Kata Zul.

“Iya, kamu tenang ya?”. Jawab Bu Bidan.

Zul berlari kembali ke kontrakannya untuk memastikan Istrinya tidak kenapa-napa. Mereka menunggu kedatangan Bidan Suni ketika lima menit kemudian Bidan Suni sampai di kontrakan. Bidan Suni mengeluarkan stetoskop dan beberapa alat lainnya untuk memeriksa kandungan Istrinya. Kemudian ia memberikan beberapa obat.

"Alhamdulillah tidak apa-apa Zul. Bayimu selamat dengan tiada gangguan suatu apa. Istri kamu kelelahan, Ibu sudah berikan obat penenang dan pereda sakit, kamu harus perhatikan gizi Istrimu demi perkembangan calon anakmu. Istrimu perlu istirahat, jangan dipaksa untuk beraktifitas yang melelahkan". Kata Bidan Suni memberikan nasehat.

Bukan main leganya hati Zul dan Istrinya. Ternyata Istrinya kelelahan.

"Iya Bu Terimakasih banyak Bu, ngomong-ngomong maaf Bu Bidan Suni, kasbon ya?, Insya Allah gajian saya lunasi”. Kata Zul

"Iya, nggak apa-apa. Yang penting Istrimu sehat. Saya pamit dulu ya?" Nampaknya Bidan Suni paham betul kondisi keuangan Zul.

Selepas mengantar kepulangan Bu Bidan Suni, Zul kembali ke kamar dan melihat Istrinya tertidur. Bu Suni sudah menyuntikkan obat penenang nampaknya. Zul melihat Istrinya dan perutnya yang sudah membesar. Lagi-lagi air matanya tak kuasa ditahan.

Setelah memastikan Istrinya sudah tidur pulas kemudian ia sholat tahajud. Setelah itu ia berjalan gontai keluar rumah menuju pohon Cheri didepan kontrakan. Ia bersandar di batang pohon tersebut sambil memandang ke langit malam yang kelam. Ia terkenang kembali masa lalunya yang berat. Dan sampai sekarangpun beratnya ujian hidup masih harus ia hadapi. Tidak masalah saat masih bayi ia harus minum air tajin kemudian menghabiskan masa kecil di sawah. Tidak mengapa ia menjadi kuli, pengamen, pengasong dan pekerjaan hina lainnya. Biarlah hinaan, cacian dan penyepelean orang atas dirinya. Ia rela, ikhlas. Tetapi mengapa Istri dan calon bayi pertamanya juga harus merasakan kepahitan ini? Mengapa?. Tak terasa matanya basah.

Ia hanya ingin menjadi suami yang bertanggung jawab. Memberikan nafkah lahir batin kepada Istri tercinta. Juga menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya nanti. Zul ingin menjadi calon ayah yang bisa dibanggakan. Tetapi apanya yang mau dibanggakan?. Miskinnya?.

“Ya Allah, biarlah kepahitan hidup hamba rasakan dan telan sendiri. Kalau boleh kami berdoa, janganlah Istri dan calon anak kami, juga harus merasakan penderitaan ini”. Batin Zul. Ia mulai terisak.

“Tetapi kalau memang sudah ketentuanmu, maka berikan kami kesabaran”. Zul menengadahkan kedua tangannya ke langit sambil meneteskan air mata dalam kelamnya malam. Lututnya bergetar dan mulai goyah. Kalau tidak bersandar di pohon Chery, barangkali Zul sudah jatuh terduduk.

Lagi-lagi sebuah fenomena ajaib terjadi didimensi langit, Malaikat berkerumun dan berdesak-desakan melihat drama yang terjadi di rumah Zul. Menanti keajaiban dari Tuhan yang akan terjadi setelahnya. Doa para malaikat meluncur deras, agar Zul diberi ketabahan. Karena pasti Allah akan memberikan ganjaran atas ketabahannya serta ketulusannya didalam membantu orang lain.


Alkisah, dua bulan kemudian, terjadilah pembicaraan Zul dengan Customer Servis.

"Maaf Mbak, Pak Amat Staff di pabrik ini dimana ya? Kok dari pertama saya bertemu beliua sampai sekarang sudah tidak pernah terlihat?". Kata Zul memulai pembicaraan.

"Kalau boleh tahu, kenapa Bapak menanyakan tentang orang yang bernama Pak Amat?”. Jawab Costomer Servis.

"Begini Mbak. Dahulu sekitar tiga bulan yang lalu tanpa sengaja saya bertemu beliau sewaktu berteduh dikarenakan hujan deras. Saya memberikan katalog produk dari perusahaan kami kepada Pak Amat. Alhamdulillah perusahaan saya yang menang tender. Saya mau berterimakasih kepadanya". Kata Zul menjelaskan.

Yah, begitulah, tidak selamanya ujian hidup terus menimpa kita sepanjang kitanya mau bersabar. Kata orang badai pasti berlalu. Begitulah keadaan Zul. Dengan wasilah pertemuan dengan Pak Amat secara tidak sengaja, Zul bisa memenangkan tender dalam jumlah yang sangat besar. Bonusnya lebih dari cukup untuk membeli rumah baru dan kios untuk usaha yang sedang dia rintis. Bukan motor butut lagi kepunyaan Zul, namun mobil sedan baru dan masih mengkilap. Bahkan uangnya masih tersisa banyak padahal sudah di belanjakan untuk membeli barang ini dan itu. Satu lagi Zul sudah punya bayi laki-laki yang lucu. Istrinya melahirkan di Rumah Sakit swasta terbesar di ruang VIP. Begitu besarnya karunia Sang Pencipta, padahal beberapa bulan yang lalu ia bukan apa-apa. Zul teringat jikalau kemenangannya tak lepas dari pertemuan dengan Pak Amat secara tidak sengaja. Makanya kemudian Zul mencari beliau, paling tidak mengucapkan terimakasih.

"Pak Amat yang mana ya?". Tanya Customer Servis keheranan, karena sepertinya ia tidak pernah mengenal nama itu sebelumnya.

"Staff pabrik mbak, laki-laki setengah baya dengan janggut yang agak tebal?". Jawab Zul.

Customer Servis melakukan pengecekan sekali lagi daftar karyawan di Pabrik tersebut, namun hasilnya tetap nihil. Setelah beberapa menit dia menggelengkan kepala.

"Pak, setelah saya cek tidak ada yang bernama Pak Amat di pabrik ini, bahkan dari dulu sampai sekarang tidak ada, Bapak salah orang kali". Kata Customer Servis.

"Masak sih mbak, tidak mungkin. Saya benar-benar pernah bertemu dengan Pak Amat disini?". Zul benar-benar kaget dibuatnya. Walaupun Customer Servis melakukan cek ulang beberapa kali, nama yang dimaksud tetap tidak ada, dari dulu sampai sekarang. Zul kemudian teringat kata-kata terakhir Pak Amat. Kata-kata terakhir yang membuat bulu kuduk Zul merinding.

"Dik, berterimakasihnya sama Allah ya?. Kalau mau berterimakasih misalnya lagi banyak rezeki, dik Zul bisa berbagi kebahagiaan kepada anak yatim, orang-orang jompo, menyumbang masjid dan lain-lain, khan berbagi sama orang tua dan fakir miskin sudah. Jangan lupa diri kalau lagi banyak rezeki ya nak?”. Inilah kata-kata terakhir pak Amat sebagai sebuah nasehat buat Zul.

"Baik pak, makasih nasehatnya, Insya Allah saya tidak lupa". Kata Zul nggak ngeh.

"Mau kemana Pak". Tanya Zul yang melihat Pak Amat sepertinya hendak pulang menerobos hujan.

"Mau Pulang Dik, assalamualaikum". Jawab Pak Amat sambil menerobos hujan.

"Pulang kemana Pak?". Tanya Zul tanpa sempat menjawab salam.

"Ke langit Dik". Jawab Bapak tersebut sambil tersenyum penuh arti.

Waktu itu Pak Amat pamit dimana Zul tidak sempat menjawab salamnya karena ada miskol di HPnya. Itulah pembicaraan terakhir dengan Pak Amat. Bagaimana mungkin Pak Amat mengetahui kalau ia pernah memberikan seluruh gajinya kepada Ibunya yang sedang sakit dan Ibu tua pemulung dimana anaknya juga sedang sakit?. Tidak mungkin, karena ia baru bertemu sekali dengan Pak Amat.

Saat itulah Zul baru paham. Inilah barangkali jawaban keanehan demi keanehan yang ia alami selama ini. Jangan-jangan Ibu tua pemulung dan anaknya adalah malaikat?. Jangan-jangan Pak Amat juga seorang Malaikat Tuhan yang memang benar-benar pulang ke langit?. Jadi ketika Pak Amat pamit hendak pulang ke langit adalah benar?. Tubuh Zul mulai lemas setelah sadar dengan kejadian waktu itu. Dengan bibir bergetar ia berkata,

"Waalaikum salam Pak Amat, waalaikum salam warohmatullaahi wabarokaatuh". Kata Zul sambil terbata-bata dan dadanya berdegub kencang. Zul menjawab salam Pak Amat beberapa bulan yang lalu.

Kaki Zul Goyah, bibir bergetar. Tak menyangka ia diperhatikan Tuhan dengan karunia yang begitu besar. Seluruh mahluk boleh menghina dan meremehkan, tetapi Allah tetap mengasihi dan menyayanginya. Karena memang Allah Maha Pengasih dan Penyayang, yang tiada batasnya.

Mata Zul basah, lututnya bergetar kehilangan tenaga tak kuasa menahan berat tubuhnya lalu jatuh tersungkur seraya bersujud. Dengan sesenggukan Zul menangis menahan keharuan dan kebahagiaan yang luar biasa besar. Hati Zul bertakbir, mulutnya berusaha mengucap takbir namun begitu berat karena sedang menahan kebahagiaan yang tiada terperi. Sampai akhirnya dengan suara bergetar ia bertakbir menyebut Kebesaran Tuhan, sekaligus memohon ampun kepada_Nya.

"Allaahu Akbar". Suara pekikan takbir yang tulus keluar dari mulut Zul diiringi tangisan kebahagiaan yang tiada terperi.

Customer Servis bengong dengan kejadian ini, tidak tahu bahwa ada keajaiban sedekah yang baru saja di alami Zul. Keajaiban ketulusan dan keyakinan dalam iman dihatinya. Keajaiban karena mengorbankan diri dan hidup Zul demi kebahagiaan orang lain yang lebih membutuhkan. Demi kebahagiaan Mahluk ciptaan Tuhan yang lain.

Nun jauh disana, ribuan kilometer di tengah-tengah lautan, terjadi fenomena dahsyat. Gelombang laut yang tinggi begitu mempesona mengiringi kebahagiaan Zul. Dan bumipun ikut bergetar melihat keikhlasan sedekah seorang manusia. Juga besi, air, api dan angin ciptaan Tuhan yang begitu hebat merasa kalah dengan ketulusannya. Tasbih alam tak henti-henti berkumandang, disaksikan oleh semua ciptaan kecuali jin dan manusia.

Karena rencana Tuhan selalu besar bagi hamba_Nya yang yakin. Karena rencana Tuhan selalu hebat bagi hamba_Nya yang lulus ujian. Ujian iman, ujian kepantasan.

Tangisan Zul diiringi dengan tangisan langit dalam gerimis di siang hari. Jutaan malaikat di sekitar Arsy yang agung berdiri bershaff-shaff berkerumun sambil bertasbih memuji Asma Allah.

Sesaat kemudian datanglah seorang laki-laki dengan baju gamisnya melihat kejadian yang mengherankan tersebut.

"Kenapa menangis, Ada apa dik?”. Laki-laki tersebut yang ternyata pengurus Mushola menyadarkan Zul, kemudian mengajaknya ke Mushola. Di Mushola pabrik itu Zul menceritakan semua keajaiban yang terjadi. Keajaiban selepas bertemu dengan Pak Amat. Selesai bercerita jamaah mushola yang mendengarkan cerita tersebut ikut terharu dan mengucapkan takbir.

"Allaahu Akbar, Subhanallah, Alhamdulillah". Pekik takbir, tasbih dan tahlil berkumandang di Mushola tersebut.

Tidak seberapa jauh dari Mushola dibalik sebuah tembok, berdirilah sosok yang bercahaya, berbaju putih dan berjenggot. Sosok yang tak asing buat Zul. Dialah orang yang pernah bertemu dengannya secara tidak sengaja saat hujan deras. Dialah sosok yang saat ini dicari-cari oleh Zul.

Wajahnya putih bersih terlihat indah sekali. Dari wajahnya terlihat cahaya yang bersinar bak malaikat. Dia tersenyum ke arah Zul dimana ia dan jamaah Mushola tidak melihat keberadaanya. Sesosok laki-laki itu kemudian berubah menjadi cahaya seluruhnya dan menghilang tanpa meninggalkan sepatah katapun. Sesosok laki-laki berbaju serba putih dan berjenggot itu pergi. Pulang ke langit.

.....................................................................................

Pesan Moral: Cerpen ini bermuatan pesan dan ibroh yang sangat dalam. Sobat wajib membacanya disini.

Presented by:









Supported by
Magis7. 7 langkah magis menguasai cita rasa sejati (ikhlas, tawakal, sabar dan pasrah) sebagai sebuah energi kuantum/ bawah sadar yang berdaya dan digdaya merubah badai menjadi rahmat, ujian menjadi berkat. Mau belajar 77 hari merasakan setrum cita rasa sejati dan menjadi pribadi sakti? Klik disini
Rahasia Kunci Sukses. Belajar hakikat rahasia dibalik amalan dan doa kemuliaan (kesuksesan dan kebahagiaan). Mau belajar 360 hari meraih keajaiban rezeki? Klik disini.




Artikel Terkait



11 comments:

  1. sampai ikut nangis Mas :(

    ReplyDelete
  2. luar biasa hiks hiks

    ReplyDelete
  3. ALLAHU AKBAR..saya sudah membaca kisah bapak.saya punya hp dan beberapa perabot saya akan jual untuk di berikan ke rentenir walaupun harganya tidak seberapa mas.saya juga mau shalat tahajjud biar makin dekat sama yang kuasa mudah2an ada lebihnya saya pakai untuk bergabung program mas adhin. (RM)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memangnya tahu itu kisah saya?? Hehehe

      Delete
  4. Saya sudah membaca cerpen anda dan saya terharu sekali.
    Alangka bahagianya org tersebut telah bertemu dengan para malaikat dan Tuhan nya
    Dan alangkah tinggi nya ilmu yg di dapat oleh org tersebut yaitu ilmu Ikhlas

    ReplyDelete
  5. Assalamualaikum wrwb .Pak Adhin yth: selamat siang .semoga berkah dan anugrah selalu hadir sepanjang hari. amin. Alhamdullilah saya baru baca cerpen karya Pak Adhin. sungguh luar biasa sungguh,saya ambil hikmahnya.terima kasih . Dan dari isi cerpen itu saya ambil intinya .bahwa kesuksesan itu bukan berapa banyak harta kita kumpulkan ,tapi kesuksesan adalah berapa banyak harta yang kita sedekahkan. Allahu Akbar sungguh besar karuniaMu ya Allah.

    ReplyDelete
  6. Itu beneran apa pengalaman pribadi? Kok kaya curhat mas adhin?.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Intinya kisah nyata yang dijadikan cerpen Mas

      Delete
  7. Maaf..baru hari ini saya balas..sebenarnya sejak pertama sy baca cerita bpk lwt ebook member RKS..dan hr ini sy baca kembali..sungguh merinding dan sesak di dada ini krn rasa haru,trenyuh,yg berakhir dengan rasa bahagia krn alhamdulillah bpk beserta istri telah lulus ujian dari Allah.. (Dari Ibu ES)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tks apresiasinya. Tetapi tokoh dibalik Zul adalah rahasia.. hehehe

      Delete