Jul 7, 2014

Cara Terbaik Menghadapi Kritikan, Hinaan dan Fitnah

Pernahkah anda mendapatkan kritikan yang membangun ataupun sebaliknya? Atau bahkan lebih keras dari sekedar kritikan dan lebih pas kalau dikatakan sebagai fitnah, hinaan, penyepelean dll? Mungkin sebagian besar dari kita, pernah menerimanya. Lalu apa respon anda? Nah berikut artikel menarik yang membahas hal ini.




Alhamdulillah dikarenakan saya banyak berkecimpung dalam kegiatan sosial jadi saya banyak menjumpai orang-orang dengan tipikal yang berbeda-beda. Namun dari semua tipe orang tersebut ternyata sebagian besar "tidak tahan dengan yang namanya kritik".

Contoh kritik membangun,
  • "Mengapa engkau menghalang-halangi orang beribadah dengan membuat portal? Seharusnya engkau bicarakan dulu dengan tokoh setempat tentang pembangunan ini, tidak sepihak"
  • "Bukankah menerima apa-apa yang keluar dari ayam itu lebih baik daripada yang keluar dari manusia?. Mengapa engkau tersinggung ketika saya mengatakan kebenaran?"
  • "Mas, seharusnya kalau mau show, tidak perlu memakai pakaian perempuan. Khan kami laki-laki"
  • "Mengapa kamu tidak tegas dan cenderung lembek? Bukankah kamu adalah pemimpin yang dijadikan contoh?"
  • "Mengapa kamu menyalahkan orang lain, padahal kaya miskin adalah tanggung jawabmu?"
  • DLL

Contoh diatas adalah kritik yang membangun dimana saya mendengarnya sendiri. Tahukah anda 90% menanggapinya dengan tensi? Yakni emosi yang mulai tersulut?. Percayakah anda bahwa sebagian besar dari kita gampang sekali tersulut emosi karena sebuah kritik? Ini kenyataan lho?

Contoh kritik yang berisi cacian
  • "Dasar baxx (Binatang jorok), jangan asal narik sumbangan dong. Tidak tahu keadaan lagi begini, Baxx lo!"
  • "Aku tahu kamu itu lemah, nggak ada tenaga. Payah kamu, pakai rok saja kalau begitu"
  • "Jangan sok benar, memangnya kami malaikat apa?. Kamu itu sama seperti anjxx (binatang)
  • dll

Kalau contoh kritik membangun saja mudah emosi apalagi kritikan yang berisi cacian, fitnah dan penyepelean. Anda tahu sendiri lah..

Tahukah anda bahwa semua jenis kritik diatas pernah saya terima? Nah kalau anda mau mendengarkan kata-kata saya maka dengarkanlah.
  • Jika tak mampu membalas dengan kata-kata yang baik maka diam dan pergilah. Biasanya untuk awal anda tak mampu membalas dengan baik dan bijaksana, namun lebih mengedepankan emosi. Saya yakin akan hal ini. Maka diam saja dan pergilah.
  • Kecuali anda sudah matang, maka balaslah dengan kebaikan (kata-kata yang baik)
  • Jika anda tidak mau pergi karena gengsi maka dengarkanlah. Jangan tampakkan muka emosi kepada lawan bicara anda. Telan kritikan menyakitkan tersebut.
  • Selepas itu, yakni ketika mereka telah pergi maka berpikirlah tenang dan santai. Setelah tenang baru instrospeksi, apakah penilaian mereka benar atau salah.
  • Setelah tenang maka carilah jawaban kritikan tersebut dalam batin anda. "Dia memang benar dan saya harus memperbaiki". Atau "Dia salah paham, maka saya akan menjelaskannya dengan baik-baik saatnya nanti"

Maka telanlah kritikan sepedas apapun, sambil merenung dan mencari kebenaran tentang kritikan mereka. Semakin banyak kritikan pedas, amak semakin baik untuk mematangkan diri dan kharakter anda.

Kemudian mulai saat ini carilah ilmu sebanyak mungkin. Banyak membaca, banyak bergaul untuk memperluas wawasan kita. Semakin berilmu, kemudian ditambah banyak kritikan maka akan semakin matang jiwa anda.

Tidak perlu waktu lama, maksimal satu tahun anda sudah terbiasa dengan adanya kritikan bahkan hinaan sekalipun. Anda akan menjadi pribadi baru yang lebih tangguh. Ketika kritikan tersebut kita dapatkan bertubi-tubi kitanya masih bisa tenang saat itu juga. Dan ketahuilah ketenangan adalah senjata paling sakti didalam menghadapi kritik. Kita bisa menjelaskan saat itu juga tanpa tersulut emosi. Ketahuilah juga ketenangan jiwa akan mengalahkan segala kritikan apalagi hinaan yang disertai dengan nafsu amarah.

Dalam bahasa lugasnya, kita bisa melakukan skak mat bagi para pengkritik yang kerjaannya hanya menkritik tanpa dipikir terlebih dahulu. Mereka akan kalah dengan ketenangan kita yang dibalut oleh wawasan yang luas. Kecuali kritik tersebut membangun maka akan kita terima dengan senyum.

Ini pengalaman nyata..

Sebelum menutup blog ini bacalah firman Allah berikut ini sebelum mengkritik dengan pedas alias mngolok-olok

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan janganlah pula perempuan mengolok-olok perempuan yang lain, karena boleh jadi perempuan (yang diolok-olokan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Dan janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan jangan memanggil dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (Qs. Al hujurat:11) 

Iklan:
Pribadi matang yang tidak gampang tersulut emosi, kesedihan, was-was, khawatir dsb adalah kunci kemuliaan (Kesuksesan dan kebahagiaan). Mau belajar menjadi pribadi matang?  Ijinkan saya pandu 77 hari dengan cara klik disini


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment