Jul 22, 2014

Cara Menghadapi Cacian, Hinaan dan Olok-Olok Orang Lain

Bagaimana menghadapi kritik, caci-maki dan penghinaan orang? Jawabannya adalah "Woles". Jika niat kita baik maka tetapkan niat tersebut dan komitmenkan didalam melakukan perbuatan yang diniatkan dengan baik. Namun sebagian besar manusia menghadapi kritik, caci-maki, dan penghinaan dengan emosi. Hal inilah yang menyebabkan melambatnya kedewasaan..

Terimalah kritikan itu dengan legowo jikalau memang kritikan tersebut sifatnya membangun. Kadangkala kritik membangun disampaikan dengan bahasa yang keras, terima saja walaupun sedikit menyakitkan. Siapa tahu ada kebaikan dan keajaiban yang bisa kita ambil saat ini, atau suatu saat kelak. Kecuali disampaikan dengan tidak baik, cenderung mengolok-olok dan berbau fitnah, maka jangan diterima. Hanya ikhlaskan saja tanpa perlu memperolok balik.

Contoh nyata bentuk kritkan, cacian dan penghinaan (dalam SMS gelap)

"Tidak tahu keadaan lagi kekurangan, dasar babx ngentoxx (binatang jorok)"

"Jaman Nabi tidak ada yang edan, jaman sekarang ada, yaitu kamu, dasar edan"

Itulah dua kritikan, cacian dan penghinaan yang terjadi secara real kepada saya. Tidak apa-apa, woles...

Saya yakin anda juga pernah mengalaminya dalam bentuk yang lain.

Masih banyak bentuk hinaan lainnya, berhubung saya adalah seorang leader kecil-kecilan baik di perusahaan maupun di komunitas sosial. Saya banyak menemukan hal ini...

Saran saya bagi anda yang menerima hinaan sbb
  • Tetap kalem, jangan mudah terprofokasi. Tetap lakukan apa yang menurut anda baik dan benar.
  • Tidak mungkin bisa menyenangkan semua pihak, sementara keputusan harus tetap diputuskan, maka putuskanlah dengan bijak.
  • Ikhlaskan mereka yang menghinamu, bisa jadi mereka terbawa suasana.
  • Tetap cool. Setelah tenang jika memungkinkan jelaskan kepada mereka, mengapa anda memutuskan sebuah keputusan yang menimbulkan pro dan kontra.

Saran saya bagi para pengkritik yang suka memberikan caci maki dan hinaan sbb
  • Mengapa anda suka mengolok-olok orang lain? Apakah anda merasa lebih pandai dan pintar? Jangan begitu, sampaikan pendapat anda dengan baik.
  • Tetap mengolok-olok orang lain adalah salah. Bisa jadi mereka yang diolok-olok lebih mulia dari anda.
  • Kalaupun mereka nampak belum pandai, bisa jadi mereka yang anda olok-olok sedang belajar mendewasa, dan pada titik tertentu lebih pandai dari anda.
  • Mungkin orang yang anda hina dan olok-olok memang nampak bodoh, tetapi menyampaikan sesuatu dengan kata-kata kasar dan jorok jauh lebih bodoh.
  • Pikirkan dulu sebelum menyampaikan sesuatu hal, bisa jadi malah akan berbalik kepada anda.

Terakhir simak firman Allah sebagai berikut,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada wanita (yang mengolok-olok). Janganlah kamu mencela dirimu sendiri (baca: sesama saudara seiman) dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk (berbau kefasikan) sesudah seseorang beriman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS Al Hujurat ayat 11)

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (QS Al Hujurat ayat 12)


Iklan
Magis7. Rahasia menguasai dan menciptakan rasa ikhlas (woles) dalam dada. Kalau mau belajar dengan saya klik disini. Kalau belum berkenan tidak apa-apa. Tetap woles.. :)


Artikel Terkait



1 comment:

  1. Saya disebut munafik dan keluarga dihina sekelas tanpa sebab, ngadepinya gimana?

    ReplyDelete