Jul 3, 2014

Bertaubat Itu Ikhlas Terhadap Takdir dan Ketentuan Tuhan

Assalamualaikum wr wb Mas Adhin..ini email saya yg keberapa ke mas Adhin semoga mas Adhin tidak bosan mendengar dan menjawab semua curahan hati saya. Mas Adhin saya sudah member beberapa bulan yg lalu. Dibilang ada perubahan ya ada karena saya jadi makin memahami dan meyakini bahwa segala sesuatu adalah Kuasa Allah.kepada Allahlah kita sandarkan semua harapan dan doa kita. Tapi dari sisi pencapaian di kerjaan sampai sekarang belom memuaskan. Saya sudah coba wiridkan dhuha dan beberapa amalan seperti di modul mas adhin.tapi terus terang saya belom mandi taubat.yg ingin saya tanyakan apakah mandi taubat itu wajib dilakukan sebelum menjadi ritual wirid yg laen.? Makasih banyak sebelumnya dan mohon maaf jika tidak berkenan. (Dari salah satu member)

Jawab: Waalaikum salam. Mandi taubat tidak wajib. Kalau ragu tinggalkan saja. Saya hanya memberitahukan apa yang saya dapat dari informasi salah satu Guru saya di Cilacap.

Mandi taubat hanya bentuk komitmen bahwa kita memang sungguh-sungguh mau bertaubat. Taubat dalam hal ini adalah menyerahkan segala keputusan kepada kehendak Tuhan, bukan kehendak kita. Kita berkehendak supaya lahir dikeluarga yang terhormat, kaya dan terpandang. Kita berkehendak terlahir dengan kulit yang putih bersih, hidung mancung dan tubuh yang indah. Namun kehendak kita lemah. Ada kehendak lain yang akan melibas kehendak kita, kehendak lain yang jauh lebih kuat, Kehendak Tuhan.

Demikian juga dengan rezeki dan kekayaan. Kita berkehendak supaya bisa lekas mendapatkan rezeki melimpah ruah, namun DIJAMIN sudah didahului dengan Kehendak Tuhan. Maka untuk menyelaraskan kehendak kita dengan Kehendak Tuhan, terima saja apapun yang menjadi Kehendak_Nya dengan ikhlas. 

Saya berasal dari keturunan tidak mampu, dan berkehendak supaya ketika merantau bisa lekas mengalami perubahan nasib yang baik. Nyatanya selama bertahun-tahun saya bekerja sebagai pedagang asongan. Bahkan ketika saya mulai merutinkan dhuha pun nasib tak kunjung berubah. Kemudian pada suatu titik saya terima dengan ikhlas takdir berat tersebut. Ada atau tidak ada harta benda tetap dipaksakan untuk mengucapkan hamdalah. Ajaibnya hidup malah berubah secara dramatis dan mengagumkan (menurut ukuran saya).

Mungkin setelah kita mencoba melakukan dhuha dan amalan rezeki lainnya nasib tak kunjung berubah. Ini baik untuk kita. Mengapa? Karena saya yakin bahwa pikiran kita masih diliputi oleh hawa nafsu dalam bentuk uang, uang dan uang. Semua dilakukan demi uang. Inilah yang salah. Seharusnya ibadah sunnah tadi merupakan bentuk bertaubat, yakni percaya kepada cara-cara Allah didalam merubah hidup kita. Kalau dalam perjalanannya belum nampak perubahan hidup, coba cek dalam hatimu, apakah kita sudah benar-benar menyerahkan diri dan semua solusi kepada_Nya?

Memang benar ada amalan memperlancar rezeki, tetapi pahamilah substansinya bukan kepada subyeknya. Janji Allah pasti benar tidak mungkin meleset dan salah. Rezeki kita pasti akan mengalami perubahan lebih baik dengan catatan yakin kepada Sang Pemilik Kekayaan, bukan meyakini kepada cara kita, kemampuan kita dan hawa nafsu kita. Allah mengetahui saat yang tepat dan pantas untuk merubah hidup kita menjadi lebih mulia. Maka jangan lagi ada pertanyaan mengapa rezeki belum lancar, rubahlah menjadi apa yang harus saya perbaiki sehingga rezeki tersebut terbuka.

Kembali ke masalah taubat. Taubat yang benar alias tidak berdusta adalah secara sadar mengakui kelemahan diri, kemudian menyerahkan segala sesuatu kepada Allah. Baik atau buruk tetap ikhlas dan berbaik sangka. Yakinlah ada saat dimana doa akan terkabul.

Dalam bahasa kita bertaubat itu begini
  • Menerima dengan ikhlas segala takdir baik maupun buruk sebagai sebuah ketetapan. Rasakan energi spektrum ikhlas itu dalam dada.
  • Tetap berusaha merubah nasib dengan cara pandang yang baru bahwa semua sudah didahului dengan ketetapan Tuhan. Jadi walaupun hasilnya belum sesuai harapan tetap meyakini bahwa ini hanya proses. 
  • Maintain rasa itu apapun yang terjadi
  • Gantilah apa-apa yang dirasa tidak baik dengan kebaikan. 
  • Kesampingkan akal pikiran, hawa nafsu dan keyakinan-keyakinan yang salah. Seperti "kalau saya tidak kerja tidak makan, kalau saya resign maka akan kelaparan, kalau saya bersedekah maka uang habis" dsb. Gantilah dengan "Semua karena ijin dan kehendak Allah". Siapa yang membuktikan iman walaupun perbuatan itu bertolak belakang dengan akal pikiran maka dialah yang beruntung. Nabi Ibrahim as mengerjakan dengan penuh keyakinan perintah yang tidak masuk akal yakni menyembelih Nabi Ismail as, bagaimana dengan kita?

Taubat itu substansinya adalah instrospeksi, evaluasi dan muhasabah diri. Bertaubat itu ikhlas terhadap takdir dan ketentuan Tuhan walaupun terasa tidak fair. Saya pernah membayar hutang karena memang hutang harus dibayar dengan resiko keluarga tidak makan. Seluruh gaji plus jual barang-barang yang ada dirumah saya habiskan demi membayar hutang. Nyatanya kelaparan yang saya bayangkan tidak terjadi. Malah sebaliknya, yakni adanya rezeki tak terduga yang mengalir terus menerus.

Sahabat saya yang lain resign dari pekerjaannya yang menjanjikan hanya karena ingin lebih berguna dan bermakna buat sesama. Keputusan berat tersebut membuatnya hidup dalam kesempitan sementara waktu. Namun semua pasti akan lewat, buktinya saat ini beliau menjadi seorang pengusaha milyuner.

Taubat adalah kunci kemuliaan dunia akherat

Allah berfirman

"Maka aku katakan kepada mereka, 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu', sesunguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai". (QS Nuh : 10-12)

Mengirimkan hujan lebat (penghidupan yang baik), membanyakkan harta dan anak (rezeki melimpah), mengadakan kebun-kebun (Properti) dan sungai-sungai (sumber rezeki) adalah bentuk-bentuk kemuliaan (kesuksesan dan kebahagiaan).

Kapan itu terjadi? Allah Maha Mengetahui. Lebih baik sambil menunggu momen-momen kemuliaan itu datang, kita jalani hidup ini dengan terus melakukan instrospeksi dan evaluasi. Wallahu A'lam

Iklan
Mau belajar menarik rezeki dalam panduan privat 360 hari? Bergabung sekarang juga dengan sahabat lainnya dengan cara Klik disini


Artikel Terkait



3 comments:

  1. Jadi mungkin selama ini doa2 yg sy pnjatkan blm jg dikabulkan krna niatnya beda kl yah??? Bukan ikhlas lillahi taala.. astaghfirullah..

    ReplyDelete