Jul 21, 2014

Bagini Cara Rahasia Menyikapi dan Melunasi Hutang

Apakah anda punya hutang? Tentu saja banyak saudara kita yang tercekik dengan hutang. Semakin lama semakin mencekik leher. Berat dan lelah rasanya ketika mempunyai hutang dan dikejar-kejar sang penagih. Kita merasa kecil, hina dan tidak berguna. Apalagi memandang keluarga kita yang harus kita nafkahi.. Perih..

Saya juga pernah berhutang. Saya juga pernah di datangi debt collector yang fasih bicara kasar dan penuh ancaman. Oleh karena itulah saya mencoba membantu anda yang terkendala hutang didasari pengalaman kami...

Pertama sekali ada sebuah pertanyaan. Mengapa anda berhutang? Ini yang harus dijadikan bahan instrospeksi.
  • Ada yang berhutang untuk kegiatan konsumtif.
  • Ada yang berhutang untuk membeli kemewahan. Atau biar sama/ sebanding dengan tetangga. Tetangga punya mobil, maka saya juga harus punya. Ini kesalahan fatal..
  • Ada yang berhutang untuk memenuhi kebutuhan. Misalnya anak sekolah. Secara penghasilan susah untuk mengangsur, tetapi memaksakan diri berhutang, maka resiko di tagih, diancam, diteror dsb harus siap anda hadapi.
  • Ada yang dimanfaatkan untuk berbisnis atau membuka usaha.
  • Dan alasan lain.

Anda yang mana? 

Kalau saya dahulu berhutang untuk kebutuhan keluarga (beli susu). Saya memahami penghasilan saya tidak mungkin bisa untuk mengangsur hutang dengan lancar. Maka sudah jelas, kita akan kedatangan tamu yang menyeramkan yakni debt collector. Ketika pikiran sudah diatas stress/ hampir gila barangkali, kemudian saya banyak berpikir begini,
  • Pelihara tuyul
  • Cari amalan penarik uang sajadah dsb
  • Cari rajah/ pegangan.
  • Mengunjungi dukun.

Maka ketahuilah, diatas adalah kesesatan paradigma/ cara berpikir. Anda salah jika berpikir sama dengan saya dahulu. Percayalah itu tidak akan menyelesaikan masalah sama sekali, justru akan menimbulkan masalah baru yang lebih berat.

Bagaimana kalau sudah terlanjur mempunyai hutang yang mencekik leher?. Maka lakukan langkah ini dengan jujur, sepenuh hati dan kesadaran.

1. Muhasabah
  • Muhasabah, yakni perenungan dalam taubat. Kita salah karena sudah berhutang, apalagi hutang yang tidak tepat guna. Hutang yang digunakan untuk kegiatan konsumtif. 
  • Salah kita bukan pada hutangnya, yakni niat kita berhutang. Jujurlah mengatakan, saya berhutang agar supaya diri, badan saya, keluarga saya mendapatkan kenikmatan. Inilah tujuan akhirnya. Entah hutang untuk tujuan konsumtif atau untuk modal bisnis, ujung-ujungnya adalah berharap kenikmatan dan kemewahan dunia.
  • Sekali lagi jujurlah dengan niat awal anda. Kalau saya dahulunya demikian, hal ini tidak berarti saya menggenerate (menyamakan) saya dan anda, tetapi sebagian besar seperti itu. Maka bertaubatlah...
  • Mengapa bertaubat? Karena nyata-nyata niat dan tujuan awal kita salah. Kita berharap kepada manusia dan kembali kepada manusia. Kita berhutang kepada manusia, dan berharap manusia lain melunasi hutang kita. Sekali lagi ini kekeliruan paradigma.
  • Banyak-banyak istighfar dengan baca kalimah istighfar. Kemudian minta maaf kepada Allah dengan sepenuh hati, sepenuh perasaan. Jangan hanya kalimah istighfar dimulut namun tidak terasa dihati.
  • Artinya mulai sekarang niat awalnya adalah Allah dan tujuan akhirnya adalah Allah. "Saya akan berhutang untuk modal usaha. Saya akan memperkerjakan orang lain, dan menyejahterakan orang lain. Saya ingin berguna untuk orang lain. Bismillah" Ini contoh niat awal yang baik.
  • "Saya akan berhutang untuk membuka bisnis. Jika saya berbisnis maka saya mempunyai uang banyak dan melimpah. Dengan uang itu saya bisa melakukan apa saja sekehendak hati". Ketahuilah ia tidak berdoa kepada Tuhan YME, tetapi berdoa kepada nafsu.

2. Ikhlas dan Syukur
  • Karena sudah kadung mendapatkan kesulitan hutang mau tidak mau harus ikhlas. Susah memang, tetapi harus dicoba. Ikhlas atau tidak toh hutang tersebut tetap harus dibayar.
  • Kemudian syukuri hutang anda. Kata-kata saya nampak gila khan? Cobalah syukuri hutang anda sebagai sebuah sarana supaya otak kita berpikir dengan lebih keras.
  • Karena muhasabah sudah dilakukan maka kemudian ikhlas juga harus mampu dirasakan. Terlepas apapun alasanmu tetap itu adalah salahmu, maka ikhlaskanlah konsekwensi logis dari hutang tersebut. Sekali lagi mengapa harus ikhlas? Karena apa-apa yang sudah terjadi adalah ketetapan takdir yang tidak mungkin berubah. Ke depan akan berubah jika kita setting hati kita dengan benar. Dan kita sedang melakukannya.
  • Syukuri hutang anda disatu sisi, dan syukuri nikmat Tuhan lainnya disisi lain. Kalau tidak ada hutang maka otak anda akan diam/ bekerja apa adanya. Dengan adanya hutang maka otomatis otak anda akan berpikir jauh lebih keras. Maka berpikirlah lebih keras lagi dalam kerangka solusi, kebaikan dan kejujuran. Jangan berpikir keras bagaimana caranya mencuri, atau mendatangi dukun dsb.
  • Mensyukuri nikmat Tuhan yang lain misalnya mensyukuri karena masih bisa melihat dengan kedua mata. Sahabat saya hampir buta karena masalah sepele, kemudian saya bertanya, "Maukah matamu dibutakan Allah swt dan kamu mendapat kompensasi 1 Milyard". Maka ia menjawab, "Diganti dengan emas sepenuh bumi saya tidak mau". Maka saya katakan, "Maka mulai sekarang beryukurlah dengan karunia Tuhan yang tidak mungkin kita menghitung, apalagi membayarnya". Alhamdulillah mata sahabat saya bisa sembuh dengan cepat.
  • Berapa hutang anda? 10 juta, 100 apa semilyard? Kalau begitu bersediakah hutang anda dilunaskan dengan sebelah bola mata? Atau satu jari tangan? Ternyata hutang kita terlalu kecil dibanding nikmat Tuhan. Ini tentang cara berpikir/ paradigma. 

3. Hadapi Kenyataan

Muahasabah dalam taubat sudah, ikhlas dan syukur juga sudah, lalu bagaimana berikutnya?
  • Hadapi kenyataan pahit ini dengan senyuman. Saya tidak peduli apa kata anda, tetapi hadapilah dengan tegar. Saya mampu, sahabat blog juga banyak yang mampu, maka anda juga mampu.
  • Kalau kita sudah menerapkan langkah sebelumnya, maka senyuman karena hutang akan bisa anda sunggingkan. Kenapa? Karena sudah bersandar kepada Allah dan yakin ada momentum untuk mental dan terbang tinggi. Dengan kuasa siapa? Dengan Kuasa Allah, yang akan memampukan anda, entah bagaimana caranya. Yang penting mulai sekarang pikirkan cara tersebut.
  • Apakah dengan itu hutang lunas? Sayangnya tidak. Hutang lunas kalau dibayar dengan uang bukan dengan senyuman. Apakah dengan itu si penagih akan luluh hatinya. Bisa iya bisa tidak. Tapi anggaplah sang penagih marah-marah dan mengancam kita, maka hadapilah itu. Inilah kenyataan pahit yang harus kita telan.
  • Coba lihat isi rumah/ kontrakan anda. Apakah ada barang-barang yang bisa dijual? Coba lihat jari jemari istri anda. Apakah ada emas yang bisa dijual? Cincin istri saya pernah saya jual untuk membayar/ mengangsur hutang, anda juga bisa melakukannya. Tapi itu cincin kawin Pak? Saya tidak peduli, jual saja, Insya Allah nanti diganti dengan cincin lain yang lebih bagus. Percayalah..
  • Kalau bisa jangan berhutang lagi. Hutang yang satu belum terbayar, bagaimana mungkin mau hutang lagi? Nanti bayarnya pakai apa Pak? Pakai daun?. Cara berpikir demikian adalah benar tetapi kurang tepat. Jangan semua hal disandarkan kepada logika. Tuhan punya logika. Coba saja terjemahkan logika sedekah, maka sampai kapanpun secara logika matematika tidak akan ketemu. Kesampingkan logika anda sekali-kali, dan menyerahlah kepada logika Tuhan.
  • Usahakan untuk mengerahkan semua aset yang anda miliki untuk bayar hutang, jauhi berhutang lagi kecuali anda sudah pandai didalam membuat sebuah rencana bisnis. 

4. Berubah dan Hijrah

Semoga dengan menjual aset anda, hutang bisa lunas. kalaupun belum tidak apa-apa. Kita menuju langkah rahasia berikutnya.
  • Anda harus melakukan langkah sebelumnya dengan benar. Jika anda melakukannya dengan baik dan benar maka akan ada sebuah keyakinan yang digdaya. Powerfull. Keyakinan akan kepasrahan dan ketundukan kepada Kuasa Tuhan. Dengan keyakinan inilah kita akan berubah.
  • Awali niat baru dengan benar. Doakan kelancaran rezeki untuk manfaat sesama dan semesta alam, bukan untuk kepentingan pribadi.
  • Keyakinan adalah power. Power atau daya tersebut bisa berbentuk keberanian yang diliputi oleh keikhlasan dan kesyukuran. Berani berubah, berani hijrah. Karena kalau tidak berubah maka nasib anda akan segitu-gitu saja. Maka hijrahlah dengan niat baik karena menanti Janji Tuhan Semesta Alam.
  • Berubah/ hijrahnya diawali dengan perubahan cara berpikir. Bahwa rezeki ditangan Tuhan dan akan dibagi-bagikan_Nya menurut Kehendak_Nya. Maka berusahalah sebagai tugas manusia agar Kehendak Tuhan berlaku atas kita.
  • Jika anda karyawan dimana gajinya tidak cukup untuk kebutuhan, maka mulailah dari sekarang untuk mencari tambahan penghasilan. Saya tidak akan membahas hal ini dengan detail. Cukup ketahuilah bahwa "keyakinan" akan membawa anda kepada sebuah peluang usaha. Apapun itu.
  • Jika anda pebisnis yang bangkrut, maka ketahuilah "keyakinan" itu tadi akan membuat anda berusaha bagaimanapun caranya. Bisa jadi anda bertemu rekan bisnis baru, bertemu peluang baru, bertemu klien besar dan lain sebagainya.
  • Yang jelas banyak keajaiban dari "keyakinan" itu tadi. Saya dan pembaca lainnya merasakan demikian. Keajaiban datang ketika kita yakin pertolongan Tuhan, sambil terus bekerja dan belajar dengan keras dan tekun.
  • Jika anda ibu rumah tangga, doakan suami anda sukses dan bermakna. Bukan hanya untuk membelikan cincin baru lagi, namun bisa bermakna buat sesama, misalnya anak yatim, fakir miskin dsb.
  • Dengan mengikuti langkah diatas maka semakin lama semakin terlihat jelas adanya peluang, potensi dan kemudahan lainnya. Kesulitan anda akan membawa kepada dua kemudahan seperti makna QS Alam Nasyrah.

Akan ada momentum doa anda terkabul. Tetapi terlebih dahulu anda harus melewati jalan yang memang berliku, sebelum pintu kemudahan itu datang dan anda buka. Namanya ujian keimanan sebagai sebuah hal yang mau tidak mau harus dihadapi, bukan dihindari.

Akan ada momentum anda sukses dan bermakna, serta mengucapkan selamat tinggal kepada hutang. Asalkan anda tetap maintain "keyakinan". Keyakinan dalam balutan ikhlas, sabar, tawakal dan pasrah. Disinilah magis7 berperan.

Terakhir, bacalah doa melunasi hutang sesering mungkin dengan tujuan arti, makna dan hakikatnya bisa merasuk dalam hati menjadi sebuah keyakinan dalam iman.



Allahummakfinii bihalaalika 'an haroomika, wa aghninii bifadlika 'amman siwaak

"Ya Allah, cukupkan aku dengan yang halal dari yang haram, dan kayakan aku dengan karunia_Mu, sehingga aku tidak meminta kepada yang lain, kecuali hanya meminta kepada_Mu"

Wallahu A'lam

Jika ada pertanyaan mengenai cara menyikapi hutang dan melunasinya silahkan sisi form komentar. Atau kalau mau privat, silahkan email adhinbusro@gmail.com

Ads:
Bagi sahabat yang ingin menjadi sakti dengan rasa sejati silahkan pelajari magis7 disini. Rasa itu membuat kita tegar, termasuk dalam hal ini terkait hutang. Tegar karena yakin ada saatnya lunas dan berganti dengan kemuliaan.


Artikel Terkait



5 comments:

  1. trims artikelnya, snagat membnatu

    ReplyDelete
  2. bagus sekali bahasa anda. gampng dicernanya. mksh telah bebagi

    ReplyDelete
  3. saya mulai yakin dg artikel Mas adhin yang lain, termask artkl ini. didalam hutang 1 milyard sebenarnya ada potensi uang 2 milyard. karna dlm 1 kesulitan ada 2 kmdhn. btl g Mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kurang lebih begitulah... :). Syaratnya kita yakin. Yakin bahasa arabnya "iman". Kalau iman kepada Tuhan ya harus yakin. Keyakinan inilah yang akan menemukan jalannya.

      Delete