Jun 6, 2014

Ternyata Umur Manusia Tidak Lebih dari Satu Detik

30 tahun yang lalu saya pernah menjadi anak-anak balita. Susah untuk mengenang sejarah masa kecil dikarenakan ingatan dan akal saat itu belum sempurna. Namun ada beberapa kejadian yang masih bisa saya ingat dengan baik. Saat-saat nyata dimana saya benar-benar pernah mengalaminya. Ruang, waktu, kejadian, orang, pemandangan, dan lain sebagainya benar-benar nyata. Bukan rekayasa, bukan gambaran, namun nyata, real.


  • Saya pernah jatuh dari tempat tidur pada waktu malam, kemudian menangis. Ibu saya segera meraih saya dari lantai dan meninabobokkan kembali. Akhirnya rasa kantuk mengalahkan rasa sakit dikepala saya sehingga saya tertidur.
  • Saya pernah kebelet ingin buang air kecil. Kemudian memanggil Ibu saya yang tidur di dipan sebelah. Ibu saya bilang, "Buang air kecil disitu saja sambil berdiri". Maka saya arahkan buang air kecil ke lantai (yang saat itu masih tanah), kemudian tidur lagi.
  • Saya pernah menangis karena dilarang Ibu untuk ikut kondangan. Saya mengejar Ibu dari dalam rumah sampai halaman sambil menangis. Ibu saya tetap tidak mengijinkan dan beliau kondangan ditemani adik saya yang masih bayi (1 tahunan). Akhirnya saya menangis beberapa saat sambil main-main pasir dihalaman.
  • Pada suatu malam saya yang berumur sekitar 4 tahunan bermain dengan teman-teman pada malam bulan purnama. Ditemani Ibu dan kakak saya menuju rumah tetangga untuk menikmati terangnya bulan. Saat itu belum ada listrik sehingga bulan purnama adalah saat dimana tetangga pada kumpul untuk sekedar bincang-bincang. Ibu saya ngobrol dengan Ibu2 tetangga sementara saya, kakak saya dan beberapa teman kecil lainnya main petak umpet. Pada suatu ketika saya lari untuk menghindari kejaran teman saya namun malang, saya tabrakan dengan teman saya sehingga pingsan. Setelah sadar tahu-tahu bibir sudah bengkak. Melihat kondisi saya lalu kami pulang ke rumah. Diperjalanan saya seperti hilang ingatan dan bertanya kepada Ibu, "Memang tadi saya tabrakan ya Bu?" Begitu terus saya ulang-ulang.
  • Pernah pada suatu ketika saya berumur kurang lebih 5 tahun. Rumah saya dekat dengan sungai alami. Waktu itu habis hujan sehingga sungai sedikit meluap. Melihat kakak saya bermain disungai saya jadi tergoda. Maka disudut yang lain saya mencoba masuk ke sungai. Saya mengajak teman saya saat itu, namun ia tidak berani turun. Saya mencoba menyeberang sungai, sehingga sampai batas dada, pas ditengah-tengah tubuh saya oleng dan hanyut. Melihat kejadian ini, teman saya berteriak kencang, "Adhin hanyuuttt!!". Kebetulan ada tetangga yang habis pulang dari sawah mendengar teriakan teman saya, dan langsung menyebur ke sungai tersebut. Untuk ukuran kedalaman sungai pada saat itu hanya sepinggang bagi orang dewasa, namun bagi saya sudah cukup untuk menenggelamkannya. Dibelakang tetangga saya, Bapak saya ikut menyebur mengejar saya yang telah hanyut. Saya memang jelas melihat bagaimana mereka berusaha menangkap saya, sampai sekitar 500 meter, tangan saya meraih sebuah akar pohon. Akhirnya tetangga saya berhasil menangkap saya dan menggendongnya ke pinggir sungai. Kalau tidak ada tetangga saya, nggak tau apa yang terjadi.

Itulah sedikit kisah masa kecil yakni sebelum usia 5 tahun yang masih bisa saya ingat. Kejadian 30 tahun yang lalu dimana masih terekam dengan jelas dalam benak. Anda masih ingat kejadian masa kecil?.

Dahulu saya masih anak-anak yang akalnya belum sempurna. Bermain adalah aktifitas yang sangat menyenangkan. Sebagai anak-anak selalu merasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu yang baru. Namun saat ini, sekarang ini setelah 30 tahun berlalu, saya sudah menjadi seorang bapak yang juga mempunyai anak kecil.

Sekarang akal saya sudah sempurna. Bisa membedakan mana baik dan mana buruk.

Maksudnya apa?. Maksudnya saat ini bisa jadi akan menjadi memori 30 tahun ke depan. Mungkin 30 tahun ke depan ketika saya sudah menjadi kakek-kakek, maka saya akan mengenang memori saat ini. Saat dimana saya sudah berkeluarga dan memiliki anak kecil yang nakal.

Jadi sebenarnya hidup ini singkat ya? 30 tahun yang lalu terasa sangat singkat. Bahkan tidak ada satu detik. Buktinya semua sudah lewat. 30 tahun ke depan ketika saya menjadi kakek-kakek juga sangat singkat, yakni ketika umur tersebut sudah terlewati. Hidup didunia ini singkat, bahkan sangat singkat.

30 tahun kedepan saya menjadi kakek-kakek. Itu kalau umur saya dipanjangkan oleh Sang Pencipta. Kalau sebelum 30 tahun kedepan ternyata saya sudah meninggal maka saya akan mengenang memori hari ini pada saat berumur 30 tahun lebih. Mengenang dalam kubur. Ngeri khan? Iya, kalau hari ini yang saya lakukan adalah kebaikan demi kebaikan, coba kalau saya melakukan maksiat dan kejahatan, kira-kira apa yang saya rasakan dialam kubur?

Sahabat... Pahamilah ternyata hidup didunia ini sangat singkat. Coba sebutkan padaku berapa lama? 30 tahun, 50, 60, atau 100 tahun?. Selama apapun saya dan anda hidup didunia ini tidak lebih hanya sebentar saja. Amat sangat sebentar. Yakin seyakin-yakinnya.

Mumpung masih diberikan kesempatan, anda tahu apa yang harus dilakukan, sebelum penyesalan berkepanjangan. Sebelum penyesalan kita semua sia-sia.

Sebelum menutup tulisan ini alangkah baiknya kita merenungi kebenaran berikut ini, (referensi Qur'an dan Hadist dari http://asysyariah.com/umur-anugrah-yang-banyak-diabaikan)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18)

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Luqman: 34)

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap apa yang telah aku tinggalkan. ’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.” (QS Al-Mu`minun: 99-100)

Ibnu Katsir berkata: “Hisablah diri kalian sebelum dihisab, perhatikanlah apa yang sudah kalian simpan dari amal shalih untuk hari kebangkitan serta (yang akan) dipaparkan kepada Rabb kalian.” (Taisir Al-‘Aliyil Qadir, 4/339)

“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” (HR. At-Tirmidzi dari jalan Ibnu Mas’ud z. Lihat Ash-Shahihah, no. 946)

“Apabila engkau berada di waktu sore janganlah menunggu (menunda beramal) di waktu pagi. Dan jika berada di waktu pagi, janganlah menunda (beramal) di waktu sore. Gunakanlah masa sehatmu untuk masa sakitmu dan kesempatan hidupmu untuk saat kematianmu.” (HR. Al-Bukhari no. 6416)

Ketika sudah di alam kubur baru kita memahami, ternyata umur manusia tidak lebih dari satu detik. Wallahu A'lam. Demikian semoga bermanfaat.

Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment