Jun 15, 2014

Panduan Menemukan Kebenaran Sejati

Musim politik adalah moment dimana banyak sekali pendangan dan pemikiran untuk memilih jagoannya kemudian mengajak orang lain untuk sepaham. Banyak yang mengajak dengan santun, banyak pula yang begitu memaksakan kehendak. Nah, berikut ini adalah beberapa hal yang mendasari pemikiran seseorang didalam menyimpulkan sesuatu hal.


  • Media. Baik televisi, internet, koran dan lain sebagainya. Media apalagi musim politik bisa dijadikan sarana memperluas wawasan kita, sehingga kita mengetahui lebih detail kekurangan dan kelebihan jagoan masing-masing. Namun memakai informasi dari media bukanlah alasan yang kuat didalam berargumen. Alasannya adalah, tidak ada media yang 100% netral. Media banyak dijadikan untuk kepentingan tertentu. Bagaimanapun juga sebagian besar media yang terbit pasti berbau bisnis yang tujuannya adalah untung dan rugi.
  • Kepribadian. Terutama sekali yang berhubungan dengan penilaian terhadap orang tertentu yang bisa dilihat oleh mata. Ketika melihat tokoh tersebut turun ke lapangan, maka kemudian pemikirannya akan tergiring untuk menyimpulkan bahwa tokoh tersebut merakyat. Ketika melihat seorang tokoh militer, maka pemikiran akan tergiring kepada sosok yang tegas dan berwibawa. Yang patut disayangkan adalah mereka yang menyimpulkan kepribadian seseorang akibat dari melihat media, padahal media menurunkan sebuah berita yang memberikan keuntungan besar. Menyimpulkan hal seperti ini adalah, argumen yang lemah.
  • Fakta. Fakta bisa didapatkan dari pengamatan pribadi atau membaca. Fakta berbeda dengan dugaan dan prasangka. Misalnya, jika saya memilih nomor satu, maka Prabowo jadi presiden, JKW jadi Gub DKI. Kalau saya memilih JKW jadi presiden maka saya memilih Basuki Ahok jadi Gub DKI 1. Ini informasi yang mengandung fakta. Dalam berargumen, memberikan fakta seperti ini lebih kuat dan lebih bisa mempengaruhi pemikiran orang lain.
  • Emosional. Pemikiran ini melibatkan jiwa didalam mengambil kesimpulan. Karena melihat seseorang yang kelihatannya humble, merakyat dan lain sebagainya kemudian menyimpulkan inilah pemimpin yang sesungguhnya. Biasanya sisi emosional bisa dibidik jika seseorang merasa mempunyai kemiripan dengan tokoh yang dikagumi. Orang yang tegas suka dengan orang lain yang tegas. Demikian juga rakyat suka pemimpin yang merakyat. Tetapi hati-hati, pemikiran emosional lebih mengedepankan hawa nafsu didalam menentukan kesimpulan. Sedangkan hawa nafsu akan menyeret orang tersebut kepada kekecewaan dan kesesatan. Jika ternyata tokoh yang dikagumi berhati munafik, maka akan menjadi musuh nomor satu. Kawan bisa menjadi lawan.
  • Logika. Orang yang menggunakan logika didalam berargumen lebih berpeluang diterima ide-idenya. Bermain logika adalah menyambungkan beberapa fakta dan bukti menjadi sebuah premis atau kesimpulan. Kadang-kadang sisi emosional juga dilibatkan didalam bermain logika. Contoh, Si A adalah mantan prajurit otomatis mempunyai strong leadership atau jiwa kepemimpinan yang kuat. Maka ia cocok menjadi pemimpin masa depan. Mantan prajurit dan leadership adalah fakta, tetapi memprediksikan bahwa ia mampu memimpin dalam skala besar adalah kesimpulan yang melibatkan emosional. Ini masih asumsi berdasarkan fakta yang ada. Pemikiran seperti ini logis dan mudah diterima tetapi tidak menjamin kebenaran. Si B asalnya dari Desa kemudian menjadi walikota. Karena dari desa maka sifatnya ndeso dan pantas menjadi pemimpin yang merakyat. Dari desa adalah fakta, tetapi menjadi pemimpin yang merakyat masih sebatas asumsi. Keduanya tidak menjamin kebenaran. Tetapi orang yang mempunyai pemikiran dengan logika lebih berpeluang mendapatkan kebenaran dari pada yang hanya menggunakan emosi.
Semua bentuk pemikiran diatas ada plus dan minusnya. Menggunakan logika, kepribadian dan fakta lebih berpeluang mendapatkan kebenaran, sementara yang menggunakan emosional dan media lebih berpeluang untuk disesatkan. Maka akan lebih baik lagi kalau mengkombinasikan antara fakta dan logika kemudian ditunjang oleh kepribadian dan media, sehingga hujjah yang diberikan lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Namun semua hal diatas masih tidak bisa menjamin kebenaran sama sekali. Ribuan tahun yang lalu orang mengatakan bahwa bumi datar. Ini fakta berdasarkan pengamatan, semua orang percaya akan hal ini. Namun setelah ilmu pengetahuan berkembang nyatanya bumi ini tidak datar tetapi bulat. Orang yang mengatakan bumi ini bulat pada saat itu bisa dicap "Gila", padahal informasi gila tersebut ternyata kebenaran.

Itulah mengapa banyak Nabi dan Utusan Tuhan, yang dianggap "gila", "Tukang sihir", "penyair", dan panggilan penghinaan lainnya. Padahal Nabi mengatakan kebenaran dari Yang menciptakan kebenaran itu sendiri. Maka sebagian besar Nabi didustakan sebagian lagi malah dibunuh. Nyatanya informasi dan khabar dari Nabi Utusan Tuhan pada abad ini terbukti benar secara mencengangkan. Seluruh Nabi dan Utusan Tuhan yang didustakan atau dibunuh ternyata benar.

Kesimpulannya untuk mendapatkan kebenaran yang mutlak hanya satu, yakni mendengarkan perkataan Nabi dan Utusan Tuhan. Pada ujungnya mereka semua akan memperkenalkan kita kepada Tuhan, Sang Pemilik Kebenaran absolut.

Jadi menjadikan Firman Tuhan sebagai acuan dan panduan didalam menyampaikan pendapat merupakan kebenaran terlepas manusia setuju atau tidak. Menjadikan Firman Tuhan sebagai panduan utama, kemudian berita, fakta, logika dan lain sebagainya adalah sebagai penguat argumen kita. Inilah cara pemikiran yang Insya Allah paling benar.

Anyway, kalau mengikuti apa kata manusia, secerdas apapun, sehebat apapun, selogis apapun merupakan hujjah yang lemah. Jikalau kebenaran mengikuti pemikiran manusia maka rusak binasalah tatanan kehidupan di bumi ini. Karena kebenaran menurut setiap orang berbeda-beda tergantung paradigma masing-masing. Pada dua orang yang cerdas saja bisa terjadi silang pendapat, apalagi kalau kita berpikir secara global.

So, hentikanlah merasa benar apalagi berhujjah dengan acuan yang ada dalam otak kita. Mempercayai pemikiran kita kemudian menjadikannya kesimpulan sama saja menjadikan hawa nafsu sebagai acuan dengan menduakan Tuhan.

"Andaikata kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti rusak-binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka peringatan (Al-Qur`an), mereka tetapi mereka berpaling dari peringatan (Al-Qur’an) itu." (QS Al Mu'minun: 71)



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment