Jun 25, 2014

Mencela Orang Lain Sama Saja Mencela Diri Sendiri

Akhir-akhir ini sudah tak terhitung lagi kata-kata buruk yang terucap untuk membela membabi buta kepentingan hawa nafsunya. Kecenderungan melihat orang lain (lawan politik) penuh cela dan nista. Tak sadarkah apa yang engkau ucapkan adalah cerminan keburukanmu yang ada pada diri mereka?



"Bicara tidak pakai otak, dasar kamfret"
"Saya doain semoga hukum karma menimpamu, biar mamfus"
"Haduh, basah kuyup gue, ini gara-gara hujan sialan"

Ini hanya tiga contoh memburukkan orang lain, mencela orang lain yang tidak elok didengar. Kita biasa mendengar kata-kata buruk yang disampaikan oleh teman kita, sahabat bahkan keluarga kita.

Sudah biasa teman dan sahabat lambat laun tidak akan memberikan respek kepada orang yang suka memburukkan orang lain. Saat ini memang bukan kita yang dicela, namun tidak menutup kemungkinan dilain waktu kitalah yang diburukkan, dicela dan dinista.

Tidak sadarkah kita, sebenarnya kata-kata buruk tersebut adalah cerminan akhlak kita sendiri?

Indah sekali apa yang disampaikan oleh Hazrat Maulana Rumi atau yang terkenal dengan Jalaludin Rumi, tentang hakikat memburukkan orang lain,

"Many of the faults you see in others, dear reader, are your own nature reflected in them..."

"Banyaknya keburukan yang engkau lihat pada diri orang lain, oh pembaca tersayang, sesungguhnya adalah milikmu yang tercermin pada mereka... (Hazrat Maulana Rumi)"

Saudaraku, hentikanlah memburukkan orang lain, sebab sama saja membuka cela dan nista dirimu sendiri. Mencela orang lain sama saja dengan mencela diri sendiri.

Lebih baik bicarakanlah kebaikan-kebaikan mereka yang bisa dikenang. Atau kalaupun terpaksa harus mengatakan sebuah nasehat, maka sampaikan kritikan dengan santun agar tidak melukai perasaan.

Sekali lagi mencela orang lain sama saja dengan mencela diri sendiri.



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment