Jun 17, 2014

Kisah, Mencari Kebenaran

Alkisah, seorang murid yang sedang mencari hakikat kebenaran, sedang berguru disebuah hutan puncak Gunung. Dibawah pohon besar sang Guru bertitah,

"Anakku, hari ini engkau saya ijinkan untuk turun Gunung. Carilah satu buah yang paling enak dan bawalah kemari". Kata sang Guru

"Baik Guru, akan saya jalankan perintah Guru" Jawab Murid

Kemudian sang Murid melakukan perjalanan turun gunung untuk mencari buah yang paling enak dijagad raya ini. Didalam perjalannya ia bertemu dengan pohon mangga. Kemudian terjadilah percakapan

"Anakku, kamu sedang mencari apa?" Kata pohon Mangga
"Aku mencari buah yang paling enak, dapatkah engkau memberitahukan kepadaku?" Tanya sang Murid
"Anakku dengarkanlah nasehatku, buah yang paling enak adalah buahku, maka petiklah. Jika masih kurang maka diluar sana ada sahabat-sahabatku. Ingat anakku, jangan engkau berpaling kecuali kepada buahku saja" Jawab pohon mangga.
"Baiklah" Jawab Murid

Akhirnya sang murid memetik buah mangga dengan banyak, untuk kemudian melanjutkan perjalanan pulang. Namun dalam perjalannya, ia sampai disebuah daerah yang bernama Amerika. Disana ia berjumpa dengan pohon yang gagah, yakni apel. Kemudian terjadilah percakapan,

"Anakku, engkau bawa apakah gerangan?" Tanya Apel
"Saya membawa buah yang paling enak yakni buah mangga". Jawab murid
"Tidakkah engkau melihat, buahku berwarna merah menggoda?. Percayalah anakku, buahku lebih enak dari yang engkau punya. Buanglah dan gantilah dengan buah Apel ini. Jika masih kurang diluar sana sahabatku akan menerima engkau". Jawab Pohon Apel

Kemudian dibuanglah semua mangga yang dipanggul sang Murid, untuk diganti dengan Apel Merah yang enak rasanya. Kemudian dalam perjalanan pulang, sampailah ia disebuah daerah padang pasir dan bertemu dengan pohon Korma.

"Anakku, apa yang engkau bawa?". Tanya Korma
"Aku membawa buah yang paling enak" Jawab Murid
"Buanglah beban yang memberatkanmu itu anakku, buahku lebih ringan dan lebih manis. Kesinilah, dan petik sesukamu. Kalau masih kurang disebelah sana ada banyak sahabatku yang menunggumu". Kata Korma

Akhirnya dibuanglah Apel tersebut dan digantikan dengan Korma. Setelah melanjutkan perjalanan sang Murid bertemu dengan Pohon Maja Khas Melayu Indonesia. Pohon Maja mengatakan hal yang sama kepada Sang Murid, kemudian digantikanlah buah korma menjadi buah Maja yang pahit rasanya. Dalam perjalanan sang Murid berpikir.

"Semua merasa memiliki buah yang paling enak, sampai-sampai buah pahit ini merasa paling enak dijagad raya"

Dengan kecewa dibuanglah buah Maja tersebut dan melanjutkan perjalanan pulang dengan tangan hampa. Sampai didepan gurunya ia berkata.

"Maaf Guru, saya tidak berhasil menemukan buah yang paling enak. Semua merasa menjadi buah paling enak, hal ini membuat saya bingung". Kata Murid

Kemudian sang Guru memberikan nasehatnya,

"Anakku, engkau benar. Kalau buah yang enak menuruti apa yang pohon katakan, maka engkau akan tersesat. Jadi kebenaran bukan apa yang pohon katakan, tetapi kebenaran adalah kebenaran itu sendiri yang datang dari Pencipta semua pohon. Engkau tahu siapa pencipta semua pohon Anakku?" Tanya sang Guru

"Dia lah Tuhan Guru. Namun bagaimana mengetahui kebenaran yang Tuhan berikan kepada kita Guru?" Tanya murid

"Ini jawabannya" Kata sang Guru memberikan sebuah kitab. "Jadikan ia panduan dan acuan dalam mencari kebenaran, walaupun Mangga, Apel, Kurma dan Maja membencimu. Anakku, buah kebenaran tidak mengikuti hawa nafsu, tetapi buah kebenaran adalah taat kepada Sang Pencipta". Kata Sang Guru sambil melanjutkan. "Anakku, inilah kitab kebenaran, engkau akan diberikan petunjuk jalan saat engkau ragu. Engkau akan dibimbing, dipandu, dan dimuliakan". Kata sang guru mengakhiri nasehatnya.

Sang Murid menerima kitab tersebut dengan manggut-manggut. "Baik Guru. Saya akan mempelajarinya".

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Qs.Al-An’Am : 116)

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al Jaatsiyah: 23)


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment