Jun 1, 2014

Berdusta Atas nama Allah swt dan Rosulullah saw

Menulis tentang masalah keagamaan memang hal yang berat. Tidak ditulis takut nanti ilmunya tidak berkah. Jika ditulis takut ada kesalahan. Kesalahan menulis dan tafsir Al Qur'an dan hadist Nabi saw konsekuensinya berat. Namun saya memberanikan diri menulisnya walaupun bukan ahli hadist apalagi ahli Al Qur'an dengan harapan ada manfaatnya. Jika dirasa baik maka ambillah, jika tidak baik maka buanglah.

Menulis hadist Nabi saw, mengatasnamakan beliau namun sebenarnya bukan dari Nabi saw ancamannya adalah tempat duduk dari neraka. Namun namanya manusia tak luput dari salah dan khilaf. Bukan pembenaran, namun memang begitulah adanya.

Al Kitab Injil yang ditulis oleh manusia mengalami perubahan demi perubahan. Padahal yang menulis adalah ahli sejarah. Termasuk buku-buku panduan, pasti akan mengalami revisi demi revis. Hanya satu yang tidak ada revisi yakni Al Qur'an

Artinya : Dari Abi Hurairah, ia berkata. Telah bersabda Rasulullah SAW “Barang siapa yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya (yakni tempat tinggalnya) di neraka”. (Hadits shahih dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/36) dan Muslim (1/8) dll)

Dalam atsar yang lain mengatakan bahwa jikalau, Kita berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita menuduh seorang Shahabat ahli Surga dengan tuduhan yang buruk. Kita telah berdusta kepada orang yang kita sampaikan cerita tersebut kepadanya.

“Artinya : Barangsiapa mencela Shahabatku, maka ia mendapat laknat dari Allah, Malaikat dan seluruh manusia.” [ HR. Ath-Thabrani di dalam kitab al-Mu’jamul Kabir (XII/110, no. 12709) dan hadits ini telah di-hasan-kan oleh Imam al-Albany dalam Silsilatul Ahaadits ash-Shahihah (no. 2340), Shahih al-Jaami’ush Shaghir (hal. 2685)]

Sumber saya mengambil hadist disini dan disini

Itulah bahaya dan ancaman orang-orang yang berdusta atas nama Allah swt dan Rosulullah saw. Begitu besar.

Namun kalau kita melihat fenomena dimana tidaklah mungkin semua muslim adalah ahli hadist. Banyak diantara mereka yang bekerja dan beraktifitas diluar ilmu-ilmu keagamaan yang tidaklah mungkin banyak menghapal hadist beserta riwayatnya, apalagi Ilmu Al Qur'an. Bahkan banyak muslim yang awam tentang hal ini. Inilah fakta. Kemudian ada atsar yang mengatakan kepada kita untuk menyampaikan walau satu ayat dari rosulullah saw.

Fakta yang terjadi adalah, sebagian dari kita bahkan yang berstatus kyai dan ustadz menyampaikan hadist-hadist dhaif bahkan palsu. Ini ulama apalagi orang yang tidak menyandang status sebagai ulama. Contoh secara umum adalah broadcast pesan melalui FB, BB, Twitter dsb yang isinya hadist atau ayat Al Qur'an dimana kita tidak tahu derajad hadist tersebut. Atau seperti saya yang mengambil sumber hadist dari sana sini untuk membuat tulisan menjadi lebih menarik dan mempunyai hujjah yang kuat. Padahal copas hadist yang dhaif atau bahkan palsu tanpa kita mengetahuinya.

Ada yang bekerja sebagai security namun menulis atau broadcast sebuah pesan yang mengandung muatan kebaikan. Demikian ada juga karyawan pabrik, pedagang, aparat, pejabat, PNS dan lain sebagainya yang mencoba menyebarkan ilmu dengan cara broad cast atau menulis artikel di blog mereka. Padahal status hadist dan tafisr Al Qur'an bukan wilayah mereka.

Apakah mereka tergolong orang yang dilaknat kemudian sudah dipersiapkan tempat duduknya dineraka? Wallaahu A'lam.

Mari kita cermati lagi...

Jika mereka yang menulis artikel atau broadcast pesan yang berisi muatan kebaikan, maka akan banyak orang yang membaca kemudian memahami kebaikan yang disampaikan. Jika mereka tidak Broadcast maka penyebaran Ilmu menjadi stagnan. Hal ini menyebabkan orang-orang islam yang bodoh dan kering ilmu agama sehingga menjadikan kering iman. Inilah orang-orang yang mudah bergoncang imannya dan menjadi lahan misionaris yang empuk.

Kalau penyebaran Ilmu agama hanya oleh mereka yang ahli, maka tunjukkanlah kepada kami siapa saja mereka itu. Seikh Albani, Seikh Bin Baz adalah ulama Ahli Hadis kontemporer. Maka jumlahnya bisa dihitung dengan jari (tidak banyak dibandingkan dengan yang bukan ahli hadist). Pesan yang mereka sampaikan (Ahli Hadist dan Ahli Al Qur'an) akan sulit untuk bisa menembus ke lapisan masyarakat. Kalau ummat banyak yang bodoh siapa yang bertanggung jawab? Ya semua muslim, khususnya ulama.

Siapa sih yang mau mendapat laknat Allah dan Rosulullah? Siapa sih yang mau mengambil tempat duduk dineraka? Tentu tidak ada yang mau. Tidak ada sama sekali.

Kalaupun informasi yang disampaikan melalui ceramah, tulisan atau broadcast pesan adalah informasi yang dhaif/ lemah atau hadist palsu, maka muatan kebaikannya yang harus dicermati. Lihatlah bahwa niatnya tidak sengaja melakukan kedustaan karena masih fakir ilmu hadist. Kecuali mereka yang secara sengaja menulis, mengatakan atau menyebarkan informasi yang ia tahu bahwa itu lemah atau palsu dengan tujuan menyesatkan manusia maka jelaslah ia dilaknat dan mendapatkan tempat duduk di neraka.

Contoh, orang-orang munafik yang berniat menyesatkan manusia dari jalan Allah. Atau para misionaris kristen yang asal mengambil hadist dan potongan ayat Al Qur'an untuk memperlemah iman umat muslim. Juga membenarkan pendapat mereka dengan membanding-bandingkan Ayat dan Hadist kemudian mencocok-cocokkan dengan isi Al Kitab. Yang lebih parah adalah mereka yang berkata, atau mengatakan sesuatu yang jelas-jelas tidak bersumber dari Rosulullah, namun hanya karangan mereka sendiri namun mengatakan, "ini dari Rosulullah", dengan tujuan menyesatkan dari jalan Allah, maka tidak syak lagi hukuman atas kejahatan ini.

Atau juga umat muslim sendiri yang mengambil beberapa dalil hadist dan Al Qur'an dengan niat tidak baik, seperti untuk melanggengkan kekuasaan/ jabatan mereka. Padahal mereka menggunakan kekuasaan tersebut pada jalan yang tidak benar. Atau misalnya menggunakan dalil tentang sedekah untuk meminta sumbangan, padahal sumbangan tersebut ia makan sendiri. Menjadi sumber penghasilan.

Anyway...
Saya meyakini para Ustadz, Kyai dan ulama lainnya yang kadangkala mengambil dalil yang lemah atau bahkan hadist yang ternyata palsu tidak berniat untuk berdusta. Demikian juga orang lain yang statusnya bukan Kyai atau Ustadz namun ingin menyampaikan kebenaran, maka saya meyakini tujuan dan niat mereka baik adanya. Kalaupun ada salah, namanya juga manusia. Inilah proses pembelajaran sampai mereka tahu bahwa apa-apa yang disampaikan adalah hadist yang lemah. Mana mungkin kyai atau muslim lain yang tulus hati, hendak menyampaikan sesuatu yang bertujuan menyesatkan muslim yang lain? Atau dengan sengaja hendak melemahkan iman dari saudara muslim yang lain? Saya kira tidak demikian.

Paling tidak inilah pendapat saya pribadi yang mudah-mudahan menggunakan akal sehat bukan hawa nafsu dan emosional. Tulisan ini saya susun agar para juru dakwah tidak berhenti untuk menyampaikan kebaikan. Apa yang mereka ketahui bahwa itu baik maka sampaikanlah. Niatkan untuk hal-hal yang baik saja.

Sekaligus saya pribadi mohon maaf jika dalam penulisan artikel dari awal sampai akhir ada yang salah, mohon dikoreksi. Karena saya sama sekali bukan ahli hadist dan ahli Al Qur'an. Saya hanya berniat belajar tentang agama sekaligus menebarkan benih-benih kebaikan. Tentu saja banyak kesalahan karena saya hanya manusia yang sedang tumbuh dan berniat untuk mencari kebenaran sejati. Kebenaran hanya milik Allah, sementara manusia adalah mahluk yang lemah dan bodoh. Sudah pasti membutuhkan bimbingan dan jalan kebenaran yang berasal dari Yang Maha Berilmu.


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment