May 29, 2014

Ternyata Orang Islam Belum Tentu Islam

Dari kecil, bahkan dari umur 5 tahunan saya sudah mulai ngaji. Pertama kali bapak saya yang ngajarin. Kemudian berpindah-pindah ke guru ngaji yang lain. Terakhir saya ngaji di sebuah pesantren kecil dari kampung, namun sayang tidak khatam satu kitab dikarenakan saya merantau. Al Qur'an sudah khatam beberapa kali, kemudian ada kitab-kitab kuning. Mulai dari Kitab Al Barjanji, Majmu' (Majemuk), Sulam, Safinah, Hidayah, Ta'lim, Tagrib, Dhuror sudah saya lahap. Dhuror dan Jalalah belum sampai khatam. Jalalah itu sebuah kitab yang isinya tafsir Qur'an kalau tidak salah. Isinya hanya beberapa lembar (Mungkin kurang dari sepuluh lembar), namun dahulu ketika saya ngaji belum pernah ada yang bisa khatam. Jika anda orang Desa saya yakin juga sama, ngaji dan ngaji. Ternyata perlu waktu bertahun-tahun untuk khatam kitab yang satu ini.




Sekitar 25 tahun saya ngaji, kemudian merasa saya adalah salah satu orang yang khatam kitab paling banyak. Namun kalau ditanya, apa yang dipelajari? Saya sendiri bingung. Sebagian besar sudah lupa.

Waktu terus berputar kata Arie Laso, kadang terpikir, "Saya dulu ngaji puluhan tahun untuk apa ya?" Ngaji tauhid, thoharoh, shiroh Nabawiyah, Barjanji dsb namun tujuannya apa? Apa biar dikatakan orang alim? Atau biar menjadi mukminin (Dulu kata mukminin di kampung artinya orang yang hebat keagamaannya, padahal bukan).

Sampai kemudian saya menemukan jawabannya dimana ternyata saya sedang belajar Islam. Belajar tentang hukum-hukum Islam. Belajar agama yang benar dan haq. Namun jawaban tersebut mengarah kepada sebuah kesimpulan bahwa ternyata saya belumlah Islam dengan benar. Termasuk anda barangkali. Jadi saya ngaji selama puluhan tahun sifatnya hanya menghapal. Jauh dari pemahaman, jauh dari substansi. Jadi Islam itu bukan hapalan tetapi keyakinan dalam hati yang mendarah daging.

Kemudian ada momentum dimana saya terus bertanya-tanya. Mengapa harus ngaji? Karena inilah kata ulama dimana harus belajar agama. Dari mana kyai atau ulama mengetahui ajaran itu? Dari gurunya, gurunya, dan gurunya sampai kepada Nabi saw. Katanya ujung Ilmu berasal dari Nabi Muhammad saw. Siapa Nabi Muhammad saw? Dialah Nabi dan Rosul yang mengajarkan Islam, asalnya dari Arab?. Kenapa harus Arab, kenapa tidak belajar hindu yang lebih tua dari Islam? Kenapa Islam adalah ajaran yang benar sementara yang lain salah? dsb-dsb sampai kemudian mengerucut kepada tauhid. Inilah agama yang benar diturunkan oleh Allah swt. Allah merihoi Islam sebagai satu-satunya agama yang benar.

Setelah merantau saya melihat dan merasakan sendiri lingkungan yang benar-benar berbeda. Tidak banyak ngaji, tidak banyak sholawatan bahkan banyak yang menolak sholawatan, tahlil, yasin dsb. Katanya bid'ah. Kemudian saya juga mulai melihat dunia yang lebih luas dengan banyak negara yang berbeda. Ada yang keuturunan kristen maka belajar tentang kristen. Ada yang atheis maka atheis menjadi prinsip hidupnya. Kalau begitu puluhan tahun saya ngaji hanya melihat sebagian dari tubuh gajah. Gajah itu hanya belalai dan inilah yang benar, ini biasanya prinsip fanatik bagi mereka yang belum melihat dunia luas. Padahal gajah bukan hanya belalai.

Kalau Muslim masuk surga sementara yang lain masuk neraka nggak adil dong? Bagaimana kalau yang lahir dari keturunan kristen, Yahudi, Atheis di Eropa sana dsb? Mereka tahunya ajarannyalah yang benar sementara yang lain salah.

Saya berpikir, "Sepertinya ada yang salah dengan jalan pemikiran saya". Ada yang perlu direnungkan lagi alasan mengapa saya ngaji puluhan tahun. Kalau asal menerima statement Kyai bahwa Islam adalah benar, Nabi Muhammad saw adalah benar dsb maka inilah selemah-lemah iman. Hanya taklid tanpa pemikiran tanpa perenungan. Akibatnya keyakinan yang ada hanya apa adanya, alias lemah. Maka mulai saat itu saya berpikir dengan akal. Inilah karunia terbesar manusia yakni akal. Gunakanlah untuk berpikir, merenung dan muhasabah. Sama juga dengan mereka yang terlahir Kristen, Yahudi, Atheis dsb seharusnya memakai akalnya ketika sudah dewasa. Untuk apa? Untuk menemukan kebenaran sejati.

Seharusnya Muslim menanyakan dengan akalnya apakah benar Tuhan itu bernama Allah swt? Apakah Muhammad saw dan Al Qur'an adalah petunjuk kebenaran. Demikian juga Kristen, apakah benar Yesus adalah Tuhan. Apakah benar trinitas, dosa waris dsb. Yahudi juga demikian apakah benar Uzair itu anak Tuhan. Demikian juga atheis, apakah benar tidak ada Tuhan di alam semesta ini? Inilah pentingnya kita berpikir dengan akal sehat. Tulus dan jujur untuk mencari kebenaran, bukan membenarkan ajarannya dengan membabi buta. Bukan katanya-katanya dan katanya.

Mengapa harus ada Tuhan? Bagaimana konsep Tuhan? Inilah pertanyaan mendasar yang kita semua harus tahu jawabannya. Inilah fondasi yang wajib ada sebelum belajar hal-hal lainnya. Gunakan mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan hati untuk memahami. Mata melihat alam semesta, telinga mendengar desir ombak, hati memahami bahwa ini tidak mungkin tanpa ada yang membuatnya. Siapa yang membuatnya? Adakah yang mengaku membuat bumi dan langit? Ini pasti ada Dzat Yang Tidak Terbatas, Maha Berilmu, Maha Kuasa dsb sehingga mampu mendesign ciptaan yang Maha Indah, Maha Besar dan lestari. Inilah Tuhan

Kemudian pembelajaran berlanjut kepada sejarah masa lalu, ilmu pengetahuan dst. Masa lalu seperti sejarah Agama, sejarah para nabi dan rosul serta ucapan-ucapan mereka. Kemudian apakah ucapan mereka memang benar dan dibuktikan oleh ilmu pengetahuan terkini. Baru kemudian masuk ke kitab suci yang menerangkan ke-Tuhan-nan dengan detail. Terus mencocokkan kebenaran ucapan Nabi dan Rosul. Apakah Ibrahim as benar-benar dibakar dalam kobaran api? Cek dalam kitab suci. Apakah Firaun jasadanya memang utuh? Cek dalam kitab suci kemudian cocokkan dengan bukti sejarah yang ada. Apakah Yesus adalah Tuhan? Cek dalam kitab suci, apakah beliau mengatakan demikian. Benarkah bumi dan langit dahulunya satu kemudian dipisahkan/ meledak? Cek dalam kitab suci dan cocokkan dengan teori penciptaan alam semesta yang shahih, dst.

Ketika kita percaya kepada Tuhan sebenarnya kita sudah beragama. Newton, Einstein, Galileo dsb mereka beragama, karena dengan jelas mereka percaya Tuhan. Lalu Tuhan yang mana dan agama yang mana? Bacalah riwayat hidup dan karya-karya mereka. Ilmuan tersebut contohnya Newton percaya Tuhan Yang Mendesign Alam Semesta. Bukan manusia yang katanya menjadi Tuhan karena ini tidak masuk akal. Inilah jalan pemikiran para ilmuan terhebat dalam sejarah peradaban.

Kristen menganggap anak manusia sebagai Tuhan. Yahudi menganggap anak manusia sebagai Tuhan. Yang lain menganggap patung, matahari, bulan dsb adalah Tuhan. Semua itu adalah benda yang terbatas yang bisa dilihat dengan kasat mata. Kalau anak manusia, patung dan berhala adalah Tuhan yang bisa dilihat dengan mata kepala, kenapa kita tidak mampu melihat matahari? Itu artinya matahari lebih hebat dari pada Tuhan. Kalau begitu matahari adalah Tuhan? Bukan juga, karena ada bintang lain yang lebih besar dan lebih terang, misalnya bintang Acturus. Inilah fungsi akal untuk menganalisa dan mempelajari sampai kemudian menghasilkan premis atau kesimpulan. Kalau begitu siapa Tuhan yang sebenarnya?

Kemudian akan sampai kepada Tuhan yang menciptakan anak manusia, bumi, bulan, matahari dan alam semesta, semuanya. Alam semesta begitu besar dan luas, bahkan sampai saat ini tidak diketahui tepi-tepinya, maka logis kalau Tuhan jauh lebih besar dari ciptaan_Nya. Dia pasti Tak Terbatas. Tak bisa teridentifikasi Dzat_Nya oleh pikiran dan hati. Bagaimana mungkin sesuatu yang terbatas bisa meliputi sesuatu yang tidak terbatas. Kalau yang tidak terbatas meliputi sesuatu yang terbatas, hal ini rasional.

Dialah Tuhan Yang Tiada Batas, tidak bisa diidentifikasi namun bisa dirasakan kehadiran_Nya. Alam semesta adalah sebagian bukti dari existensinya. Setelah mempelajari konsep ke-Tuhan-nan dari agama Islam, Kristen, Yahudi dan lain sebagainya sampai kepada sebuah kesimpulan bahwa konsep ketuhanan dalam Islam lah yang benar. Sederhana saja, jika anda percaya kepada Tuhan pencipta alam semesta maka anda sudah Islam. Bukan langsung menuju kepada Islam dipesantren dan masjid-masjidnya tetapi Islam pada iktiqod. Yakni pengakuan kepada Tuhan Sang Pencipta kemudian merasa terpesona dan takjub kepada hasil dari design Maha Sempurna. Setelah itu merasa kecil dan lemah sehingga mau tidak mau harus tunduk, patuh dan berserah diri kepada_Nya. Inilah substansi Islam dalam shahadat, "Laa Ilaaha Illallah".

Setelah itu masuk lebih dalam kepada keimanan yang tercantum dalam rukun iman. Kemudian keislaman yang tercantum kepada rukun Islam, dan seterusnya. Setelah meyakini hakikat ini baru kemudian masuk kepada Al Qur'an, Hadist, Pesantren, Masjid-masjid dst. Pembahasan ini menjadi sangat panjang, doakanlah semoga buku tentang keimanan ini bisa segera saya buat dan selesaikan tepat waktu.

Sebagai penutup ada sebuah pertanyaan. Pertanyaannya sederhana, apakah anda sudah merasa benar-benar menjadi penganut Islam (Muslim), atau hanya taklid (ikut-ikutan)?



Artikel Terkait



2 comments:

  1. Awalnya taklid moga ada hidayah yg meningkatkan menjadi muslim-mukmin-muhsin sampai mukhlisin..lahawla wala quwata illa billahil aliyil adzim..sholallah ala muhammad

    ReplyDelete