May 31, 2014

Penebusan Dosa Yang Tidak Masuk Akal Bag. 2

Sebelum membaca ulasan ini marilah kita sama-sama menggunakan akal yang sehat untuk memahami kebenaran. Aktivasi akal sehat bukan hawa nafsu, dugaan, prasangka atau karena emosional. Hawa nafsu adalah mementingkan keinginan diri sendiri dan pendapatnya sendiri. Dugaan dan prasangka adalah sesuatu yang hanya perkiraan/ prediksi yang tidak menjamin kebenaran. Emosional adalah memberikan argumen tanpa alasan yang masuk akal. Sedangkan akal itu sendiri adalah menimbang, menganalisa, mencermati berdasarkan data dan fakta yang ada. Atau menganalisa dengan menggunakan logika sehat yang rasional. Mari kita mulai

Gagasan/ dogma yang mengatakan bahwa seseorang atau siapapun juga yang harus mati dengan cara yang tidak manusiawi demi menanggung dosa-dosa kita adalah gagasan yang tidak masuk akal. Saya tidak akan menggunakan ayat suci satupun untuk membuktikan kebenaran yang logis. Akal sudah cukup untuk menilai apakah sesuatu itu benar atau tidak.

Minum susu menyehatkan, ini masuk akal karena logis. Minum baygon menyehatkan, ini tidak masuk akal karena tidak logis. Menghukum orang yang bersalah adalah logis. Sedangkan mengukum orang tidak bersalah agar orang lain yang nyata-nyata bersalah bisa bebas adalah hal yang tidak logis. Sampai disini paham ya? Bagaimana mungkin Tuhan akan menghukum orang yang tidak bersalah sama sekali (anaknya sendiri, katanya) untuk membebaskan mereka yang bersalah? Dikemanakan akal kalian?

Ketika anda berzina, mencuri, membunuh, memperkosa maka Tuhan akan memaafkan kalian, karena Dia sudah mengorbankan putranya tersayang. Bukankah ini seakan-akan sebuah pesan untuk manusia supaya berbuat kesalahan? Toh Tuhan sudah memaafkan. Kalau anda belajar filsafat manusia maka akan menemukan kecenderungan manusia, yakni menuruti hawa nafsu dan berbuat sesuatu sesuai dengan keinginannya. Contoh, ingin kaya sehingga menghalalkan segala cara, ingin melakukan hubungan biologis sehingga melakukan zina, ingin relaks dan santai sehingga mabuk-mabukan. Inilah kecenderungan manusia. Kalau dibiarkan tanpa aturan maka rusak binasalah bumi ini.

Kristen mengatakan, tidak demikian, karena Yesus sudah mengorbankan dirinya maka kita harus berterimakasih dan mengutamakan kasih. Kalau berdosa tetap ada hukumannya.

Pernyataan diatas lagi-lagi tidak masuk akal. Lalu apa gunanya Yesus mengorbankan dirinya untuk menebus dosa? Logikanya seberat apapun dosa manusia, katakanlah membunuh orang tuanya sendiri, maka akan ditebus oleh darah Yesus. Ini logika sederhana dimana seorang anakpun akan paham.

Kristen mengatakan, darah Yesus tak ternilai untuk menebus dosa manusia. Tuhan mati disalib untuk menunjukkan kasih kepada manusia. Karena Yesus tak berdosa sedangkan manusia itu pendosa.

Lalu apakah Tuhan mati dikayu salib? Maka mereka mengatakan, "Tdak!". Kalau begitu janganlah mengatakan Tuhan mati menebus dosa. Lalu kristen akan menjawab, yang mati di kayu salib adalah manusia karena Tuhan tidak mungkin mati, Tuhan mati sebagaimana manusia. Kalau jawabannya begitu, maka janganlah anda mengatakan bahwa "Tuhan mati menebus manusia" karena ini tidak masuk akal.

"Tuhan mati menebus dosa manusia" adalah kata-kata atau dogma yang tidak terpisahkan dari Kristen. Maka kalau anda konsisten hilangkan kalimat tersebut, atau gantilah, manusia mati menebus dosa manusia. Tentu mereka tidak akan melakukan demikian. Karena inilah dogma.

Maksud saya, kita mempunyai anugrah akal yang luar biasa, maka bukalah dengan kesadaran penuh. Dengan akal kita bisa menilai benar atau salah, logis atau tidak logis. Dengan akal ini kita bisa terhindar dari klenik, takhayul, khurafat dsb. Dengan akal kita bisa memperoleh kebenaran.

Yesus (Nabi Isa as) adalah seorang Nabi dan Utusan Tuhan. Beliau adalah suci dan mulia, namun jangan dipertuhankan. Manusia yang menjadi Tuhan atau Tuhan yang dimanusiakan sama saja dengan membatasi sifat-sifatnya. Yang semula tidak terbatas menjadi sangat terbatas.

Buka pikiran buka hati, Insya Allah kita akan memperoleh kebenaran sejati. Amin


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment