May 5, 2014

Bukti Tuhan Itu Ada. Jawaban Untuk Atheis

Mengapa atheis tidak mengakui adanya Tuhan? Jawabannya ada pada sebuah hal yang simpel. Karena dengan kecerdasannya ia membuat sebuah kesimpulan bahwa Tuhan itu tidak ada. Artinya ia mengandalkan (baca=menuhankan) akalnya. Jadi hanya sesuatu yang masuk akal saja yang bisa dipercaya yang diluar akal tidak akan dipercaya.




Benarkah hanya yang masuk akal saja yang bisa dipercaya? Tentu saja tidak demikian. Namun para atheis yang cerdas sebenarnya sudah satu langkah menuju kepercayaan kepada Tuhan. Mengapa? Karena ia sudah menggunakan akalnya. Ia sudah mencoba mengerti, memahami, belajar dan berbagai usaha lainnya untuk membuktikan tuhan itu tidak ada. Padahal segala macam usaha akalnya justru akan mengarah kepada keberadaan Tuhan.

Atheis lebih berpeluang besar untuk mengenal Tuhan dari pada orang yang taklid buta. Misalnya sebuah pertanyaan berikut, "Apakah Tuhan ada?" Kata A. "Jelas ada karena guru saya mengatakan demikian". Ini namanya taklid buta. Kepercayaan tanpa pembuktian pribadi. Maka jika para atheis dengan pikiran terbuka dan perasaan jujur untuk mencari kebenaran niscaya mereka akan menemukannya.

Ada sebuah blog menarik. Petikan tulisan ini saya ambil dari blog atheis disini

Keraguan 1

Apa bukti kalau Tuhan tidak ada. Pertanyaan ini hanya bisa dijawab apabila kata “Tuhan” didefinisikan secara jelas. Tanpa definisi yang jelas, tidak mungkin apa pun dibuktikan ada atau tidak ada. Bayangkan Anda diminta membuktikan keberadaan X tanpa disebutkan secara sangat jelas, apa itu X. Permasalahan sama tentang Tuhan mengingat hampir semua agama memiliki deskripsi sendiri tentang Tuhan. Ada yang menganggapnya sosok yang bisa marah dan berkehendak, ada yang berkata Tuhan adalah kesadaran manusia itu sendiri. Ini membuat pembuktian Tuhan menjadi mustahil ketika semua memiliki definisi berbeda.

Jawab: Atheis meminta definisi Tuhan yang jelas. Jelas dan logis. Jelas seperti melihat bulan. Padahal kalau menuruti kemauan atheis menjadikan Tuhan terbatas. Dan tuhan yang terbatas menjadi tidak logis. Kok ada tuhan tapi terbatas, seharusnya khan diatas segalanya. Lalu mengapa deskripsi dan definisi Tuhan berbeda pada setiap agama?. Gajah adalah binatang dengan belalai yang panjang. Kemudian ada pendapat lainnya bahwa gajah adalah binatang dengan kuping yang lebar. Kaki 4, besar dll. Mereka mendefinisikan gajah sesuai dengan logika masing-masing yang berbeda satu sama lain. Apakah dengan kenyataan ini kemudian disimpulkan bahwa gajah itu tidak ada?. Kalau demikian malang sekali nasib sang gajah. :)

Jadi definis berbeda tentang Tuhan dari setiap agama tidak serta merta membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Dari banyak deskripsi tentang Tuhan tentu ada salah satu yang mendekati kebenaran dan ada juga yang salah kaprah. Ini dikarenakan subyeknya adalah Yang Tidak Terbatas kemudian dideskripsikan oleh mahluk yang terbatas.

Keraguan 2

Persoalan kedua adalah dalam skala sebesar alam semesta, membuktikan ketiadaan sesuatu adalah mustahil. Contoh, tidak ada yang bisa membuktikan bahwa Sinterklas tidak ada. Tidak ada yang pernah merekam dan menjelajahi setiap jengkal bumi untuk menunjukkan bahwa tidak ada Sinterklas. Bagaimana jika Sinterklas bersembunyi di Bulan? Bagaimana jika Sinterklas bersembunyi di dimensi lain? Ini jugalah yang terjadi pada jin. Tidak ada yang bisa membuktikan jin tidak ada, tidak ada yang bisa membuktikan Doraemon tidak ada.

Jawab: Dalam skala sebesar alam semesta justru merupakan tanda-tanda adanya Tuhan. Karena tidak ada sesuatu yang ada dengan sendirinya tanpa sebab. Kalau berkesimpulan alam semesta ada dengan sendirinya tentu jika orang lain berkesimpulan bahwa artikel yang saya tulis ini ada dengan sendirinya merupakan kesimpulan yang benar dan logis. Padahal kesimpulan seperti ini adalah kebodohan yang nyata. Mana mungkin artikel ini tidak ada yang nulis. Pasti ada, walaupun anda tidak tahu namanya, alamatnya, statusnya, fisiknya, dan kalau dilanjutkan ada ratusan hal yang lain yang tidak akan kita ketahui.

Dibanding alam semesta, maka artikel ini tidak ada apa-apanya. Alam semesta adalah ciptaan yang luar biasa canggih, komplit, seimbang, menakjubkan, buesar, dan jutaan venomena-venomena lainnya yang tidak mungkin kita ketahui. Mana mungkin otak sebesar tempurung kepala sanggup mengetahui segala sesuatu. Kalau kita berkesimpulan tulisan ini ada yang membuatnya, maka alam semesta lebih masuk akal harus ada yang membuatnya. Tidak bisa tidak.

Keraguan 3

Secara umum, orang yang mengklaim keberadaan sesuatulah yang memiliki kewajiban untuk membuktikan. Tertama jika klaim tersebut berlawanan dengan hukum fisika dan azas kenormalan yang ada. Prinsipnya, an extraordinary claim requires extraordinary evidence. Jika ada orang mengatakan memiliki pensil, maka saya tidak perlu menuntut pembuktian karena memiliki pensil adalah hal yang biasa. Berbeda, misalnya, dengan seseorang mengaku memiliki pensil emas tidak kasat mata yang mampu mengabulkan segala keinginan. Klaim tersebut terlalu luar biasa untuk dipercaya tanpa bukti.

Jawab: Ngomong-ngomong pensil, saya juga mempunyai pensil yang bisa bicara? Kalau penasaran bisa kita bisa ketemu. Keraguan diatas artinya Tuhan adalah sesuatu yang luar biasa dimana harus membutuhkan bukti yang nyata dan jelas. Apakah salah? Tidak, justru pernyataan itu benar. Maka carilah bukti bahwa Tuhan itu ada. Tetapi sesuatu yang luar biasa buktinya juga harus luar biasa. Kalau ingin membuktikan Tuhan harus bisa dilihat, maka lihatlah dulu matahari. Kalau Tuhan harus bisa dilihat oleh mata artinya Tuhan terbatas. Berarti kalau mata merem, Tuhan jadi tidak terlihat. Ini permintaan bukti yang lucu.

"Tanpa pembuktian secara empirispun tetap bisa diterima akal bahwa Tuhan itu ada". Pertanyaan ini bagus sekali. Sebelum membuktikan kebenaran_Nya maka ada pertanyaan lain dalam skala yang jauh lebih kecil. Apakah ruh ada? Ada. Alasannya? Karena kita hidup. Dimana ruh? Tidak ada yang bisa membuktikan posisi ruh. Apakah listrik ada? Ada. Alasannya? Bisa dirasakan. Rasanya bagaimana? Kalau mau tahu rasanya, panjatlah tiang listrik dan pegang. :).

"Apakah Tuhan ada?" Ada. "Alasannya?" Karena kita bisa merasakannya, apalagi atheis yang sedang berlayar namun perahunya bocor dan hampir tenggelam. Tanpa sadar ia mengatakan, Tuhan tolonglah kami. "Buktinya apa kalau Tuhan ada?" Buktinya alam semesta dan segala isinya. "Alam semesta itu ada dengan sendirinya bos! Ada hukum sebab akibat". Kalau begitu kembali lagi kepada pembahasan bahwa artikel ini juga ada dengan sendirinya. Tentu menjadi tidak masuk akal kalau apa yang saya tulis dianggap ujug-ujug ada.

Keraguan 4

Kembali kepada pembuktian Tuhan tidak ada, mari kita tinjau dari deskripsi agama mayoritas tentang Tuhan, melalui sifat-sifatnya. Ada kesamaan konsep Tuhan yang diagungkan agama-agama mayoritas saat ini. Dengan menggunakan Logika, kita bisa membuktikan bahwa konsep tuhan yang sering diajukan memiliki kontradiksi. Ini berarti kalau pun ada Tuhan, pastinya bukan seperti yang digambarkan

Jawab: Kembali kepada logika gajah. Banyak deskripsi tentang gajah yang berbeda-beda. Namun perbedaan itu tidak berarti bahwa gajah tidak ada. Demikian juga deskripsi tentang Tuhan yang saling kontradiksi tidak serta merta membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Bukan Tuhan yang tidak ada namun kemampuan dalam mendeskripsikan Tuhan itulah yang kadangkala salah kaprah dan ada juga yang mendekati kebenaran. Dalam hal ini otak menjadi subyek, seharusnya jadikan Tuhan itu adalah subyek yang benar adanya. Kemudian akal mencari cara yang logis dan rasional untuk membuktikannya. Kalau akal belum mampu maka belajarlahlah lebih keras lagi sampai akal mampu mendefiniskan Tuhan dengan benar. Akal yang menyesuaikan kebenaran bukan kebenaran harus memenuhi logika akal.

Seandainya kita mempunyai mesin waktu dan bisa kembali kepada peradaban ribuan tahun yang lalu kemudian mengatakan, "Di peradaban saya ada kereta api yang mirip dengan onta kurus, ada juga mobil, handphone dsb". Maka sebagian dari mereka akan memukul anda karena apa yang disampaikan tidak masuk akal. Sebagian lagi percaya karena anda datang dari masa depan. "Matahari adalah bintang bersinar, jadi bukan tuhan" Maka sebagian besar orang yang hidup pada masa itu akan membunuh anda dikarenakan mereka menyembah matahari.

Demkian juga kalau kita bisa menembus masa depan ribuan tahun ke depan. Tentu apa-apa yang kita anggap benar bisa menjadi salah dan sebagainya. Kesimpulannya, logika akal tidak mutlak. Akal digunakan untuk menyesuaikan fakta kebenaran yang ada. Bumi itu bulat, ini adalah kebenaran walaupun pada masa lalu menganggap bumi itu datar, atau bumi seperti mangkuk atau apapun. Tuhan itu ada sebagaimana yang disampaikan Nabi-Nabi yang sudah membuktikannya. Terserah pendapat manusia lain yang menganggap Tuhan itu tidak ada, atau ada berbentuk manusia, patung, mempunyai suling sakti, pemarah, welas asih, disurga atau apapun. Mana yang benar? Tentu yang benar adalah pendapat mereka yang sudah membuktikan yakni Nabi-Nabi. Maka belajarlah kepada mereka, dan abaikan selain mereka. Gunakan akal serta nurani anda didalam proses belajar tersebut.

Mungkin begini saja intinya:
http://hjkarpetmasjid.blogspot.com/

Atheis yang mengingkari Tuhan dibanding dengan orang yang percaya kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi akan mendapatkan hasil dari pemikirnnya. (Saya garis bawahi Tuhan Pencipta langit dan bumi sebagai penekanan). Hasil dari olah pikir yang akan didapatkan ketika kita sudah mati

Jika Tuhan tidak ada maka atheis aman. Karena tidak usah merasa kuatir akan pembalasan, disebabkan tidak mengakui adanya Tuhan. Demikian juga orang yang mengakui adanya Tuhan Pencipta Langit dan Bumi, akan aman. Bahkan lebih baik. Karena walalupun mereka percaya Tuhan, kemudian nyatanya Tuhan tidak ada, tetap saja aman. Hal ini dikarenakan kepercayaannya tidak terbukti dan setelah kematiannya hanya meninggalkan nama baik.

Namun akan menjadi masalah besar jikalau ternyata Tuhan itu ada. Atheis dijamin akan merasa ketakutan selepas bangkit dari kematian dan diminta bertanggung jawab. Tidak ada hujjah tidak ada alasan. Siap-siap menghadapi keadilan Tuhan. Karena ada hukum sebab akibat sebagai konsekuensi logis. Untuk orang yang mempercayai Tuhan Pencipta langit dan bumi tentu saja aman. Karena bangkit dari kematiannya dalam keadaan beriman, atau percaya kepada Tuhan.

Kesimpulannya lebih baik untuk mempercayai Tuhan itu ada. Kemudian gunakan akal anda untuk mencari bukti bahwa Tuhan ada. Jika akal belum mampu untuk mendefinisikan Tuhan, maka teruslah belajar dengan pikiran dan hati terbuka. Percayalah ada saatnya dimana keyakinan akan Tuhan meresap dalam hati sanubari.

Dipersembahkan oleh: Unbeliefeable Faith, Rahasia Meraih Keyakinan Tanpa Batas. Klik disini untuk belajar.



Artikel Terkait



2 comments:

  1. Ada beberapa pertanyaan yg ingin saya ajukan:
    1. Tuhan menurut anda apakah tuhan yg maha segalanya?
    2. Pembalasan tuhan apakah menurut anda ada?
    3. Dari keraguan yg pertama, saya jadi penasaran, jika tuhan tidak terbatas sedangkan manusia terbatas, wajarkah jika seseorang tidak mampu untuk mempercayai tuhan? Sadarkah tuhan akan hal itu? Bagaimana dengan nasib makhluk terbatas ciptaan tuhan yg tidak terbatas tersebut karena gagal mempercayai tuhan?
    4. Bukankah "lebih baik untuk mempercayai tuhan itu ada, agar aman setelah mati" adalah statement yg berbau politis?
    5. Terlepas dari konteks tuhan, saya ingin bertanya hakikat seorang manusia hidup untuk apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belajar menjawab ya?
      1. Ya
      2. Ada
      3. Manusia yang tidak mengenal Tuhan karena tidak menggunakan akal dan hatinya. Karena Tuhan tiada batas maka DIA Mencipta langit dan bumi untuk menunjukkan eksistensi_Nya. Sebuah ciptaan yang terbatas inipun tidak akan bisa dijangkau seluruhnya oleh pikiran kecuali hanya sebagian kecil saja.
      4. Mungkin bukan politis Mas, tetapi jaga-jaga. Sambil jalan sambil belajar sehingga sampai kepada derajad yakin.
      5. Hidup untuk menjemput mati. Oleh karena manusia berbeda dengan hewan maka gunakanlah akal dan hati apa yang akan terjadi setelah mati.

      Delete