May 24, 2014

Bagaimana Cara Mengendalikan Hawa Nafsu

Berbicara mengenai hawa nafsu tentu saja membutuhkan pemahaman yang baik dan bijaksana. Semua sendi-sendi kehidupan ini diliputi oleh Nafsu sebagai sebuah hal yang mampu menopang kehidupan. Manusia membutuhkan makanan untuk menopang hidupnya namun jika berlebih-lebihan menjadi menuruti hawa nafsu. Makan yang enak-enak sampai kenyang dan puas, inilah dorongan hawa nafsu yang menjerat. Demikian juga nafsu syahwat dimanfaatkan untuk melanjutkan keturunan, generasi demi generasi, namun kalau syahwat diumbar dengan cara yang tidak benar akan menjadi bencana bagi pelakunya. Makanya sudah lazim saat ini terdengar baik di media, koran dsb banyak sekali yang mengumbar hawa nafsu syahwat tidak pada tempatnya.

 

Bagi seseorang muslim yang menyadari hakikat kehidupannya, akan senantiasa menjaga hati dari tipuan hawa nafsu yang menjerumuskan. Nafsu adalah kecenderungan tabiat yang dirasa cocok. Kecenderungan ini merupakan suatu bentuk ciptaan Allah yang ada dalam diri manusia, sebagai urgensi keberlangsungan hidupnya. Karenanyalah manusia memiliki keinginan untuk makan, minum, dan menikah.

Ada pula yang mendefinisikan hawa nafsu yang tidak berbeda jauh dari yang disebutkan diatas yaitu :
  • Kecenderungan jiwa kepada yang diinginkan.
  • Kehendak jiwa terhadap yang disukai.
  • Kecintaan manusia terhadap sesuatu hingga mengalahkan hatinya.
  • Suka atau asyik terhadap sesuatu kemudian menjadi isi hatinya.

Orang yang sudah dewasa akan diuji dengan hawa nafsu. Setiap saat akan muncul kondisi yang menciptakan dua hakim pada dirinya, yaitu hakim akal dan hakim agama. Dia diperintahkan agar senantiasa melaporkan kasus-kasus nafsu kepada dua hakim ini dan patiuh terhadap keputusannya. Dia harus berusaha melatih diri menyingkirkan hawa nafsu yang tidak baik akibatnya, agar dikemudian hari tidak mendapat kesengsaraan. 

Orang yang selalu mengikuti hawa nafsu akan berakibat penyesalan yang tiada habisnya. Akibat yang mengerikan berupa azab Allah.

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. ( QS Shaad : 26 )

..."Neraka dikelilingi dengan syahwat (hal-hal yang menyenangkan nafsu), sedang surga dikelilingi hal-hal yang tidak disenangi (nafsu)." (Sahih Bukhari)

Sebaliknya orang-orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu akan mendapatkan balasan terbaik yakni surga

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat (nya).” (QS An-Naziat 40-41).

Namun kalau kita mau jujur, maka semua manusia tidak akan lolos kepada azab neraka. Kenapa demikian? Karena manusia mempunyai nafsu dan pasti ada satu atau lebih hawa nafsu yang selalu diperturutkannya. Contoh
  • Makan bukan untuk memenuhi hak perut saja namun lebih kepada rasa yang enak dan mengenyangkan.
  • Kemaluan digunakan untuk meneruskan keturunan. Namun berawal dari pandangan mata yang diharamkan berlanjut kepada pemuasan nafsu birahi dengan segala cara. Inilah yang Rosulullah sabdakan dimana wanita bagi laki-laki adalah subyek yang bisa menjadi bencana besar yang bisa membangkitkan hawa nafsu dan angan-angan dengan sangat mudah.
  • Mencari harta secukupnya yang bisa dmanfaatkan untuk bekal kehidupan dan ibadah. Namun mana ada yang seperti ini? Hampir semuanya bekerja siang dan malam untuk mencari harta sebanyak-banyaknya yang bisa digunakan untuk memenuhi segala keinginannya
  • Saat ini sudah jarang manusia yang mampu meredam emosi atau nafsu amarah dan lebih suka melampiaskannya
  • Saat ini kebanyakan manusia merasa benar dengan opini dan pendapatnya dan menganggap orang lain salah.
  • Saat ini banyak orang yang memanfaatkan agama dan menafsirkannya sesuai dengan tujuannya yakni membenarkan dirinya sendiri atau untuk mencari harta benda. Bloq sederhana ini bisa juga demikian, siapa yang tahu?
  • Karena itu banyak Kyai atau Ustadz yang terjerumus kepada salah tafsir, bid'ah dsb tanpa mereka sadari dan menganggap itu semua adalah benar.
  • Saat ini sudah banyak orang yang terkungkung dan dikendalikan hawa nafsu. Bekerja siang dan malam dimana hanya sedikit saja waktu untuk beribadah dan mengingat Tuhan. Pada saat beribadahpun hati lalai dikarenakan kelelahan, kesibukan dan beban pekerjaan.
  • Saat ini sudah sangat banyak manusia yang memanfaatkan kedudukannya untuk kepentingan dirinya sendiri atau golongan. Padahal seharusnya kedudukan/ jabatan bisa dijadikan media untuk berbuat keadilan, namun ternyata tidak demikian. 
  • dan masih banyak yang lainnya

Jadi tidak masalah dia Ulama, Kyai, Ustadz, Cendekiawan apalagi seperti kita-kita ini pasti banyak sekali terjerumus kedalam pemuasan keinginan atau hawa nafsu. Kalau mau jujur manusia jaman sekarang lebih mementingkan dunia dan hawa nafsunya dari pada negeri akherat. Jikalau tidak dikarenakan rahmat Tuhan YME tentu semua manusia akan masuk neraka.

Hawa nafsu tidak akan pernah berhenti didalam menggeret manusia ke lembah kebinasaan. Nafsu selalu mengajak manusia kepada kesenangan dan pemenuhan segala kebutuhan. Dalam hal ini peran syetan menjadi nyata didalam menunggangi hawa nafsu apalagi sedikit demi sedikit nafsu tersebut mulai diikuti dan dipuaskan. Hanya satu hal yang bisa menghentikan godaannya yakni kematian. Sebelum kematian maka setiap detik dan setiap menit manusia berada dibibir neraka.

Sesungguhnya manusia lebih unggul daripada binatang, karena manusia memiliki akal yang dapat mengendalikan hawa nafsunya. Jika manusia tidak mau menerima pertimbangan akal, dan merelakan hawa nafsu mengusainya, hinalah manusia dan lebih rendah derajatnya daripada makhluk tak berakal. Sungguh bahaya!

Kebanyakan pelaku maksiat mungkin tidak bermaksud melakukannya. Mereka hanya lemah menahan gejolak nafsunya, tidak cermat menangkap buah kesabaran dan memahami petaka yang diakibatkan hawa nafsunya. Padahal perbedaannya seperti antara rasa manis dan pahit. Banyak keuntungan yang didapat dalam kesabaran, begitupun kerugian akan didapati jika hawa nafsu diperturutkan. Akhirnya, jika aturan-aturan Allah pun dilanggar, jadilah mereka sebagai ‘hamba’ hawa nafsunya.

"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya."
(QS Al-Furqaan: 43)

Lalu bagaimana mematikan hawa nafsu? ya jelas tidak bisa. Bagaimanakah caranya melawan hawa nafsu? Juga tidak bisa. Manusia tidak makan maka ia akan mati. Yang benar adalah dikendalikan. Agama dan syariat mempunyai hak, maka tunaikanlah kewajiban-kewajiban agama baik yang sudah ditentukan waktunya maupun ibadah dalam bentuk muamalah, Perut mempunyai hak maka tunaikanlah dan jangan berlebih-lebihan. Syahwat mempunyai hak maka tunaikanlah dalam sebuah perkawinan yang sah. Salurkan keinginan, emosi, kemauan, harapan dan lain sebagainya pada tempatnya dan jangan berlebih-lebihan.

Menempatkan nafsu pada tempatnya bukan berarti berpakaian kumuh atau puasa setiap hari, atau tidak bekerja, atau tidak menikah dan lain sebagainya. Ini namanya menyiksa diri. Semua ada tempatnya.

Jadi kendalikan nafsu anda dan kontrollah semaksimal mungkin. Anggap hawa nafsu adalah musuh bebuyutan anda yang harus diperangi dengan segala daya dan upaya. Kontrol kemalasan anda ketika waktu sholat, kontrol kepintaran anda dengan tidak merasa paling hebat dsb. Jadikan agama dan syariat sebagai sumber kontrol yang mutlak. Jangan ditafsirkan menurut hawa nafsu sendiri namun jadikan syariat sebagai landasan beragama yang mutlak.

Namun kalau masih saja hawa nafsu tersebut kita ikuti (dan pasti kita akan ikuti) dengan berlebih-lebihan maka banyak-banyak istighfar. Nyatalah manusia adalah mahluk yang teramat sangat lemah dan membutuhkan rahmat, pertolongan dan kekuatan Tuhan Sang Pencipta.

Jangan sampai atau paling tidak jangan keseringan kita menghinakan diri menjadi lebih rendah dari pada binatang. Binatang selalu mengumbar dan mengikuti hawa nafsu karena memang ia tidak diberikan akal. Manusia mempunyai akal dan syariat agama sebagai kontrol. Maka gunakan akal anda sebaik-baiknya. Jika kita berhasil menekan dan mengendalikan hawa nafsu maka sebagai manusia kita mempunyai kutamaan melebihi malaikat. Karena malaikat memang hanya diberikan akal saja tanpa nafsu.

Disaripatikan dari berbagai sumber


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment