Apr 23, 2014

Sifat atau Kharakter Susah di Rubah, Namun Bisa

Tabiat, sifat, kharakter memang sebuah hal yang menempel pada diri kita. Semua itu didapatkan melalui sebuah proses yang panjang, bertahun-tahun. Makanya sangat susah merubah kharakter orang keras menjadi lemah lembut, sebaliknya lemah lembut menjadi keras. Susah bukan berarti tidak bisa, namun memerlukan beberapa syarat agar sifat buruk bisa dirubah.

 

Malam ini kami diskusi dengan beberapa orang. Yang satu sifatnya keras, yang satu lagi lemah lembut namun kurang wawasan. Pada akhirnya kami berbicara diluar tema sesungguhnya yakni tentang kesuksesan. Yang sifatnya keras anggap saja namanya Pak Slamet, yang lemah lembut Pak Budi.

"Saya ini sudah capek, baru saja berantem sama pelanggan. Masak harga semurah itu masih saja ditawar. Nawarnya nggak kira-kira lagi" Kata Pak Slamet

"Namanya pelanggan harus dilayani dengan sebaik-baiknya. Pelanggan adalah raja. Kalau mereka baik kita baik, namun kalau mereka rewel sebisa mungkin kita harus tetap baik" Kata Pak Budi

"Pelanggan sih pelanggan, tapi nggak harus selalu dibaiki. Kalau mereka baik pasti saya baik, tapi kalau mereka tidak baik, buat apa saya baik-baiki. Malas saya" Jawab Pak Slamet

"Tapi yang rewel nawar tadi pesen lagi nggak?" Tanya Pak Budi

"Masih pesen sampai sekarang sih. Tapi saya jadi males melayani. Nggak enak dilihatnya" Jawab Pak Budi

"La itu masih pesen. Yang namanya pelanggan sudah biasa jangan diambil ati. Kalau kau nuruti emosi lama-lama kehilangan pelanggan lho?" Kata Pak Budi

"Bodo amat, kita harus tegas. Supaya nggak diinjak-injak pelanggan" Kata Pak Slamet

Itulah sebagian pembicaraan yang kalau ditulis disini bisa panjang lebar. Pointnya adalah kalau sudah sifat susah dirubah. Kecuali kita mau membuka pikiran dan perasaan untuk menerima kebenaran, maka sifat tersebut diharapkan bisa berubah menjadi baik. Pak Slamet sudah dikasih wawasan supaya lebih baik melayani pelanggan tetap saja tidak mau membuka pikirannya. Ujung-ujungnya saat ini pelanggannya sedikit. Kerja capek namun penghasilan kurang.

Sebenarnya Pak Budi yang notabene sudah banyak makan asam garam berhadapan dengan konsumen hendak memberi masukan yang positif dimana kalau orang lain baik kita juga harus baik, namun kalau mereka menurut kita melakukan tindakan yang tidak baik sebisa mungkin jangan membalasnya dengan keburukan. Kecuali kalau kita mau kehilangan pelanggan. Dalam hal ini Pak Slamet tidak mau belajar dari kondisinya sekarang yang serba kekurangan dikarenakan tidak tulus didalam melayani pelanggan. Sudah lumrah sebagai penyedia jasa supaya menganggap pelanggan adalah nyawa bagi usahanya, jangan sekali-kali membuatnya lari yang menyebabkan perekonomian kita morat-marit.

Menjadi tegas itu baik sekali. Tetapi beda antara tegas dengan keras. Kalau membalas hinaan orang lain dengan hinaan dan kata-kata yang keras itu namanya bukan tegas, tetapi memperturutkan emosi. Tegas itu menerapkan peraturan tanpa pandang bulu. Tegas itu menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Kalau hanya ngomong kata-kata dengan keras semua orang juga bisa.

Semua orang mempunyai prinsip masing-masing, namun jangan salah. Bisa jadi prinsip anda salah maka harus terbuka pikiran dan hati menerima kebenaran. Prinsip lahir dari kebiasaan berpikir dan menganggap itulah yang benar. Padahal semakin bertambah wawasan dan pengetahuan maka prinsip yang dahulunya dianggap kebenaran bisa menjadi kebodohan. Jangan sampai kemudian ketika sudah tua namun sifatnya masih seperti anak-anak karena kurang etika, kurang wawasan dan kurang kedewasaan.

Saya dahulu berprinsip hemat pangkal kaya, padahal ada prinsip lain yang lebih baik yakni sedekah pangkal kaya. Dahulu prinsip saya lebih baik diam dari pada ujung-ujungnya berantem, saat ini telah berubah. Karena berbicara yang baik untuk mencari solusi adalah berlian. Saya pernah menganggap semua agama sama, padahal tidak demikian. Dan banyak prinsip-prinsip hidup yang menjadi sifat kemudian berubah menjadi prinsip lain yang lebih baik. Semua dimulai dari kesadaran untuk membuka pikiran dan perasaan untuk menerima masukan, input, wawasan, ilmu, sejarah dan lain sebagainya.

Apakah anda berprinsip keras dan tegas itu baik? Atau mengalah baik adanya? Atau tangan balas tangan? Atau diam adalah emas? Atau prinsip hidup yang lainnya. Maka ketahuilah bahwa prinsip anda seimbang dengan tingkat wawasan. Orang kaya beda prinsip dengan orang miskin. Orang bahagia beda prinsip dengan tukang ngeluh. Orang pintar beda prinsip dengan orang bodoh. Prinsip menjadi sifat atau kharakter yang penuh daya didalam mengendalikan diri dan kondisi hidup anda sekarang.

Mau kaya? Maka pantaskan sifat atau kharakter orang kaya dengan belajar kepadanya. Mau menjadi pribadi yang bahagia dan menyenangkan, maka tirulah kharakter mereka yang berbahagia. Mau menjadi pemimpin, maka milikilah ketegasan yang benar sebagaimana pemimpin. Jangan sebaliknya, mau kaya dan bahagia namun tetap bertahan dengan sifat mau menang sendiri, egois, tidak peka kebutuhan orang lain dan lain sebagainya.

Jadi pantaskanlah dirimu baik prinsip hidup, sifat dan kharakter sebelum menjadi seperti apa yang engkau inginkan. Kemudian belajarlah untuk menambah cakrawala pemikiran yang lebih luas dan dewasa.

Presented by Magis7. 7 Langkah Magis Menguasai Rasa Sejati



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment