Apr 20, 2014

Pentingnya Ilmu, Wajib dipelajari.. Bag 1

Ilmu itu teramat sangat penting untuk kita pelajari. Ilmu itu ibarat cahaya yang menerangi gulita malam. Tanpa ilmu kita tidak akan bisa melihat sekelilingnya dan mudah sekali tersesat. Kalau menginginkan dunia dan seisinya hanya dengan ilmu, mau akherat juga perlu ilmu, mau dunia dan akherat juga ada ilmunya.



Ada sebuah ungkapan yang baik sekali. Entah Hadist atau bukan namun substansinya sangat mengena kepada sasaran. Hadist tersebut adalah, "Kalau ingin hidup bahagia di dunia ada ilmunya, kalau ingin hidup bahagia di akhirat ada ilmunya, kalau ingin hidup bahagia di dunia dan akhirat ada ilmunya” (Al Hadits).

Artinya sebegitu pentingnya ilmu makanya Rosulullah saw sampai bersabda,

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa menempuh jalan utk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.”

Bahkan dalam riwayat yang lain Nabi saw menganjurkan untuk menuntut ilmu sampai ke Negeri China. Pertanyaannya adalah apakah hanya ilmu agama? Kalau pendapat saya pribadi dua-duanya baik ilmu dunia maupun ilmu agama. Kita secara tidak sadar seringkali mendikotomi / membedakan antara ilmu agama dan ilmu dunia. Ilmu agama itu seakan-akan tidak boleh dicampuradukkan dengan ilmu dunia, inilah barangkali yang menyebabkan banyak muslim yang bodoh. Banyak juga abid (Ahli ibadah) yang bodoh, termasuk Ustadz yang kurang terbuka didalam memahami ilmu secara keseluruhan, yang pada akhirnya menimbulkan fanatisme madzab dan golongannya.

Padahal baik ilmu agama maupun ilmu dunia sama-sama bersumber dari Allah swt, jadi tidak elok kalau membeda-bedakan. Semua baik dan semua harus dipelajari. Bukankah indah kalau mendengar Dokter muslim yang mendunia, demikian juga ilmuwan, pengusaha, doktor, dosen, CEO, presiden dan tokoh cendekiawan muslim yang mendunia seperti jaman dahulu? Entah dari mana datangnya pemisahan tersebut diatas. Menjadi heran ketika mengetahui ada seorang kyai pasti identik dengan miskin, kemudian ada seorang motivator identik dengan orang kaya. Padahal kyai belajar agama seumur hidupnya sedangkan motivator hanya beberapa tahun saja. Seharusnya kyai dicukupkan atau perlu dikayakan agar supaya beliau bisa leluasa menyampaikan dakwah kebaikan kepada ummat.

Jadi kalau menurut saya apapun ilmu yang dipelajari kalau niat kita benar dan lurus maka Insya Allah semua akan memudahkan jalan kita ke sorga. Ilmu matematika, biologi, ilmu bisnis, kedokteran, astronomi, filsafat, fikih, nahwu, tafsir dan lain sebagainya sama saja berasal dari Allah swt. Siapapun yang menuntut ilmu tersebut dengan niat karena Allah swt akan mendapatkan ampunan dan sorga. Mengapa bisa demikian? Pernahkah anda mendengar seorang dokter dari agama lain yang masuk islam karena ilmunya? Atau dosen, ahli astronomi, biologi, matematika? Tak terhitung mereka yang mendapatkan hidayah dikarenakan ilmu tersebut. Dan ketika mereka mengetahui kebesaran Allah melalui ilmu yang mereka pelajari, seolah-olah saat itu mereka lebih muslim dari pada kita. Mereka terlihat lebih taqwa dari pada kita-kita yang lahir sudah muslim. Allah swt berfirman

Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir  ayat 28)

Ulama secara arti bahasa adalah orang yang berilmu. Menurut saya pribadi yang dimaksud ulama adalah mereka yang sudah dalam tingkatan yang tinggi didalam menekuni bidang ilmunya. Bisa Ustadz, bisa dokter, bisa dosen dan lain sebagainya. Jadi tidak terkhususkan untuk para Ustadz saja namun artinya lebih umum. Mengapa ulama bisa merasakan takut yang benar-benar takut dikarenakan takjub kepada Sang Pencipta? Karena didalam bidang ilmunya mereka menemukan sebuah rahasia Ilahi, yakni keajaiban-keajaiban yang tidak mungkin datang dengan sendirinya tanpa campur tangan Yang Maha Cerdas. Ada seorang pakar astronomi meneliti sebuah benda yang umum kita lihat yakni besi. Setelah dilakukan sejumlah penelitian ia menyimpulkan sebuah fenomena yang aneh dari susunan atom besi dimana tidaklah mungkin pada mulanya dibuat/ tersusun dibumi ini. Susunan atom besi hanya bisa dibuat pada kondisi yang hanya bisa dilakukan diplanet lain.

"…Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia ...." (Al Qur'an, 57:25) 

Kata "anzalnaa" yang berarti "kami turunkan" khusus digunakan untuk besi dalam ayat ini, dapat diartikan secara kiasan untuk menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia. Tapi ketika kita mempertimbangkan makna harfiah kata ini, yakni "secara bendawi diturunkan dari langit", kita akan menyadari bahwa ayat ini memiliki keajaiban ilmiah yang sangat penting.

Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa. Akan tetapi sistem tata surya kita tidak memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri. Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus juta derajat. Ketika jumlah besi telah melampaui batas tertentu dalam sebuah bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa yang disebut "nova" atau "supernova". Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa.

Ketika mendengar bahwa 1400 tahun yang lalu Muhammad saw sudah mengatakan ayat diatas, maka ilmuwan tersebut masuk Islam.. Alhamdulillah

Untuk menutup artikel ini, ada sebuah kisah yang menarik. Kisah ini saya dengar dari pengajian Ustadz Abdul Aziz, seorang ustadz muda dilingkungan kami. Kemudian saya cari-cari di internet ternyata sudah beredar luas. Begini ceritanya

Konon, di muka surga kelak akan ada 4 manusia yang hendak masuk surga terlebih dahulu. Dasar memang manusia, mereka saling main dorong-dorongan siapa yang berhak masuk surga pertama kali. bahkan Malaikat Ridwan tidak dapat mengambil sebuah keputusan, akhirnya turunlah Malaikat Jibril ditugaskan menjadi hakim. Dari ke empat orang tadi ada yang pahlawan, orang kaya yang dermawan, haji mabrur, dan orang 'alim yang sholeh. Salah satu dari mereka mendapat giliran panggil oleh Malaikat Jibril. Pahlawan mendapat giliran pertama dipanggil oleh Malaikat Jibril, "Hai kamu yang mengaku pahlawan ke sini," dengan sebab apa engkau yakin akan masuk surga tanpa disiksa?" tanya Malaikat Jibril.

Orang itu menjawab, "Saya seorang pahlawan yang mati syahid di medan perang karena membela agama Allah."

Malaikat Jibril berkata, "Darimana kau tahu bahwa pahlawan yang mati syahid bakal masuk surga tanpa dihisab?"

Pahlawan menjawab, "Dari orang 'alim."

"Kalau begitu, jagalah akhlak yang baik. biarkan orang 'alim masuk surga terlebih dahulu," ucap Malaikat Jibril.

Pahlawan itu pun menunduk menyadari ketidak sopanannya terhadap orang 'alim. Kemudian dipanggil pula haji mabrur, yang ikhlas dan tidak cacat dalam melaksanakan ibadah hajinya. Ia ditanya oleh Jibril, "Siapa engkau? dan apa amal baikmu di dunia hingga mau masuk surga lebih dahulu?"

Haji itu berkata, "Saya seorang haji yang mabrur, sesuai dengan janji Rasulullah, tidak ada balasan yang setimpal bagi saya kecuali surga."

"Betul, begitulah janji Nabi sejalan dengan wahyu Allah. Tetapi, dari mana engkau tahu bahwa Rasulullah pernah berjanji begitu?"

"Dari guru saya orang 'alim," sahut sang haji.

"Dari orang 'alim katamu? Mengapa engkau tidak menjaga adabmu, membiarkan gurumu yang 'alim masuk surga terlebih dahulu?"

Haji itu pun mundur menginsyafi kekeliruannya.Sesudah itu majulah orang kaya yang dermawan, yang sebagian hartanya banyak disedekahkan di jalan kebaikan. "Engkau ingin menjadi orang yang masuk surga duluan?" tanya Malaikat Jibril.

"Benar, saya mau masuk surga yang pertama karena itu merupakan hak saya karena selama hidup, saya selalu bersedekah kepada orang banyak."

Apa yang kamu lakukan di dunia ketika engkau masih hidup hingga punya keyakinan bahwa engkau orang yang masuk surga duluan?" tanya Malaikat Jibril lagi.

"Saya adalah seorang hartawan, kekayaan saya itu saya dapatkan melalui cara yang halal, saya tidak pernah korupsi, itu semua saya dapatkan melalui kerja keras dan berhemat. Tetapi, sesudah terkumpul banyak, harta itu bukan saya pakai untuk bersenang-senang, maksiat, dan tidak juga saya belanjakan untuk keluarga saya, tetapi sebagian besar untuk menolong masyarakat yang memerlukan bantuan serta menunjang kebaikan di jalan Allah."

"Dari siapa engkau tahu bahwa semua yang kau lakukan akan diganjar masuk surga duluan?" Jibril bertanya sangat cermat.

"Dari orang 'alim guru saya," jawab si hartawan tadi.

"Jadi, kenapa orang 'alim yang sudah mengajarimu dengan kebaikan dan kebenaran tidak kau biarkan masuk surga terlebih dahulu sebagai tanda terima kasihmu kepadanya?"

"Maaf, saya tadi khilaf," kata hartawan tadi, "Sekarang saya sadar, saya rela masuk surga paling belakang. biarlah guru saya saja yang 'alim itu yang pertama masuk surga."

"Nah, begitulah sepatutnya, " ujar Malaikat Jibril.

Maka orang kaya itu segera mundur dan orang 'alim dipersilahkan masuk surga lebih dahulu.
Namun dasar yang namanya orang 'alim yang sholeh, ia tetap setia kepada ilmu yang didalaminya, yaitu harus mengalah dan berendah hati.

Dengan segala keikhlasan orang 'alim itu berkata, "Maaf, Tuan-tuan, dan maaf para malaikat yang bijaksana, sebagai orang 'alim saya tidak akan dapat belajar dan mengajar dengan tenang apabila tidak ada pahlawan yang rela mati syahid. Saya tidak akan memperoleh pahala yang terus-menerus jika murid saya yang haji tidak mengamalkan ilmu saya secara benar.Saya orang 'alim, dia pahlawan dan haji yang mabrur, tidak akan memperoleh keleluasan beribadah serta mengajarkan ilmu saya apabila tidak ada kedermawanan orang kaya yang mau membiayai tentara berangkat perang, yang mau menyediakan kelapangan bagi perjalanan haji, yang mau membangun madrasah, majelis ta'lim, panti asuhan anak yatim, serta macam-macam kebaikan lainnya.Semua itu mustahil terwujud apabila tidak ada orang kaya yang dermawan. karena itu, biarlah orang kaya ini yang masuk surga terlebih dahulu, disusul oleh pahlawan, kemudian tuan haji mabrur ini, dan izinkanlah saya masuk surga paling belakang," jawab orang 'alim.

Akhirnya diputuskan oleh sang hakim Malaikat Jibril sebagaimana yang diusulkan oleh orang 'alim itu yakni hartawan yang dermawan itulah yang masuk surga paling depan.

Baik pahlawan syahid, haji mabrur, orang kaya maupun orang alim baik sekali adanya. Yang paling baik adalah orang kaya yang alim, sudah berhaji dan mati syahid. Betul ya? Hehehe

Presented by Rahasia Kunci Sukses, Ilmu Sukses dengan Amalan Rezeki



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment