Apr 2, 2014

Mengejar Ilusi, Mengejar Fatamorgana

Sebagian besar manusia diseluruh pelosok bumi ada kecenderungan yang teramat sangat untuk mengejar yang namanya realitas materi. Karena dengannya berharap mendapatkan kesenangan dan kepuasan dalam menjalani hidup. Maka tak heran hampir seluruh waktu dihabiskan untuk mengejar keduniaan. Mengejar ilusi dan kefanaan,

Mereka mengejar ilusi sebagaimana melihat air dipadang pasir saat kehausan. Sesuatu yang disangka air tersebut ternyata hanya fatamorgana. Hanya tipuan yang nyata...


Gambar: Fatamorgana padang pasir

Hal ini pernah disinggung oleh Albert Einstein seorang ilmuwan sekaligus filusuf barat sbb

"Semua kenyataan yang terlihat sesungguhnya hanyalah ilusi, sebuah tipuan mata yang sangat kuat dan sulit dihapuskan"

Mengapa bisa demikian? Apakah bisa dijelaskan dengan logis? Bisa..

Alkisah dimasa lalu ada seorang guru bijak yang sedang mengisi kuliahnya dibawah sebuah pohon yang tinggi menjulang. Selepas selesai kuliah ada seorang murid yang masih bertahan dan duduk merenung sendirian dibawah pohon besar tersebut. Sang guru lalu mendekatinya dan duduk disebelahnya sambil bertanya..

"Anakku, apa yang engkau pikirkan?" Tanya sang guru
" Maaf Guru, saya sedang berpikir tentang langit dan bumi, dari apa diciptakan" Jawab sang murid

"Oh begitu, bolehkah Guru minta tolong untuk diambilkan satu buah daun kering?" Kata sang Guru
"Baik Guru" Jawab sang murid

Kemudian Sang Guru menyuruh muridnya untuk menyobek daun kering tersebut menjadi 2 bagian. Setengah bagian dari daun yang sudah tersobek tersebut disobek lagi dan lagi sampai ukurannya kecil dan sudah tidak bisa disobek lagi. Kemudian sang guru mengambil bagian terkecil tersebut dan berbuat seolah-olah menyobek lagi dan lagi bagian terkecil tersebut kemudian berkata.

"Inilah alam semesta anakku?" Kata Gurunya
"Tetapi maaf Guru, tidak terlihat sama sekali sesuatu ditangan Guru

"Begitulah alam semesta diciptakan dari sesuatu yang tidak ada sama sekali. Tidak ada sama sekali itu di adakan oleh Tuhan Pencipta Alam Semesta. Anakku, alam semesta ini ada, namun pada hakikatnya tidak ada sama sekali. Ilusi, fana, fatamorgana. Yang ada adalah Dia Yang membuat segala sesuatu seperti ada dan nampak nyata" Kata Gurunya.

"Anakku dengarkan pesan Guru, janganlah engkau mengejar sesuatu yang tidak ada, sama seperti mengejar kesia-siaan. Jangan habiskan waktumu untuk mencari kefanaan, ketiadaan, tetapi carilah Dia Yang Maha Ada. Inilah hikmah kehidupan kita" Nasehat sang Guru

Sang murid mengangguk-angguk pertanda mengerti sebuah hikmah penciptaan alam semesta

Kisah ini mengandung hikmah bahwa dunia dan segala perhiasannya pada hakikatnya hanyalah fatamorgana. Semua untuk menguji manusia apakah mengejar kesenangan yang menipu tersebut atau mencari Dia Yang Maha Ada.

Bagi orang-orang yang ingkar dan tidak mau mengakui keberadaan_Nya kemudian mengejar dunia dan kesenangannya ibarat mengejar bayangan air dipadang pasir dimana hal itu tidak akan pernah menghilangkan dahaganya. Disangkanya air namun hanyalah fatamorgana. Tak pernah terpuaskan. Bagaimana mungkin mendapatkan kepuasan padahal yang dikejar adalah bayangan ilusi saja?. Sia-sia perbuatan mereka karena hanya mengejar ketiadaan/ ilusi dan diakherat menjadi orang yang rugi.

“Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun.” (QS an-Nuur:39).

Jika Einstein mengatakan dunia ini hanya ilusi, maka jauh-jauh hari sebelumnya 1400 tahun yang lalu Nabi Muhammad saw sudah mengatakan jauh lebih dalam dan jelas, melalui sebuah wahyu

Allah S.W.T. berfirman:"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu"(Al-Hadiid 57:20)

Pertanyaannya adalah, apakah kita masih saja ngotot untuk mengejar fatamorgana dan melupakan Yang Maha Ada sehingga sampai masuk alam kubur??




Renungkan...

Presented by Magis7



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment