Apr 25, 2014

Masalah Rumah Tangga dan Solusinya

Dalam sebuah motivasi ada yang diberikan dengan lemah lembut ada juga yang keras (Nyelekit). Kadang memang kita membutuhkan nasehat yang langsung bersinggungan dengan masalah, dimana seringkali menohok langsung kepribadian kita. Ada dua kemungkinan, menerima nasehat tersebut atau mental dalam artian malah semakin parah.

 

Saya seringkali menerima nasehat dari orang yang nyata-nyata lebih berpengalaman, namun mereka memberikan nasehat dengan sak klek atau nasehat yang membuat panas dikuping. Pada saat itu manusiawi kalau kita tersinggung, namun ketika emosi sudah mereda seringkali saya merenung kembali, ternyata benar apa yang mereka ucapkan. Maka mulai saat itulah saya berlatih untuk memperbaiki kelemahan yang membuat kami susah untuk maju. Alhamdulillah nasehat beliau memang benar bahwa saya harus memperbaiki sesuatu dalam diri, dimana hal inilah yang akan menunjang kesuksesan kita baik sukses kepribadian maupun sukses secara financial.

Kadangkala kesuksesan itu berawal dari kehidupan rumah tangga. Rumah tangga yang harmonis, saling mengerti satu sama lain, itulah awal dari kemajuan yang akan didapatkan. Wajar dalam kehidupan rumah tangga ada kerikil-kerikil yang menjadi bumbu-bumbu kehidupan, namun itu semua jangan menghalangi niatan anda untuk maju.

Buang egoisme dalam rumah tangga. Maka bagi suami saya menyarankan untuk menjadi pemimpin yang baik. Tegas itu bukan membentak istri namun membicarakan segala permasalahan dengan hati dingin. Bicaralah dengan mendekatkan diri kepada kebenaran secara umum bukan kebenaran menurut hawa nafsu sendiri. Ajak istri anda dialog ketika ada masalah, jangan didiamkan berlarut-larut.

"Tapi pak, istri saya selalu melawan perintah suami"

Makanya dialog dengan hati dingin dan akal sehat. Katakan padanya dengan baik-baik dan dengan kata-kata yang lembut bahwa tujuan anda baik demi keharmonisan rumah tangga. "Sudah saya lakukan pak, namun istri tetap saja tidak peduli". Pertanyaannya adalah apakah anda sudah membicarakan dengan baik-baik? Kalau bicara monyet saja bisa, tetapi kita bukan monyet. Kita manusia yang dikaruniai akal dan hati. Gunakanlah...

"Saya kalau sudah emosi, susah untuk bicara dengan lemah lembut Pak. Teori memang begitu, tapi prakteknya susah". Makanya praktekkan, sekali dua kali memang susah, namun lama-kelamaan jika sudah sering dilatih maka bicara dengan santun saat emosi bisa kok. Saya yakin kita seringnya menggunakan emosi ketika ada masalah makanya susah untuk menemukan solusi. Maka redamlah emosi itu. Seharusnya jika anda laki-laki maka mampu dan kuat untuk meredam emosi. Kecuali anda banci kramat tunggak...!!!

Kalau istri masih melawan juga ada 2 solusi. Ceraikan ia, biarkan anak-anak anda yang menanggung resikonya. Biar saja istri anda mencari pasangan lain yang lebih baik dari anda. Atau anda memilih untuk melatih kesabaran, melatih komunikasi dan lain sebagainya. Kalau saya memilih yang kedua.

Coba lihat gambar dibawah ini. Nggak enak dilihat khan?
 

Dan bagi para istri....

Hargailah suami anda sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga. Jangan rusak reputasi suami sebagai pemimpin. Suami itu bicara lebih banyak menggunakan akal maka dengarkanlah. Jangan mau menang sendiri, dan berbicara semau nafsumu. Siapa yang menanam benih dalam rahimmu, siapa yang merawat dan membiayai hidupmu dan anak-anakmu?. Apakah kalau suami anda mati, baru kemudian anda senang? Khan tidak begitu.

Suami anda adalah orang yang paling dekat denganmu dan anak-anakmu. Mengorbankan diri dan kepentingannya demi keluarga. Cuma satu permintaan suami, hargailah. "Iya pak, tapi suami saya keras kepala". Malah yang keras itu kamu (istri), tapi tidak menyadarinya. Dan wajar kebanyakan istri keras kepala, selalu menuntut dll, tetapi jangan kebangetan. Suamimu itu manusia bukan sapi perah.

"Ngomong gampang Pak, prakteknya susah" Siapa bilang? Itu khan omonganmu dan hawa nafsumu yang mau menang sendiri? Yang mau memimpin rumah tangga itu istri apa suami? Khan suami, maka taatlah dan hormatilah. Kalaupun kadangkala keputusan suami salah maka jika anda sebagai istri mencoba untuk menerimanya, maka Insya Allah seiring waktu akan ada pembelajaran yang baik bagi kalian khususnya bagi suami.

"Bapak nggak tahu masalah kami sih!" Saya tidak mau campur tangan urusan keluarga orang lain, silahkan dicari solusi. Saya hanya memberikan nasehat, diterima sukur, nggak juga tidak apa-apa.

"Susah Pak, masalah kami sudah berat" Tuh khan??? Ngeyel terus, kenapa tidak sekali-kali menerima pendapat orang lain. Jelas sudah anda (istri) itu egoisnya setengah mati. Merasa benar, namun seringkali kesalahan fatal ada pada dirimu. Merasa hebat dan hendak mengambil alih pimpinan dalam keluarga. Merasa punya hak mengatur suami sampai kentut pun ada aturannya. Yang benar saja? Gila kamu ya?

Gini saja kalau nggak mau ngalah. Minta suamimu menceraikanmu dan carilah orang lain yang menurutmu paling baik. Masalah anak-anak dan keluarga besarmu sabodo teing. Itu urusan mereka. Bukankah yang paling penting adalah urusanmu? Kepentinganmu? Kesenanganmu? Jidatmu? Dengkulmu?. Apa??? Tersinggung??? Ya harus tersinggung, supaya kamu mikir.

Coba lihat gambar dibawah ini. Nggak enak dilihat khan?
 

Sobat... Nasehat diatas sak klek, nyelekit dan menohok. Sekali-kali nggak apa-apa. Masalah rumah tangga adalah bagian dari ujian. Sebuah masalah yang klasik, itu-itu saja. Kadang ada solusi kadang menjadi rumit setengah mati. Kadang yang satu ngalah yang lain tetap nggak mau ngalah dan merasa benar. Seringkali semua nggak mau ngalah dan masing-masing merasa dirinya paling benar. Ah, benar-benar rumit bin runyam.

Komunikasi, diskusi dengan baik-baik. Bicaralah dengan ilmu dengan akal yang sehat, dengan wawasan yang luas dan bijaksana. Orang kita manusia kok, semua sama punya rasa punya hati tidak seperti monyet. Jangan merasa hebat, jangan merasa pintar dan menganggap pasangannya bodoh dan tolol.

Banyak-banyak istighfar karena nyata-nyata kita seringkali memperturutkan hawa nafsu. Memperturutkan emosi. Kalau salah satu selingkuh kita tidak akan memaafkan, padahal kalau dirunut dari awal siapa penyebab terjadinya perselingkuhan? Ya kedua-duanya baik istri atau suami. Masak nggak nyadar?

Kalau terjadi perceraian lalu saling menyalahkan. Apalagi ditambah kondisi mental yang menyedihkan dari buah hati anda. Hidup tanpa pasangan kita bukan tambah tenang dan damai, malah tambah menyedihkan. Tambah menderita berkepanjangan. Tambah menyalahkan pasangannya. Padahal kalau dirunut dari awal siapa penyebab perceraian? Ya dua-duanya baik istri maupun suami. Masak nggak nyadar sih?

Ada satu yang tertawa terbahak-bahak. Ia adalah setan. Setan itu bukan lagi sahabat istri namun juga menjadi sahabat suami. Padahal dua-duanya baik suami atau istri sama-sama menderita sehabis perceraian. Keculali perceraian itu dibenarkan agama. Misalnya salah satu dari pasangan mengajak dengan keras kepala kepada kekafiran. Maka berpisah itu lebih baik. Namun faktanya segala bentuk masalah rumah tangga disebabkan oleh kharakter yang berbeda menjadi satu. Masalah perbedaan prinsip, perasaan, dan perbedaan wawasan atau pola pikir.

Nah kalau ini baru enak dilihat
 

Mari sama-sama berdoa kepada Allah swt agar rumah tangga kita masing-masing menjadi tempat yang menyejukkan, mendamaikan dan membahagiakan hati. Sehingga rasa lelah sehabis bekerja bisa terobati oleh senyuman manis anak dan istri. Sehingga kerinduan istri terobati oleh pulangnya suami membawa rezeki. Menjadi keluarga sebagai awal daripada kesuksesan secara luas. Bersatu dalam keluarga yang sakinah mawaddah warohmah.

Robbana hablanaa min azwajinaa wadzurriyatinaa qurrota a'yunin waj'alnaa lilmuttaqiina imaamaa.

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Furqan: 74). Amin

Dipersembahkan oleh Magis7. 7 Langkah Magis Mengendalikan emosi



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment