Apr 10, 2014

Karyawan Level Manager Juga Stress dan Depresi

Ternyata tidak hanya karyawan biasa yang bosan menjadi pegawai. Banyak diluaran sana yang berlabel Manager ke atas, ternyata dalam kejenuhan yang luar biasa juga. Namun apa daya, sudah kadung terjebak meniti karier selama puluhan tahun sehingga apa mau dikata? Maju kena mundur pun juga kena.. Mending tetap lanjutkan pekerjaan meskipun stress dan depresi setiap hari. hehehe



Berikut saya cantumkan data dan fakta hubungan karyawan dan tingkat stress dari berbagai sumber
  • Penyebab stres kerja, antara lain : beban kerja yang dirasakan terlalu berat, kualitas pengawasan yang rendah, iklim kerja yang tidak sehat, otoritas kerja yang tidak memadai yang berhubungan dengan tanggung jawab, konflik kerja, perbedaan nilai antara karyawan dengan pimpinan yang frustrasi dalam kerja (Mangkunegara (2001 : 157).  
  • Stres adalah hasil dari tidak atau kurang adanya kecocokan antara orang (dalam arti kepribadiannya, bakatnya, dan kecakapannya) dan lingkungannya, yang mengakibatkan ketidakmampuannya untuk menghadapi berbagai tuntutan terhadap dirinya secara efetif (Munandar (2004 : 374).  
  • “Sangat Mudah Menemukan Karyawan Untuk Pola Kerja Yang Terstandarisasikan, Tapi Sangat Tidak Mudah Untuk Menjaga Semangat Kerja Yang Stabil Dan Konsisten Untuk Jangka Waktu Yang Panjang.” – Djajendra
Sedangkan menurut Arafah (2005 : 419), menyebutkan 3 diantara 7 penyebab stres pada karyawan yang bekerja antara lain adalah
  1. Beban kerja yang berlebihan (work overload) yaitu karyawan terbebani dengan pekerjaan yang diberikan oleh atasannya yang melebihi kemampuan kerja mereka, sehingga ketidakmampuan karyawan dalam menyangga beban kerja ini menyebabkan karyawan itu mengalami stres
  2. Kondisi-kondisi di tempat pekerjaan yang tidak kondusif (inconducive job conditions) di mana terjadinya persaingan yang tidak sehat antara sesama karyawan, terjadinya kecemburuan antara karyawan sehingga karyawan yang tidak mampu menghadapi kondisi ini akan mengalami stres
  3. Konflik peran (personal role’s conflict) adalah konflik yang dihadapi oleh karyawan di mana spesifikasi pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan keinginannya, sehingga lambat-laun mereka akan mengalami stres


Kalau saya setuju adalah point 3, yakni bidang yang tidak cocok. Istilahnya begini, "Bagaimana mungkin Sule si pelawak, disuruh naik ring tinju?" Atau, "Apa bisa Chris Jhon sang petinju disuruh melawak setiap hari?". Tidak bisa, dan kalau dipaksakan bisa stress dan depresi

Alkisah...
Hari ini saya bertemu dengan seseorang yang bekerja disebuah perusahaan swasta. Jabatannya tidak main-main yakni Vice Presiden. Gaji luar biasa besar dengan inventaris mobil mewah. Terjadilah dialog antara saya dengan beliau

"Hai Adhin apa khabar?" Tanya VP (Vice President)
"Alhamdulillah baik sekali, Bapak gimana khabar juga?" Jawab saya sekaligus nanya balik

"Baik Adhin. Denger-denger kamu sudah resign ya? Kenapa?" Tanya VP
"Iya Pak, mau melakukan aktifitas sesuai dengan passion. Mau mengembangkan usaha sendiri" Jawab saya

"Oooo, bagus itu. Teruskan cita-citamu" Kata VP
"Sip" Jawab saya

Ketika berjalan dan hendak masuk lift saya berpapasan lagi dengan beliau. Kemudian beliau sang VP berkata

"Sebenarnya saya juga dalam kejenuhan yang luar biasa. Bosan jadi karyawan. tetapi apa daya, sudah kadung tercebur. Mau keluar sudah tidak mungkin lagi" Kata VP
"Gitu ya Pak? Nggak apa-apa Pak tetap semangat dong" Jawab saya

"Ya harus semangat memang. Kamu masih muda, masih mempunyai jalan yang panjang. Lanjutkan mimpimu sendiri. Jangan seperti saya, walaupun jabatan sudah lumayan, namun tetap saja buruh. Diperintah sana dan sini. Di kasih target besar. Pusing. Okelah Adhin, sampai jumpa lagi ya? Semoga sukses" Kata VP
"Oke Pak, semangat ya Pak?" Jawab saya

Sebagai pelengkap penderita, nih saya kasih hiburan buat ngilangin stress anda. Hehehe



Sumber gambar: Google Image

Pembaca..
Begitulah faktanya. Sebagian besar karyawan walaupun posisinya sudah on the top alias sudah level yang tinggi tetap saja pusing. Malahan tingkat stressnya jauh lebih tinggi dibanding karyawan biasa.

Beliau-beliau melakukan aktifitas yang tidak disukai, disuruh mengejar target yang besar. Aktifitas yang bukan passion mereka sendiri. Bahasa kasarnya menjadi robot tingkat tinggi. Atau bahasa lainnya, "motor bebek yang digeber 500 KM sehari dipadang pasir, atau di pegunungan berbatu". Padahal seharusnya motor bebek diperuntukkan untuk kendaraan dalam kota di jalan-jalan datar tak berbatu dan dalam jarak paling jauh 100 KM perhari. Pegimana nggak cepet rusak itu motor??

Kalau motor itu adalah manusia tentu saja rawan penyakit fisik dan mental. Cepet mengalami stress, depresi yang merupakan penyebab penyakit stroke, hipertensi dll. So, kalau anda mempunyai gairah sendiri dimana bidang itu bukan pada pekerjaan anda sekarang, kenapa tidak mulai hari ini untuk belajar mengasah bakat tersebut? Tidak harus keluar kerja langsung, yang penting komitmenkan sehari paling tidak 3-4 jam mengasah skill tersebut. Maka dalam satu tahun anda sudah cukup mahir menguasainya.

Passion anda menyanyi maka bacalah buku menyanyi, ikuti kursus dan seminar olah suara. Begitu juga jika passion anda melawak, bertinju, berdagang, melukis, memimpin, motivasi dan lain sebagainya. Asah itu semua sampai mahir dan kemudian menemukan sebuah peluang usaha lain yang jauh lebih menjanjikan.

"Ikuti kata hatimu, ikuti jiwamu, maka anda akan menjadi manusia sesungguhnya yang sukses dan bermakna". Adhin Busro

Saya ada panduan "Spiritual Resign Code" disini. Silahkan diklik. Kalau berkenan silahkan dibeli, kalau tidak juga nggak apa-apa.. :)



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment