Mar 13, 2014

Tips Menjadi Tetangga Yang Baik

Memang kalau tidak mengedepankan keikhlasan didalam melakukan tugas dan tanggung jawab maka adanya hanya rasa jenuh dan rasa lelah. Apalagi kalau anda sebagai tokoh masyarakat yang dituntut bekerja sebaik-baiknya namun disisi lain tidak seimbang dengan bayarannya. Sudah maksimal saja disalahkan apalagi kalau tidak maksimal?.

Sebagaimana kami juga demikian. Tidak mudah menyatukan banyak individu dengan masing-masing kharakter yang berbeda. Ada yang tulus mendukung ada pula yang hanya pura-pura. Ada yang diam di forum namun menjadi orang yang paling fokal dan jadi oposisi paling cerdas kalau sudah bicara dibelakang. Inilah dinamika kehidupan sosial..

"Saya itu ya Pak, ikhlas dan tidak mempermasalahkan si dia. Budi itu memang "pekok" alias geblek mentalnya. Jadi percuma saja saya ngomong, orang otaknya sudah korslet. Ya biarlah saya tidak mempermasalahkannya" Kata Pak Bowo ketika bertamu ke rumah saya.

"Itu luka bathin masa lalu pak Bowo. Bapak mungkin merasa sudah ikhlas namun pada faktanya hubungan kalian khan jadi renggang. Begini saja Pak, nanti saya atur waktunya supaya kita semua bisa kumpul dan berbicara dari hati ke hati untuk kemudian mudah-mudahan ada solusi". Jawab saya

"Saya sudah memaafkan masa lalu Pak, kalau ketemu saya juga menyapa kok. Tetapi kalau ada pertemuan saya pikir tidak usah Pak. Karena dasarnya sudah "pekok" alias geblek mau kita bicara apapun tidak akan dia terima". Jawab Pak Bowo.

Pak Bowo dahulu kala ada masalah dengan beberapa orang yakni Pak Budi dan kedua tetangganya. Malahan Pak Bowo pernah diancam dengan parang dikarenakan ada perbedaan prinsip dan cara pandang. Masing-masing tidak mau ngalah alias keras kepala. Sudah lebih dari 5 tahun lewat masalah ini kadangkala masih saja menjadi luka. Pak Bowo mungkin berkata "ikhlas" namun nyatanya ucapan dan perbuatannya tidak mencerminkan keikhlasan. Itu hanya kata-kata klise saja.

Demikian Juga Pak Budi dan 2 tetangganya yang notabene mengeroyok Pak Bowo. Mengeroyok dalam artian selalu menyudutkan dan menyalahkan. Pak Budi kalau bertandang ke rumah saya juga seringkali curhat tentang bagaimana keras kepalanya Pak Bowo. Begitu seterusnya dan mbulet tidak ada juntrungannya. Semua merasa benar dan kadangkala tidak disadari.

Tidak didamaikan namun semuanya merasa benar kemudian saling ghibah, padahal kejadiannya sudah 5 tahun yang lalu. Kalau didamaikan orang mereka semua sudah pada tua seharusnya lebih dewasa.

Namun saya sampai kepada sebuah keputusan. Akan kami kumpulkan mereka yang bermasalah untuk dibicarakan sama-sama dengan kepala dingin.

Sobat...
Mungkin anda juga pernah bermasalah dengan teman, tetangga atau siapapun juga? Hal ini menyebabkan kecanggungan kalau bertemu dijalan sehingga kalaupun menyapa terlihat jelas kekakuannya. Kaku... Untung kalau menyapa, karena seringkali tidak saling tegur sapa.. Lebih parah lagi ada yang pindah rumah gara-gara ulah tetangganya sendiri. Dan gilanya lagi mereka hanya terpisah tembok. Ini bahaya..

Padahal sesama muslim seharusnya tidak diperbolehkan saling mendiamkan lebih dari 3 hari. Sebagai muslim juga harus menjadi manfaat untuk tetangga bukan malah menjadi ancaman.

Beliau Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Demi Allah tidaklah seseorang beriman! Demi Allah tidaklah seseorang beriman! Demi Allah tidaklah seseorang beriman!, Mereka para sahabat bertanya, "Siapa ya Rasulullah?". Rasulullah menjawab, "Seseorang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya". (HR. al-Bukhari).

Jadi janganlah hidup bertangga namun salah satu merasa tidak aman dari gangguannya. Rukun itu membahagiakan janganlah merusak kerukunan itu dengan ucapan dan tindakan yang menyakitkan. 

Di antara sikap memuliakan tetangga dan berbuat baik kepadanya adalah: memberikannya hadiah walaupun tidak seberapa nilainya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh 'Aisyah radhiyallahyu ‘anhu ia berkata, "Wahai Rasulullah! Saya memiliki dua tetangga, siapa yang harus aku beri hadiah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Kepada tetangga yang lebih dekat pintunya darimu?" (HR. al-Bukhari). 

Begitu juga menebarkan salam dapat menumbuhkan kasih sayang di antara kaum muslimin. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "… Maukah aku beritahu kepada kalian tentang sesuatu yang jika kalian mengerjakannya, maka kalian akan saling mencintai: Tebarkan salam di antara kalian." (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,"Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah." (HR. at-Tirmidzi. Dishahihkan oleh al-Albani). dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Janganlah kamu menghina/meremehkan sedikit pun dari kebaikan, walaupun hanya bertemu dengan saudaramu dengan muka berseri-seri." (HR. Muslim).

Seorang mu'min adalah seorang yang mencintai saudara-saudaranya, menutup aibnya, bersabar atas kesalahannya, dan menginginkan saudaranya selalu mendapatkan kebaikan ,taufiq serta istiqamah. Dengan sikap ini pula kita akan meraih simpati dan cinta tetangga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di Akhirat." (HR. Muslim). 

Hidup bertetangga memang penuh dinamika, pada saat tertentu rukun dan guyub sebagaimana amplop dan prangko namun pada saat yang lain bermusuhan dan malahan menjadi musuh nomor satu. Maka sebaik-baik tetangga adalah yang mau memaafkan kemudian mau silaturahim lagi agar hubungan mereka menjadi cair kembali. Janganlah mengedepankan ego masing-masing karena egois adalah temannya setan. Siapa yang lebih dulu memaafkan kemudian menemuinya dengan salam dan senyuman maka dialah yang layak mendapatkan berkah kebaikan.

Hadist dicopas dari sumber disini



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment