Mar 16, 2014

Memilih Wakil Rakyat dengan Bijaksana

Baru saja selesai acara Jalan Sehat untuk memeriahkan penutupan sebuah acara yang berbau politik. Kadang ada sebuah tanya dalam hati, benarkah apa yang saya lakukan murni untuk kepentingan rakyat? Dalam hal ini untuk kepentingan warga/ lingkungan yang saya pimpin? Inilah pertanyaan yang sulit saya jawab dengan bijaksana.

Mengapa demikian? Saya melihat banyak sekali tokoh masyarakat yang bergabung dengan partai politik dan merasa memperjuangkan kepentingan rakyat, namun pada hakikatnya itu tetaplah ambigu. Di satu sisi memang benar semua dilakukan dengan harapan kepentingan yang ia bawa bisa membawa angin segar, namun disisi lain keputusannya tidak menggunakan ketulusan.

Contoh, ada seorang kepala desa (katakanlah begitu). Ia sebagai kader sebuah partai tertentu dan berjuang memenangkan pemilihan legislatif dan pilpres. Ia didatangi oleh seorang caleg yang mana menjanjikan kepadanya bantuan yang berjumlah besar yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat/ warganya. Bisa berupa pengecoran jalan, pembangunan gedung kelurahan, raskin dsb. Dan itu memang real telah diusahakan untuk masuk dalam rencana penganggaran APBD. Bahkan untuk meyakinkan lurah tersebut si Caleg rela menggelontorkan uang pribadi senilai ratusan juta rupiah sebagai DP. Karena kebanyakan warga negara akan mencoblos mereka yang memberikan bukti terlebih dahulu.

Maka dengan semangat 45 si lurah tersebut memberikan dukungannya untuk caleg tersebut. Disatu sisi niat lurah tersebut benar adanya namun disisi lain ia memberikan pelajaran politik yang tidak baik. Dalam skala kecil memang harapan rakyatnya bisa terealisasi namun dalam skala besar bisa jadi tidak demikian. Apalagi pada saat sekarang ini dimana ada banyak partai yang tersangkut korupsi, bahkan partai yang berazaskan agama sekalipun.

Si lurah mendukung pencalonan caleg dari partai lain yang sudah jelas-jelas akan segera memberikan bantuan untuk rakyatnya, namun disisi lain ia meyakini sebenarnya bukan partai tersebutlah yang berpihak kepada rakyat. Lurah menginginkan partai lain yang menang, namun ia mendukung partai tertentu yang berseberangan ideologinya. Ia mengalami dilema. Disatu sisi memperjuangakn rakyatnya namun mau tidak mau harus dengan dana besar, disisi lain partai yang ia dukung dan diyakini berpihak kepada rakyat tidak memiliki sumber dana yang cukup untuk kegiatan kampanyenya.

Itulah dilemanya...

Anyway, di tahun politik ini yakni tahun 2014 marilah kita memilih calon wakil kita, demikian juga calon presiden kita dengan bijaksana. Gunakan hati nurani didalam memilih jangan memanfaatkan keuntungan sesaat. Bisa jadi ada calon yang memberikan anda uang dalam jumlah tertentu tetapi tetaplah berpikir besar bahwa pesta demokrasi ini ditujukan untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment