Mar 12, 2014

Kisah Sukses Pak Toni Berbisnis Teralis

Beberapa menit yang lalu baru saja saya ngobrol dengan Pak Toni. Beliau adalah direktur dari PT. Global Perxxx yang bergerak dibidang pembuatan teralis dengan jumlah karyawan 15 orang. Sudah beberapa proyek di daerah Bekasi yang beliau pegang baik di beberapa Perumahan dan Instansi swasta lainnya. Beliau memulai ceritanya begini...

Pada tahun 2005 (kalau tidak salah ingat) beliau masih bekerja di sebuah perusahaan IT. Disela-sela waktu setelah pekerjaan selesai ia biasa ngobrol dan ngopi-ngopi dengan tetangganya.

"Dari pada waktu kita sia-sia dikarenakan ngobrol ngalor ngidul yang tidak ada juntrungannya, bagaimana kalau kita iuran Rp. 100.000 perbulan untuk merintis sebuah usaha?" Kata Pak Toni memulai pembicaraan dengan 3 teman nongkrongnya.

"Oke" Jawab teman nya

Singkat creita setiap bulan terkumpulah uang sebanyak 400.000 yang digunakan untuk membeli perlatan dan mesin-mesin. Peralatan dibelinya satu persatu sambil diwaktu yang lain melakukan aktifitas marketing yakni menawarkan pembuatan teralis pintu, jendela, folding gate dsb. Setaip bulan minimal ada satu alat yang ke beli misalnya Gerinda, alat Las dll.

Seiring waktu berjalan mereka mendapatkan sebuah projek yang cukup besar yakni pengerjaan teralis untuk tempat parkir di departemen pertahanan (kalau tidak salah ingat). Proyek senilai 50 jutaan dengan profit sekitar 13 juta. Itulah awal perkembangan bisnis Pak Toni dan teman-teman.

Namun sayang dikarenakan Pak Toni dan teman-temannya juga bekerja sebagai karyawan maka beberapa pekerjaan tidak bisa di handle. Mengerjakan pesanan yang sudah ada saja cukup membuat kelelahan yang luar biasa. Pak Toni biasa tidur jam 3 pagi sementara pada pukul 6 pagi sudah harus berangkat kerja. Hal ini menyebabkan ia memutuskan untuk berhenti dari usaha sampingannya. Ia serahkan semua kepada ke 3 temannya untuk mengelola tanpa meminta pengembalian modal awal sedikitpun.

Sekitar 8 bulan berjalan ternyata teman-temannya juga tidak bisa menghandle usaha tersebut. Akhirnya disepakati untuk melelang ruko, dan peralatan. Ujung-ujungnya usaha mereka berempat bubar.

Pak Toni menerima beberapa sisa-sisa peralatan dan mesin-mesin yang dibeli dengan harga murah dan ia taruh dirumahnya tanpa tahu harus diapakan. Seiring waktu berjalan seorang kenalannya yakni mantan klien menelpon Pak Toni untuk mengerjakan sebuah projek. Tentu saja Pak Toni berada didalam dilema. Jika ditolak maka itu artinya membuang peluang, jika diterima ia tidak yakin mampu menghandlenya. Keputusan selanjutnya order tersebut diterima. Mulailah Pak Toni mencari beberapa orang untuk membantu usahanya. Setelah pengerjaan siang dan malam akhirnya projek tersebut selesai dan memberikan keuntungan yang lumayan.

Pak Toni melihat sebuah peluang. Walau masih agak samar-samar alias masih gelap, Pak Toni berani untuk membuat sebuah keputusan besar yakni resign dari perusahaan tempat ia bekerja. Beliau tentu saja khawatir jikalau keputusannya salah, wajar sebagai manusia. Namun berbekal sedikit keahlian dan ditunjang oleh adanya peralatan walaupun tidak lengkap ia nekad meneruskan usaha dimana ke tiga temannya memutuskan untuk menyerah.

Pak Toni memutuskan untuk membuat sebuah bendera hukum agar usahanya terjamin secara legal dan terjamin keamanannya. Berdirilah sebuah Perusahaan bernama PT. Global Pertamaxx. Sayang seribu sayang, usahanya berjalan setengah tahun lalu oleng sampai kepada kondisi yang hampir ambruk. Semua karyawan ia istirahatkan sementara. Perusahaannya nyaris gulung tikar dikarenakan minimnya pesanan dan adanya hutang yang belum terbayarkan.

"Saya pada saat itu makan pada hari ini, tetapi tidak tahu apakah besok masih bisa makan" Kata Pak Toni mengenang masa kejatuhan usahanya.

"Pahiiit" Lanjutnya

"Tetapi hidup harus terus berjalan apapun yang terjadi. Dengan sisa-sisa keyakinan yang ada saya mencoba untuk melobi beberapa perumahan agar pembuatan teralis bisa dibagi kepada saya sebagian. Banyak developer yang menolak melihat kondisi keuangan perusahaan saya. Namun saya yakin tetap ada jalan sepanjang saya mau berusaha. Dan jalan itu datang melalui pihak ketiga. Ia adalah rekanan pemenang tender pembuatan teralis disebuah perumahan yang membagikan sebagian proyeknya kepada saya". Kenangnya

"Maka saya kerjakan limpahan pekerjaan tersebut sebaik-baiknya walaupun margin keuntungan sangatlah tipis dikarenakan sudah diambil sebagian besar oleh tangan pertama. Bisa jadi dikarenakan pekerjaan saya memuaskan dan tepat waktu pengiriman, maka limpahan proyek ke dua, ketiga dan seterusnya berjalan lancar. Kemudian kepada satu titik dimana sebuah perumahan baru menyerahkan pengerjaan teralisnya kepada kami. Sebuah proyek besar yang tidak mungkin saya kerjakan sendiri. Makanya saya panggil kembali mantan karyawan semuanya untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Berawal dari situlah satu demi satu proyek bisa saya dapatkan. Saat ini sudah ada beberapa developer dan beberapa instansi yang menjadi klien saya. Akhirnya perusahaan kami bisa berdiri lagi dengan tegak" Katanya mengakhiri..

Begitulah cerita Pak Toni dengan kesuksesannya berbisnis teralis. Saat ini sudah ada banyak properti yang ia miliki. Rumah sudah ada beberapa buah, termasuk properti yang lain. Ini semua dimulai dengan sebuah niat dan keputusan yang sedikit nekad yakni keluar dari Zona nyaman menjadi karyawan. Memang prosesnya tidak selalu mulus namun itulah dinamika. Toh pada akhirnya kebebasan financial yang ia dambakan menjadi kenyataan. Yang penting "keyakinan" bahwa kita bisa, maka apapun rintangan akan kita hadapi dengan tegar.

Mau belajar melatih "rasa sejati" yakni keyakinan? Isi nama dan email anda 100% gratis. Dapatkan gratis beberapa panduan pembelajarn berupa ebook dan bimbingan by email. Pembelajaran akan kami kirimkan ke alamat email anda secara berkala.

First Name:
E-Mail Address:


Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment