Mar 25, 2014

Inilah Cara Meraih Kebahagiaan Yang Sebenar-Benarnya

Apakah sobat merasa hidup ini kurang membahagiakan dan mendamaikan? kalau "iya" maka lanjutkan membaca, barangkali inilah solusi yang selama ini anda cari. "Kebahagiaan" sebuah kata yang dicari oleh seluruh penduduk langit dan bumi. Coba sebut satu saja yang tidak mencarinya....!

 

Apa kebahagiaan itu? Ia adalah sesuatu banget...:)

Ia adalah sesuatu yang mendamaikan hati, menentramkan hati. Kemudian banyak orang yang bekerja siang dan malam mencari harta benda dengan harapan bisa menjadi sarana kebahagiaan. Namun yang sering terjadi ia menjadi pemuas nafsu manusia, sementara kebahagiaan yang ia harapkan tak kunjung datang.

Berapa banyak orang kaya yang kering hatinya??

Atau ada orang yang mengira dengan kekuasaan maka ia akan bahagia. Yang sering terjadi adalah menggunakan kekuasannya untuk mendzolimi orang lain.

Berapa banyak penguasa yang ketakutan dan menjadi pesakitan? Lihat saja beberapa pemimpin negara di Timur Tengah.

Lalu bagaimana meraih kebahagiaan?

 

Kebahagiaan itu adalah perjalanan manusia. Jadi pada hakikatnya semua manusia itu bahagia jika mengikuti perjalanan fitrahnya. Kemudian banyak sekali manusia yang tidak merasa bahagia dikarenakan ia tidak mengikuti perjalanan yang sesungguhnya. Bingung???

Begini saja... Setujukah kalau hidup ini adalah perjalanan??? Jawaban: Setuju. Ia adalah perjalanan menuju kematian, alam kubur dan seterusnya.

Perjalanan itu satu arah tujuan, setuju??? Jawaban: Setuju saja lah..

Sedangkan manusia itu sendiri ada jiwa ada raga, ada badan fisik anda ruh, ada pikiran ada perasaan. Maka bawalah mereka semua kepada satu tujuan perjalanan itu, setuju?? Jawaban: Ehmmmm oke

Perjalanan berakhir ke haribaan Tuhan Semesta Alam, setuju?? Jawaban: Saya tidak tahu bang, karena belum melaluinya, tapi masuk akal sih

Artinya kalau kita hanya membawa jiwa saja sementara raga ditinggal, atau raga saja dan jiwa ditinggal maka perjalanan menjadi tidak jelas. Apalagi dua-duanya tidak menempuh perjalanan yang sesungguhnya.

Orang kafir, atheis (tidak mengenal Tuhan) maka ia tidak menganggap bahwa perjalanan hidup ini menuju Tuhan, makanya nerakalah tempatnya.

Orang munafik raganya seolah-olah menuju Tuhan, padahal jiwanya tidak sama sekali. Maka ia menuju tempat terbawah dari neraka

Orang Musrik menganggap ada Tuhan selain Sang Pencipta Alam Semesta. Mau tidak mau ia menuju neraka juga.

Nah, ketiga jenis orang diatas tidak akan mungkin sampai kepada Tuhan Sang Pencipta dan surga. Mustahil akan mendapatkan pertolongan_Nya. Bagaimana mungkin sampai, sedang ia berjalan ke arah yang salah... Makanya ketiga jenis orang tersebut tidak akan bahagia selama-lamanya. Barangkali kelihatan senang namun kesenangan sementara dengan mengikuti nafsunya. Berapa jumlah ketiga tipe orang tersebut diatas??? Yang pasti banyak.

Berikutnya tipe orang kebanyakan seperti kita-kita ini yang menempuh perjalanan dengan setengah-tengah, maka kebahagiaan yang dirasakan juga setengah-tengah. Logis ya?

Jiwanya menuju tujuan yang benar. Ia menuju Tuhan, namun raganya tidak. Contoh, sufi. Jiwanya diserahkan kepada Tuhan, sementara raganya disengsarakan. Apakah keadaan merusak badan adalah perintah Tuhan?? Tidak. Jadi kebahagiaan yang dirasakan sufi adalah setengah-tengah atau semu.

Raganya kadang menuju Tuhan kadang tidak, jiwanya juga begitu. Contoh, kebanyakan kita-kita. Kadang khusuk kadang tidak, kadang jujur kadang bohong, kadang baik kadang jahat. Jujurlah

Nah yang terakhir tipe orang yang bahagia. Jiwa dan raganya berjalan menuju Tuhan. Segala aktifitasnya membahagiakan. Susah, senang, miskin, kaya tidak masalah karena hatinya tetap bahagia.

Apakah ini seperti ustadz, ulama, seikh atau semacamnya? Tidak juga, bisa iya bisa juga tidak. Lalu siapa?

Bisa saja ia seorang guru di sekolah. Pekerjaan sebagai seorang yang membagikan ilmu mereka. Dimana mereka memang menyukai pekerjaan tersebut, terlepas berapapun gajinya. Raganya mengajar dengan tulus, demikian juga jiwanya. Semua melakukan pelayanan yang sempurna menjadi manfaat untuk murid-muridnya.

Bisa juga pengusaha. Mau sukses atau tidak itu bukan masalah besar. Karena memang ia menyukai jualan. Enterpreneur adalah tujuannya bukan uang. Kalau sudah menyangkut masalah bisnis maka jiwa dan raganya serasa larut menjadi satu. Memang uang bukan tujuan utama, namun biasanya uang itulah yang akan mengejarnya dimanapun mereka berada. Mereka bahagia karena merasa bisa menjadi manfaat sesama manusia. Karena inilah tujuan diciptakannya manusia yakni menjadi wakil Tuhan dimuka bumi dengan bidangnya masing-masing.

Bisa saja ia seorang petani, nelayan, ustadz, pengacara, atau siapapun juga yang bekerja dengan jiwa dan raga menjadi satu. Satu tujuan dan cita-cita yakni manfaat sesama karena Tuhan memerintahkan demikian adanya.

Bisa juga seorang karyawan yang mencintai bidang pekerjaannya sehingga tidak pernah berpikir untuk korupsi waktu dan uang. Berarti karyawan yang tidak mencintai pekerjaannya tidak masuk kategori ya? Saya tidak mengatakan demikian tetapi itu memang masuk akal. Pasti ada saatnya ia akan mensabotase waktu dan pekerjaannya disaat kejenuhan melanda.

Bagi karyawan yang tidak mencintai pekerjaannya maka terlihat raganya bekerja namun sebenarnya jiwa tidak demikian. Jiwanya merasa tertekan, stress, hampa, jenuh dll. Mengapa demikian? Karena ia telah menjadi robot. Ia disetir oleh sistem. Padahal untuk bahagia maka jiwa dan raga harus menyatu menuju satu tujuan perjalanan.

Cara agar karyawan merasa bahagia ada 2. Yang pertama cintai pekerjaan anda, kalau tidak bisa maka yang kedua keluarlah. Dengarkan suara hatimu maunya apa?? Mau menjadi seperti apa?? Dengarkanlah dan turutilah, maka anda akan bahagia...

Berhubung sudah kepanjangan sampai disini dulu, nanti disambung lagi... Hehehe

Dipersembahkan oleh Magis7, 7 langkah magis meraih kebahagiaan sejati. Kunjungi webnya disini.



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment