Mar 24, 2014

Benarkah Indonesia Butuh Pemimpin Bersih, Jujur, dan Cerdas

Inilah bangsa kita tercinta Indonesia yang sedang dalam proses berdemokrasi. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang bersih, jujur dan cerdas. Pemimpin Indonesia harus yang berjiwa Leadership. Benarkah demikian?? Simak apa kata Bapak Prabowo Subiyanto dewan pembina partai Gerindra berikut ini.



Jakarta - Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto yakin dengan pemimpin yang bersih, jujur, cerdas, dan cinta tanah air, Indonesia bisa mulai bangkit. Bagi Prabowo, saat ini Indonesia menghadapi tanda-tanda menuju negara gagal.

"Saya yakin dan percaya, kuncinya adalah kepemimpinan. Leadership. Saya dulu di tentara belajar sebuah adagium yang berlaku bagi setiap tentara sepanjang sejarah: “There are no bad soldiers, only bad commanders.” Tidak ada prajurit yang jelek. Hanya ada para komandan yang jelek," kata Prabowo menegaskan perlunya sosok pemimpin tegas, menjawab pertanyaan detikcom, Selasa (25/3/2014).

"'Pak Bowo, sekarang bicara yang baik-baik saja. Jangan mengomentari pribadi orang lain. Politik harus santun.' Ya, saya setuju politik harus santun. Tapi, hai, kau pembohong, hai, kau maling," kata Prabowo seusai deklarasi pencalonannya oleh Indonesia Bisa di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Sabtu, 22 Maret 2014.  (Tempo.com)

Kata-kata Pak Prabowo diatas menyinggung salah satu kandidat capres kuat lainnya. Siapa yang disinggung ya?

 
Ilustrasi pemimpin tegas

Kita tidak sedang berbicara singgung menyinggung disini, hanya mencoba mengulas kembali sosok pemimpin yang baik bagi bangsa Indonesia. Sebuah bangsa besar namun kehilangan kebesarannya dikarenakan berbagai bencana baik bencana birokrasi akut seperti Korupsi, kolusi dan nepotisme maupun bencana alam dalam arti yang sesungguhnya. Lihat saja apa yang terjadi pada ujian berat yang harus dihadapi bangsa ini. Belum hilang bencana tsunami aceh, gempa jogja, letusan gunung Merapi, banjir bandang menado, jakarta dan bencana-bencana dipenjuru tanah air.

Pertanyaannya simpel saja... Mengapa bisa demikian??? Siapa yang salah???

Kalau kita berbicara tentang sosok pemimpin yang baik apakah harus mempunyai jiwa leadership, bersih, tegas, jujur dan cerdas?? Tentu saja benar... 
  • Jiwa leadership diperlukan ketika ada sebuah permasalahan yang membutuhkan ketegasan seorang pemimpin. Kharakter mampu memutuskan sebuah keputusan besar demi kebaikan rakyat. Menjadi tidak benar ketika kita sok kuasa, sok memerintah, sok hebat dll
  • Demikian juga kecerdasan yang sangat diperlukan guna memutuskan permasalahan yang membutuhkan analisa-analisa yang dalam. Menjadi tidak benar ketika kita merasa pintar, pandai, cerdas dll.

Kecerdasan pikiran yang sesuai koridor hanya persyaratan akademis atau intelektual bagi pemecahan sebuah permasalahan bangsa. Ada satu yang dilupakan oleh pemimpin kita. Satu hal yang dilupakan dimana hal inilah pioneer bagi adanya bencana demi bencana silih berganti. Apakah itu??? Perhatikanlah....

Ia adalah kecerdasan hati... 
  • Dinegara yang besar ini berapa banyak orang yang berjiwa leadership sejati?? Tak terhitung jumlahnya
  • Berapa banyak yang mempunyai kecerdasan diatas rata-rata? Banyak sekali
  • Berapa banyak yang mempunyai ketegasan luar biasa? Jutaan
  • Berapa banyak yang bersih dan jujur? Inipun sangat banyak

Jadi tak terhitung rakyat indonesia yang mempunyai kualifikasi sebagai pemimpin jika parameternya adalah kecerdasan pikiran. Jujur dan bersihpun didominasi oleh pikiran juga, tetapi kecerdasan hati dinegeri ini adalah barang yang mahal harganya. Kecerdasan hati yang umum adalah kebaikan seperti
  • Suka menolong orang lain karena dengannyalah kita akan ditolong Tuhan
  • Memelihara keseimbangan alam karena dengannyalah kita akan dipelihara Tuhan
  • Memberi kepada orang lain karena dengannyalah kita akan diberi Tuhan
  • Menghargai orang lain karena dengannyalah kita akan diangkat derajadnya oleh Tuhan
  • Memiliki empati yang dalam terhadap saudaranya yang kekurangan karena inilah perintah Tuhan
  • Dan sebagainya. 

Inilah yang jarang dilakukan oleh komponen bangsa. Kita lebih suka membuka aib orang lain, menghina dan menjelekkan orang lain, kikir dengan apa yang kita miliki dan sifat-sifat egoisme lainnya. Tidak peduli ia adalah ulama/ ustadz/ pendeta dll jika mengedepankan kekerasan hati maka ia telah jauh dari pamahaman kecerdasan hati. Bisa jadi mereka mengatakan dekat dengan Tuhan, tetapi pada hakikatnya jauh. Wallahu A'lam

Dan kecerdasan hati terdalam adalah kecerdasan diatas logika manusia. Ia mengenai pemahaman sebuah masalah bangsa yang disandarkan dari nurani yang ber Tuhan. Kadangkala mata hati bisa melihat tanpa melihat, mendengar tanpa mendengar, memahami tanpa mengerti. Kecerdasan yang disandarkan kepada Tuhan. Kalau sudah begitu kecerdasan Tuhan lah yang bekerja untuk bangsa.



Ilustrasi Pemimpin yang merangkul dengan hati

Misalnya begini...
  • Banjir, tsunami, gempa, gunung meletus disebabkan akar masalahnya adalah manusia yang suka berbuat kerusakan dimuka bumi. Hal ini menyebabkan adanya teguran Sang Pencipta alam semesta, Dialah sebab dari segala sebab
  • Korupsi disebabkan karena sikap mental yang hedonisme. Maka bencana-demi bencana birokrasi menjadi seperti mata rantai yang terus menerus.

Muaranya hanya satu, mereka sudah egois dan melupakan Sang Pemberi Hidup, Pemberi Nikmat dan Karunia. Falsafah manusia berusaha Tuhan memutuskan sudah dilupakan dan diganti dengan manusia berusaha dan manusia pula yang menentukan. Inilah bentuk kesombongan terbesar yang berujung kepada bencana silih berganti. Maka diberikanlah sebagian azab dunia agar supaya kita mau kembali kepada jalan yang benar.

Maka ijinkanlah kami memberikan sedikit saran kepada anda. Pemimpin yang cerdas, tegas, leader, bersih dan jujur itu banyak. Sampai kapanpun permasalahan bangsa tidak akan selesai jika kita berkeras hati menggunakan kecerdasan pikiran dan menomor duakan, atau bahkan melupakan Tuhan. Maka pilihlah pemimpin yang mempunyai kecerdasan hati yang dalam. Dia yang mempunyai empati, kasih sayang, ketulusan, kebaikan, rendah hati dan merakyat. Karena kebaikan hati tersebut menandakan dia dekat dengan Tuhan Sang Pencipta. Kalau sudah begitu Insya Allah nasib bangsa ini akan membaik, karena sang pemimpin sudah berkolaborasi dengan Tuhan, maka kecerdasan_Nya lah yang akan menjadi solusi jitu bagi bangsa tercinta..

Oleh: Adhin Busro



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment