Mar 26, 2014

Bahaya Menilai Keburukan Orang/ Prasangka

Gampang sekali menilai orang lain, padahal namanya manusia ada kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mudah mencari celah kesalahan orang lain padahal diri sendiri dijamin juga banyak kekurangan. Semua manusia sama, disatu sisi ada keunikan yang menyebabkan ia berbeda dan mempunyai kelebihan tertentu, disisi lain tidak akan luput dari yang namanya kesalahan. Plus minus...

 

Maka yang paling bijaksana adalah melihat kedalam relung hati pribadi dahulu sebelum menilai kekurangan orang lain.

Ada pembicaraan menarik antara Zul dan Preng. Zul adalah temannya Preng. Ini pembicaraan santai namun serius

Zull   : A
Preng: B

B: Sombong Pak, saya gak nyangka ternyata benar dugaan saya lain dimulut lain dihati
A: Sombongnya dimana Preng?

B: Bukan saya yang Bapak tanya...!!!
A: Kalau saya biasa saja preng

B: Yang pasti saya sudah tahu ternyata begitu
A: Sudahlah, saya tidak mau berdebat. Gini Preng... Yuk kita belajar mengendalikan diri ini. Hidup itu belajar menjadi lebih baik bukan belajar menilai dan mencari celah kesalahan orang lain. Bukan begitu?

B: Tapi orang dikatakan baik itu hasil penilaian orang Pak
A: Karena memang kebiasaan kita suka menilai orang lain. Tapi gak papa, itu pilihan dan hak masing-masing

B: Itulah Indonesia Pak
A: Khan lebih baik fokus memperbaiki diri sebelum menilai orang lain. Manusia mah nggak ada yang sempurna. Kalau dicari-cari pasti ada kekurangan dan kesalahannya. Pasti itu..
B: Kalau ketemu kesalahannya berarti untuk perubahan Pak...!!!
A: Ya betul, terimakasih sudah mengingatkan

B: Berarti kita butuh orang-orang yang menilai atau memperhatikan kita Pak
A: Kau lah orangnya... Ntar kalau sibuk menilai orang lain malah lupa sama diri sendiri lho?
B: Kan, yang menilai kita orang lain Pak...
A: Saling menilai dong? Ah malas saya Preng

B:Yang pasti sampai saat ini saya masih mengingat semua orang-orang yang saya kenal, gak pernah melupakan mereka
A: Kalau aku silahkan orang menilai, pro kontra sudah biasa. Kerja salah apalagi tidak kerja
B: Semakin kita diperhatikan berarti semakin besar harapan orang itu kepada kita

A: Aku rapopo dinilai apapun
B: Justru saya paling senang dinilai karena itu akan membuat suatu hasil yang terbaik buat saya..

A: Ya bagus itu. Tetapi pengalaman kebanyakan yang ngomong seperti itu didepan saya, tapi giliran dikritik ujungnya berantem.
B: Biasa itu Pak. Kalau dikritik ya membuat sedikit perlawanan

Dan seterusnya.... Semakin lama semakin hangat, menuju panas dan ujungnya ada gesekan..

Saya ada kisah nyata ke dua dimana ceritanya tentang sampah. Pada suatu saat Bu Budi (Bukan sebenarnya) membuang sampah dikalli dekat dengan perumahan yang ditinggali oleh Bu Andi (Bukan sebenarnya). Sialnya kepergok sama Bu Andi sehingga terjadilah percekcokan Ibu-ibu

"Kamu itu asal buang sampah sembarangan, yang kena getahnya saya, yang kena belatungnya saya" Kata Bu Andi marah
"Ya, ini saya ambil lagi, maaf" Kata Bu Budi
"Karena ketahuan makanya Elo minta maaf" Semprot Bu Andi

Masalah selesai sampai disitu karena Bu Budi sudah meminta maaf. Sepertinya sih begitu. Namun beberapa hari kemudian timbul berbagai prasangka, ghibah, gunjingan dll yang menurut saya diluar batas. Bu Budi tidak terima perlakuan Bu Andi, makanya dia membuat sebuah makar.

Begitulah....

Semua dimulai dari mana? Dari prasangka yang buruk.. Kalaupun prasangka itu benar dinamakan ghibah, kalau salah namanya fitnah.

Makanya Zul berbicara dan menjawab pertanyaan Preng dimana ia tidak menyukai menilai orang lain. Lebih baik menilai diri untuk kemudian mengadakan perbaikan.

Padahal prasangka tidak sedikitpun mendatangkan kebaikan, jangan suka menilai orang lain hanya dengan prasangka dalam dada. Berapa banyak terjadi gesekan yang bermula dari prasangka.

Dalam Surat Yunus (10) ayat 36. Allah SWT berfirman, “Prasangka itu tidak mendatangkan kebenaran apapun.”

Firman serupa ditegaskan kembali dalam Surat An Najm (53) ayat 28. Kemudian dalam surat Alhujurat (49): 12, Allah SWT juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah memperbanyak prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa“. Dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menegaskan, “Takutlah kalian berprasangka, karena ia merupakan sedusta-dusta perkataan.”



Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment